Selasa, 04 Oktober 2011

Kisah Pegawai Pajak menolak Korupsi

Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalang kabut akibat prinsip hidup [anti] korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan. Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung. Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsip satu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya.

 Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram. Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi.

 
Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak.
Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.

 Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.

 Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti inI seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.

 Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalau saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan.
Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku sambil membawa anak-anak.

 Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat rugi.
Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnya kalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.

 Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya satu-satunya anggota tim yang menolak dan meminta agar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat tidak ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor.
Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan.

 Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabat dan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik. Saya katakan, "Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi?" Kemudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu, kecuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap. Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau.
Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur.  Ia lalu mengatakan, Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai, katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah, amplop-amplo itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.

 Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi. Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian! Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas.

 Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir.
Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun. Saya mau bcara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahua'lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah.

 Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana? Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, kenapa tidak bilang-bilang? ? Saya sampaikan karena tidak sempat saja.
 Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.

 Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.

 Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa. Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi.
Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda.. Uang setan ya dimakan hantu! Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.

 Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu. Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jum'at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum'atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga. Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan  sebagainya. Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur'an. Tetapi mereka sulit berubah.

 Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.

 Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN. Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.

 Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup yang bersih.
Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takutmenggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan (matanya berkaca-kaca) .
 
Best Regard
diceritakan oleh Bambang S

Belajar Tabah Bersama Maria



            Bulan Mei (dan juga bulan Oktober) merupakan bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat Katolik untuk mengadakan devosi kepada Bunda Maria. Banyak aktivitas rohani dan devosional yang dilakukan baik secara pribadi maupun dalam kelompok dalam kehidupan gerejawi selama bulan ini.Sedut saja doa Rosario dan ziarah ke gua Maria. Bunda Maria sebagai tokoh rohani dan juga sebagai seorang ibu telah mendapat hati  bagi orang beriman Katolik, mulai dari anak-anak sampai orang tua, mulai kalangan sederhana hingga kalangan borjuis. Maria sudah menjadi nafas kehidupan umat beriman. Hampir disetiap rumah orang katolik terpajang gambar dan patung Bunda Maria. Banyak orang dan juga  calon Baptis memakai nama Maria. Tentu saja itu beralasan, mereka berharap menjadi serupa dengan Bunda Maria. Singkatnya, Maria sungguh menjadi model hidup beriman, bahkan menjadi sumber inspirasi dalam hidup beriman.
Bunda Maria adalah seorang wanita yang taat, tabah, sederhana, setia, mau mendengar. Seorang yang penyabar, tulus hati, penuh sukacita, pendamping dalam cobaan, murah hati, rendah hati, pendoa. Maria juga adalah seorang yang solider dan peduli pada sesama. Dan  masih banyak  deretan keteladanan Maria yang bisa kita temukan dalam hidup sehari-hari. Bahkan bisa menjadi sebuah litani. Dan salah satu yang patut kita renungkan adalah Ketabahan Maria.
Ketabahan ! Apa itu ?
            Ketabahan merupakan satu dari tujuh keutamaan Kristiani. Ketabahan berarti berdiri teguh dalam pengharapan melawan semua bentuk tekanan yang membuat putus asa, bahkan dalam menghadapi kematian. Dalam saat-saat menderita, merasa hampa dan tidak pasti.  Ketabahan memberi kekuatan untuk melawan rasa takut.  Dalam Injil, Yesus mendorong para pengikut-Nya untuk berani dan tidak takut.  (Bdk Mat 10:28-31). Konon kata-kata “Jangan Takut” ada 360 kali dalam Kitab suci. Itu artinya setiap hari kita diundang untuk tidak takut, bahwa Tuhan menyertai kita. Ketabahan memampukan kita untuk berani memikul penderitaan dan mengatasi ketakutan yang sering membelokkan kita dari pengejaran tujuan-tujuan hidup baik sebagai manusia dan sebagai orang Kristen.
            Ketabahan bukan sekedar keberanian secara fisik, melainkan juga mencakup keberanian moral dan spiritual yang memampukan kita untuk tahan terhadap penolakan orang lain. Ketabahan juga meliputi kesabaran dan ketekunan yang dibutuhkan untuk tetap setia pada panggilan kita. Ketabahan  adalah keutamaan yang memampukan kita untuk setia pada sumpah, janji dan komitment-komitment kita. Ketabahan merupakan keutamaan yang memungkinkan kita untuk menjalani hidup dan iman kita secara murni dan mantap.  
Menjadi Tabah .  Siapa takut ?
            Ada bermacam-macam alasan mengapa orang bisa tabah menghadapi tantangan dan beban hidup yang berat.
Pertama, adanya keyakinan bahwa Tuhan selalu menyertai  dan menguatkan hidup mereka. Tuhan itu dekat, berjalan bersama mereka, bahkan ikut memanggul beban salib hidup mereka.  Karena penyertaan Tuhan, maka orang menjadi kuat memanggul salib. “Datanglah padaku kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, maka Aku akan memberikan rasa lega kepadamu”. Yesus sendiri mengalami beban berat dan tabah menjalaninya. Maka pantaslah bila kita datang kepada-Nya, menimba kekuatan dari pada-Nya. “Serahkanlah kekhawatiranmu kepada Tuhan, maka ia akan memelihara kamu” (Mzm 55:2)
Kedua, orang menjadi tabah karena pengalaman hidup. Pengalaman bahwa selalu ada orang yang menyertai pergulatan hidup kita, merasa tidak sendirian.  Setiap kali ada persoalan berat, selalu saja ada orang yang memberikan jalan keluar, entah itu saudara, teman , atau situasi. Maka, sangatlah penting bagi kita untuk selalu merefleksikan seluruh pengalaman hidup kita.  Bagaimana kita bangkit menghadapi beban hidup kita.
Ketiga, adanya keyakinan , bahwa beban hidup itu tidak pernah melebihi kekuatan mereka.  Keyakinan itu didapat dari pengalaman yang menunjukkan bahwa setiap kali ada beban berat, akhirnya teratasi juga. 
Keempat, orang menjadi tabah karena adanya dukungan dari keluarga. Dukungan doa dari keluarga, membuat seseorang merasa dekat dengan keluarga dan menguatkan seseorang untuk tetap tabah. Dan tentu masih ada deretan alasan  yang lain.
BAGAIMANA DENGAN ANDA ? APAKAH ANDA MASUK DALAM KATEGORI INI ? ATAU JUSTRU ANDA SERING TIDAK BISA TABAH ?

Tidak bisa tabah? Kenapa…?
Ada orang yang bisa tabah menghadapi beban dan penderitaan hidup, namun ternyata ada juga yang sering tidak tabah. Ada beberapa alasan mengapa orang sering tidak tabah. Pertama, takut gagal. Pengalaman kegagalan dalam hidup menjadikan  seseorang  takut untuk menghadapi situasi baru. Takut untuk memulai yang baru. Selalu mundur dan menyatakan menyerah sebelum berperang.
Kedua, orang sering menjadi tidak tabah karena merasa sendirian menghadapi beban hidup. Merasa sendiri bisa terjadi karena tidak adanya dukungan dari orang lain. Bahkan, karena tidak adanya keyakinan bahwa Tuhan menyertai pergulatan hidupnya.
Ketiga, orang sering tidak tabah karena tidak pernah terlatih dan dilatih untuk menghadapi persoalan hidup yang berat.  Ini tantangan bagi para orang tua, untuk tidak memanjakan putera-puterinya. Pengalaman dimanja, dan tidak adanya pengalaman menyelesaikan masalah menjadikan seseorang tidak bisa tabah. Orang seperti ini, harus ditantang terus-menerus dan dilatih menghadapi setiap persoalan hidup, juga dilatih untuk menerima kegagalan.
BAGAIMANA DENGAN ANDA  ? MENGAPA ANDA MENJADI PRIBADI YANG LOYO ?PERNAHKAH ANDA DATANG DAN MENIMBA KEKUATAN DARI YESUS?
Tabah seperti Maria
            Secara sepintas tidak ada yang istimewa dalam kehidupan Maria. Sebagai manusia , ia pernah lahir, hidup dan berkembang.  Ia pernah mengalami masa kanak-kanak , berpikir dan bertindak seperti anak-anak. Pasti juga mengalami masa remaja,  dan mengalami  masa dewasa, dimana harus memberikan putusan atas pilihan hidupnya. Kitab Suci pun tidak memberikan banyak informasi mengenai Maria. Setidaknya Kitab Suci menampilkan Maria dalam tiga tahap hidup Yesus ; pada masa perkandungan Yesus, masa kelahiran Yesus, dan pada masa dewasa Yesus.
Hanya satu yang membedakan dia dari orang pada umumnya. Bukan karena ia mengandung, melahirkan, menyusui dan mengasuh Yesus,  melainkan karena ia menjalani hidupnya yang biasa secara luar biasa. Sekali ia berkata Ya terhadap panggilan Allah, ia memperjuangkannya untuk selalu tetap setia. Pilihan menjadi Bunda Allah bukan tanpa resiko. Maria sebagai sebagai seorang visioner tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Dia tahu akan mengalami penderitaan  bersama Putera-Nya.
Tidak ada kehidupan tanpa penderitaan. Penderitaan selalu ada dan menyatu dalam kehidupan manusia. Ketika lahir, manusia ditarik keluar dari rasa aman, damai, tenang dan terlindung. Ditandai dengan rasa sakit, dan mengalirnya darah. Selanjutnya manusia , setelah dapat menggunakan akal budinya, selalu akan konflik antara keinginan dan kenyataan.
Dalam kehidupan bersama, manusia pasti berbenturan akan kepentingan pribadi dan kepentingan sesama. Berhadapan dengan alam manusia akan mengalami sakit –penyakit, bencana. Dan itu dialami pula oleh Maria. Maria pun juga mengalami penderitaan dalam hidupnya. Namun dia tidak  pernah mengeluh, melainkan tabah meskipun hatinya hancur dan remuk saat memangku jenasah Yesus.
Mengapa Maria bisa tabah ? Kesadaran Maria,  karena panggilan untuk menjadi Bunda Allah melulu karena karunia Allah, maka hidupnya bukanlah miliknya pribadi, melainkan milik Allah. Karena Maria adalah milik Allah, lalu ya terserah Allah ; Allah mau berbuat apa dengan hidupnya.  Itulah yang membuat Maria bisa tabah menjalani panggilan hidupnya.
Spiritualitas Maria adalah spiritualitas fiat: terjadilah padaku menurut perkataan-Mu. Ini adalah spiritualitas relasional. Maria menjadi pribadi karena pemberian dirinya. Tuhan memberikan janji-Nya, dan Maria pasrah pada janji itu dalam seluruh hidupnya, karena itu ia mencoba menangkap apa yang terjadi pada hidupnya sebagai kehendak Allah. Dimulai dengan janji Tuhan waktu pewartaan kabar gembira , Maria teguh memegangnya  sepanjang hidupnya sampai pada akhirnya.
Bagaimana dengan kita? Justru kalau kita bisa melihat hidup kita adalah milik Allah, maka tidak ada alasan bagi kita untuk menolak rencana dan kehendak Allah dalam hidup kita. Rencana Allah pasti lebih baik bagi kita ? Tentu saja sejauh kita berani menerima penderitaan sebagai resiko atas pilihan kita  dalam kehidupan ini dengan sikap tabah ,  tanpa mengeluh, seperti Bunda Maria. (Ded’s)

Kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia (Flp 1:29)

MARIA MODEL KEPASRAHAN HIDUP




Sebagai manusia, Maria tentu saja pernah lahir, hidup, berkembang, dan akhirnya meninggal. Proses kehidupan di dunia dialami dan dijalaninya seperti umumnya manusia biasa. Ia pernah menjadi anak-anak,  berpikir dan bertindak seperti anak-anak ;mengalami masa remaja, memilih, menilai, dan memutuskan berbagai hal mengenai hidupnya. Dan akhirnya menjadi dewasa, berjuang dan menghidupi pilihan hidupnya.
            Sepintas tidak ada yang istimewa dalam kehidupan Maria. Ia seorang perempuan. Bertunangan dan menikah dengan seorang laki-laki. Ia membina hidup berkeluarga dan melahirkan seorang anak. Ia seorang ibu. Ia bergaul dengan saudara-saudarinya. Hidup bertetangga seperti biasa. Seorang yang biasa, mungkin juga tidak terlalu terkenal karena tidak punya jabatan tinggi, dan tidak kaya namun  juga tidak berkekurangan.
            Hanya satu yang membedakan dia dari orang pada umumnya. Bukan terutama karena ia pernah melahirkan Yesus,menyusuiNya, mengasuhNya atau sejenisnya (Luk 11:27-28). Ia menjalani semua yang biasa  dan sederhana itu dengan cara yang luar biasa dan tidak sederhana. Ia menjalaninya sebagai ungkapan nyata dari imannnya. Sekali ia berkata YA kepada kehendak Allah, ia berjuang untuk tetap setia sampai akhir hidupnya. Yang diucapkan dengan mulut, diyakini dalam hati dan diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata.
            Dengan  ucapan “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah kehendakMu pada diriku”, Maria mau berpasrah kepada Tuhan. Dengan spiritualitas fiat nya ini,  dalam peristiwa-peristiwa hidupnya,  tampak kesediaan Maria untuk menerima, memelihara, dan memberikan apa yang telah diterima-Nya dari Allah. Menerima, memelihara dan meneruskan rahmat Allah itulah tiga unsur yang menopang spiritualitas fiat-nya. Dalam spiritualitas itu, termaktub tiga keutamaan dasar Kristiani : iman , harapan , dan cinta. Menerima janji dan panggilan Allah adalah iman. Memelihara dengan setia janji itu dalam hidupnya adalah harapan. Dan , meneruskan atau memberikan buah dari janji itu kepada sesama adalah cinta. 


Model Kepasrahan Hidup
Ø  Kepasrahan Parsial
 e         Kepasrahan parsial tampak dalam diri orang yang pasrah tetapi tidak penuh. Dalam hidupnya, orang ini sudah berpasrah tapi tidak total. Ia kurang berpasrah karena ragu-ragu dengan orang lain, tidak percaya pada kemampuannya. Misalnya, seseorang dengan berpakaian butut berpergian dengan travel. Di tengah jalan mobil mogok. Sopir sudah berusaha mengatasinya tetapi nihil. Orang tersebut mau bantu. Tapi karena pakaiannya butut, orang menertawakannya. Penumpang yang lain tidak percaya. Apa yang terjadi ? mobil itu dapat berjalan dan sampai tempat tujuan.
Kepasrahan parsial juga dapat timbul dari faktor orang lain. Misalnya, ketika seseorang  tidak yakin dengan dokter dan menanggapinya dengan setengah hati, obat dari dokter itu pun tidak dapat menyembuhkannya.
Bangsa Israel pun menerima Allah dengan parsial. Allah yang begitu baik, Allah yang begitu mencintai tetap ditolak oleh bangsa Israel. Atau ketika Yesus  berkotbah dengan baik mereka berkata , “Bukankah Dia itu anak Maria, dan Yusuf si tukang kayu?” (Mrk 6:3).


Ø  Kepasrahan Temporal

 Dalam hidup ini sering terjadi kita berpasrah tetapi hanya temporal (hangat-hangat tahi ayam). Misalnya ketika anak-anak memasuki masa ujian, banyak orang tua yang berpasrah pada Bunda Maria. Maka, setiap hari mereka berdoa di depan patung Bunda Maria dengan 10 lilin. Tetapi setelah ujian selesai, dan anaknya mendapat nilai bagus, mereka melupakan Sang Bunda.  Bunda Maria hanya  dikunjungi bila orang ingin naik pangkat, ingin mendapatkan jodoh, ingin lulus, ingin sembuh dari penyakit dan lainnya. Tetapi setelah doanya dikabulkan, Bunda Maria dilupakan. Patung Bunda Maria yang tadinya penuh dengan lilin, sekarang kosong. Ini yang disebut kepasrahan temporal.

Ø  Kepasrahan Total
Kata total berasal dari bahasa Latin “totus” yang berarti seluruhnya, utuh, tidak setengah-setengah. Ketika Yesus disalibkan, Dia bersabda “Ya Bapa, kedalam tangan Mu, Kuserahkan nyawaKU” (Luk 23:46)
Dalam hidup ini orang yang pasrah secara total akan secara penuh mempersembahkan diri kepada kehendak Tuhan. Imannya sudah mantap dan tidak tergantung pada orang lain. Ia percaya, bahwa Tuhan lah yang selalu menolong hidupnya.
Pasrah kepada kehendak dan rencana Tuhan bukanlah hal yang mudah, terlebih bila kehendak Tuhan dirasa tidak cocok dengan keinginan kita.  Kita sebagai manusia cenderung mencari keinginan kita sendiri. Maka menjadi berat bila kehendak Tuhan bertentangan dengan kehendak kita.
Berpasrah adalah sikap menerima kehendak Tuhan, mendahulukan kehendak Tuhan dalam hidup kita, juga bila kehendak itu berat. Berpasrah kepada Tuhan lebih pada menyerahkan seluruh hidup kita : pikiran, kehendak, niat, perbuatan, dan keadaan kita kepada Tuhahn sendiri. Dalam kepasrahan itu kita percaya bahwa Tuhan selalu menyertai hidup kita. maka jalan yang dipilih dalam mengatasi segala persoalan hidup adalah jalan Tuhan yang benar dan adil.
Maria adalah model kepasrahan hidup.  Akibat kepasrahan itu, Maria dapat selalu lebih tenang menghadapi persoalan  dan gejolak dalam hidup. Ia menjadi lebih tabah dalam penderitaan sehingga dapat membantu orang-orang lain yang sedang mengalami percobaan dan godaan hidup. (Ded’s)

Refleksi :
  1. Apakah aku mudah berpasrah kepada Tuhan ?
  2. Kepasrahan model apa?
  3. Apa yang biasa aku lakukan untuk lebih berpasrah seperti Bunda Maria ?
  4. Apakah devosi kepada Bunda Maria (novena, ziarah, Rosario) membantuku untuk meneladan kepasrahan Bunda Maria ? Jelaskan !

MENGHAYATI DEVOSI YANG SEHAT





Doa Rosario yang telah hidup selama berabad-abad merupakan salah satu bentuk ‘devosi’ yang popular kepada Maria. Bersama Bunda Maria kita mengetuk pintu hati Tuhan agar Ia berkenan melimpahkan rahmatNya kepada kita. Kelihatannya doa ini sederhana, tetapi mampu mengetuk pintu hati Tuhan dan mendatangkan rahmat bagi pendoanya.
        Devosi berasal dari bahasa latin devotio (kata kerjanya devovere) yang berarti penyerahan diri, penghormatan, pengabdian. Devosi pertama-tama soal batin, soal hati yang mau menyerahkan diri kepada Tuhan, mau mengabdi-Nya dan menghormati-Nya melalui para kudus-Nya, seperti Bunda Maria.
Beberapa syarat devosi yang patut diperhatikan :
Pertama, Devosi hendaknya ditempatkan dalam keseluruhan iman Gereja yang benar. Praktik devosi yang begitu mengagungkan  Bunda Maria sampai-sampai menggeser Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus tentu bukan praktik devosi yang sehat. Ada orang yang begitu mantapnya berdoa kepada Bunda Maria, hingga sama sekali tidak menyebut nama Tuhan atau Allah. Doa kepada Maria seperti ini tentu kurang tepat, misalnya : “Ya Bunda Maria, engkaulah sumber segala rahmat, kabulkanlah doa kami. Engkaulah yang kudus dari yang terkudus, engkau tanpa doa, maka ampunilah dosa kami dan kasihanilah kami, para putera-puterimu ini.” Dari situ Maria sudah setara dengan Tuhan, karena ia disebut sumber segala rahmat, yang kudus dari yang terkudus, berkuasa untuk mengampuni dosa, dst. Penghormatan kita kepada para kudus, termasuk kepada Bunda Maria, harus dalam jalur iman Gereja yang benar, yakni sebagaimana diimani para rasul seperti tampak dalam kitab suci dan ajaran Gereja.
Kedua, Devosi hendaknya juga harus ditempatkan dalam liturgi gereja. Devosi bukan liturgi resmi. Devosi atau olah kebatinan tidak setara tingkatnya dengan liturgi, tetapi sangat dianjurkan karena  mempersiapkan dan membantu orang untuk dapat berliturgi dengan hati dan perasaannnya. Keunggulan devosi dibandingkan dengan liturgi  resmi adalah tekanannya pada segi afeksi yang menyentuh perasaan dan hati orang. Sementara itu rumusan doa devosi sederhana dan mudah. Lihat saja rosario. Praktis doa ini mengulang-ulang doa Bapa Kami, dan terutama Salam Maria. Tetapi banyak orang suka karena mudah, tetapi juga menyentuh perasaan. Namun , ada orang yang lebih mengutamakan devosi daripada liturgi. Misalnya saat misa kudus, orang berdoa rosario, lalu diteruskan litani, tanpa mau ikut berpartisipasi aktif dalam misa. Lalu, pada saat komuni ia maju menerima komuni. Nah, ini tidak tepat. Nilai misa kudus bagaimanapun juga lebih tinggi dari doa rosario.
Ketiga, Devosi harus dijauhkan dari sikap magis. Sikap magis ini tampak apabila orang begitu memutlakkan barangnya, tandanya, rumusan doanya, jumlah angkanya, kegiatan-kegiatan lain yang menyertainya, namun lalu malah menggeser Tuhan sebagai yang tidak pokok. Mestinya terkabulnya doa tergantung pada Tuhan saja. Tetapi, orang lebih meyakini bahwa doanya akan terkabul apabila ia mendoakan rumusannnya secara persis, dengan titik dan komanya, atau mendoakannya pada jam-jam tertentu atau pada tempat-tempat tertentu.
Keempat, Devosi harus dijauhkan dari mentalitas do ut des. Artinya aku memberi agar aku diberi atau mendapat sesuatu. Ini adalah mentalitas pamrih, mentalitas bisnis atau pedagang. Berpuasa, bertirakat, bermatiraga boleh dan baik. Menjadi tidak baik  apabila kita lakukan dengan motivasi utnuk memaksa Tuhan agar Tuhan seolah-olah berutang budi kepada kita. Atau Tuhan baru mau mengabulkan  doa permohonan kita apabila kita mau membayarnya dengan laku matiraga kita. Ini pandangan yang keliru. Laku matiraga itu baik dan perlu untuk kehidupan rohani kita, tetapi jangan dilakukan dengan semangat do ut des. Laku matiraga kita lakukan lebih untuk mendisiplinkan diri kita pada pengolahan diri dan hidup kita agar kita terbantu dan disiapkan untuk meyerahkan diri kepada Tuhan dan kehendakNya.
Bentuk devosi kepada Bunda Maria bermacam-macam. Ada novena, rosario, ziarah, doa di depan patung atau gambarnya. Marilah kita berdevosi kepada Bunda Maria namun dalam semangat devosi yang sehat dan benar.

The Pencil Parable


Pada awal mulanya, Sang Pembuat Pensil berkata: Ada lima hal penting yang harus engkau ketahui. Tetap ingat semua hal itu. Dan engkau akan menjadi pensil yang terbaik yang pernah ada . Pertama,  Kamu akan dapat mengerjakan banyak hal penting, tapi hanya jika kamu membiarkan diri digunakan di tangan seseorang .
Kedua, Engkau akan mengalami sakitnya diruncingkan dari waktu ke waktu. Tapi hal ini sangat penting untuk kelangsunganmu.
Ketiga, Engkau mempunyai kemampuan untuk membetulkan setiap kesalahan yang pernah engkau buat.
Keempat, Bagian yang terpenting dalam dirimu adalah bagian dalammu.
Kelima,  Tidak jadi soal apa pun kondisinya, engkau harus tetap menulis. Engkau tetap harus tetap meninggalkan goresan yang tajam, jelas, dan terbaca entah bagaimana pun sulitnya keadaan.
Si Pensil mengerti, dan berjanji untuk mengingat apa yang dipesankan oleh Sang Pembuat-Nya.
Sekarang, gantikanlah tempat si Pensil. Ingatlah lima hal penting itu. Jangan dilupakan. Dan Anda akan menjadi pribadi yang paling mempesona di sepanjang zaman.
Pertama, Izinkan pribadi lain masuk dan menggunakan talenta Anda.
            Kedua, Anda akan mengalami sakitnya rasa akibat bertemu dengan bermacam orang dan masalah. Tapi karena itu semua Anda akan menjadi orang kuat dan tabah.
Ketiga, Anda masih dapat berubah dan menghapus kesalahan Anda jika Anda mau.
 Keempat, Kedalaman hidup Anda adalah bagian yang terpenting dalam hidup Anda.
Dan kelima,  Dalam setiap langkah kehidupan, Anda harus meninggalkan jejak Anda. Tetap melangkah maju dengan pengharapan

Kamis, 29 September 2011

AKU PERCAYA AKAN ROH KUDUS

Salah satu Ungkapan Iman Kita dalam Credo 

            Apakah kita sering berdoa kepada Roh Kudus ? Harus diakui bahwa kita jarang berdoa kepada Roh Kudus. Kalaupun berdoa, barangkali kita mendoakan doa-doa resmi seperti Kemuliaan (doxologi), novena Roh Kudus, veni creator (Datanglah Roh Pencipta). Doa-doa spontan dan pribadi lebih sering kita tujukan kepada Allah Bapa, Yesus Kristus, dan bunda Maria. Pribadi Roh Kudus seakan jauh sekali dari kita.
            Iman Gereja akan Roh Kudus terungkap dengan jelas dalam credo para rasul dan credo panjang yang berasal dari syahadat Nikea-Konstantinopel. Syahadat dibagi ke dalam tiga bagian menurut iman Gereja akan Allah Tritunggal, yaitu Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Jadi, iman Gereja kepada Roh Kudus dirumuskan dalam bagian ketiga.
            Bagian ketiga syahadat panjang kita awali dengan rumusan iman :”Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan”. Kata “Tuhan” yang dikenakan pada Roh Kudus menunjuk kepada keallahan Roh Kudus. Artinya Roh Kudus itu juga Allah. Roh Kudus bukan sekedar karunia kehidupan, melainkan yang memberi kehidupan. Ia adalah Tuhan yang menghidupkan. Ia tidak dijadikan atau diciptakan oleh Bapa, maka Ia bukan ciptaan, melainkan Ia keluar atau berasal dari Bapa sebagaimana dikatakan Yoh 15:26. Karena Roh Kudus itu juga Allah,maka Ia juga disembah dan dimuliakan. Sebab, tindakan penyembahan dan pemuliaan dalam tradisi biblis dan teologis selalu dimengerti sebagai tindakan yang hanya ditujukan kepada Allah.
            Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pribadi Roh Kudus, kita dapat merenungkan nama-nama yang digunakan untuk menyebut Roh Kudus dan lambing-lambang yang digunakan untuk menggambarkan-Nya.
“Roh Kudus” adalah nama yang diberikan kepada pribadi ketiga dalam Tritunggal Mahakudus oleh Yesus sendiri (Mat 28:19). Dia adalah napas Allah yang memberikan kehidupan. Dia juga disebut “Paracletus” karena Dia merupakan pembela kita di hadapan Bapa. Dia disebut “Roh Kebenaran” karena Dia merupakan sumber kebenaran dan mewahyukan semua kebenaran lewat para murid Yesus, dengan mengingatkan mereka “segala sesuatu yang diajarkan oleh Yesus.”
            Lambang-lambang yang digunakan untuk melukiskan Roh Kudus diantaranya adalah air (sebagai lambing hidup baru), api (tenaga yang mengubah), awan dan cahaya (suatu kemuliaan,kadang-kadang terselubung,kadang-kadang terbuka), sebuah materai (suatu kesan dalam jiwa yang tidak akan terhapuskan). Masing-masing lambing memberikan kepada kita pemahaman baru mengenai peranan dari Roh Kudus.
            Roh sudah aktif sejak dari awal penciptaan dalam kisah tentang hubungan Allah dengan anak-anak-Nya. Dia melayang-layang di atas permukaan air, demikianlah yag dikisahkan dalam awal Kitab Kejadian. Dia hadir dan aktif dalam penciptaan, pada saat penebusan dijanjikan, dan dalam penampakan-penampakan Allah yang penting dalam Perj.Lama. kita menjumpainya dalam saat-saat kritis dalam sejarah bangsa Israel, dalam banyak nubuat mengenai kedatangan Mesias, dan dalam persiapan terakhir untuk menyambut kelahiran Yesus. Dia aktif dalam masa persiapan Kristus sebelum tampil di muka umum, dalam hidup Kristus, dalam kematian dan kebangkitanNya, serta pada waktu Dia mendirikan Gereja-Nya pada hari Pentakosta, Dia melanjutkan peranannya untuk memberikan kehidupan selama sepanjang sejarah. Bahkan sampai masa kini pun, Roh Kudus tetap membangun, mengurapi dan menguduskan Gereja.

Karunia-karunia Roh Kudus
            Secara tradisional istilah “karunia-karunia Roh Kudus” digunakan untuk menyebut tujuh macam karunia Roh, yaitu hikmat atau kebijaksanaan, pengertian, nasehat, keperkasaan, pengenalan akan Allah, kesalehan, dan takut akan Allah. Ketujuh macam karunia Roh Kudus itu bertitik tolak dari Yesaya 11:2, yang berbunyi “Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN”. Kemudian pada abad 2-3 M kelompok Septuaginta menambahkan roh kesalehan, agar jumlah karunia Roh Kudus menjadi tujuh, simbol kepenuhan dan kesempurnaan.
1) Roh Hikmat, membantu kita untuk mengenal perkara-perkara Allah dan menilai segala sesuatu menurut “kacamata” Allah. 2) Roh pengertian, memampukan akal budi kita untuk mengenal keagungan Tuhan, memahami kebenaran ilahi dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari. 3) Roh Nasihat, membantu kita agar dapat menilai dan mengambil keputusan secara tepat dan memilih jalan yang paling aman dan berkenan pada Allah. 4) Roh Keperkasaan, menguatkan kehendak kita agar tekun dalam iman, berani menanggung resiko sebagai orang Kristen, dan memikul salib kita. Sering kita mempunyai niat baik, namun pelaksanaannya sering berbeda karena kemalasan, dll. Roh keperkasaan akan membantu kita mewujudkan niat baik kita. 5) Roh Pengenalan, membantu kita untuk mengenal Tuhan dan diri sendiri. Selain itu kita dibantu mengenal ciptaan sebagai hal yang sementara sehingga kita tidak terbuai atau lekat padanya. 6) Roh Takut akan Allah mengajar kita untuk menghormati Allah dengan penuh cinta dan memperbesar kejijikan terhadap dosa.Dengan karunia Roh ini kita semakin percaya pada Allah dan semakin rendah hati karena menyadari kedosaan kita. 7) Roh Kesalehan akan menyembuhkan hati kita yang keras agar makin terbuka untuk mencintai Allah dan sesama. Kita lebih mudah bersyukur terhadap pemberian-pemberian Allah. Terhadap sesama, kita dibantu untuk bersikap murah hati.
Santo Bonaventura melihat bahwa ketujuh Karunia Roh Kudus itu dapat menghancurkan ketujuh cacat jiwa/ dosa pokok yang sering mengincar kita. Roh hikmat menghancurkan kemewahan yang berlebihan ; Roh Pengertian menghancurkan kerakusan (akan makanan); Roh Nasihat menghancurkan keserakahan (akan harta benda); Roh Keperkasaan menghancurkan kemalasan; Roh Pengenalan menghancurkan kemarahan; Roh takut akan Allah menghancurkan kesombongan; dan Roh Kesalehan menghancurkan iri-hati.
           
Buah- Buah Roh Kudus
            Buah-buah Roh Kudus menurut arti rohani menunjuk hasil atau akibat karya Roh Allah dalam hidup orang Kristiani yang dapat disadari dan dirasakan oleh orang lain. L.Cerfaux menerjemahkan buah-buah roh itu dengan kata “hasil penenan Roh Kudus”.
            Dalam Gal 5:22-23 Paulus berkata Buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera,kesabaran,kemurahan,kebaikan,kesetiaan,kelemahlembutan,penguasaan diri.” Di tempat lain Paulus juga menguraikan buah Roh Kudus. “Keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan” (1Tim 6:11). “Kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm 14:17). Surat Efesus juga menyebut beberapa buah Roh Kudus :”kebaikan,keadilan, dan kebenaran” (Ef 5:9).
            Berbeda dengan karunia Roh yang memang hanya dianugerahkan oleh Allah, buah-buah Roh Kudus tidak muncul dengan sendirinya. Buah-buah Roh Kudus hanya timbul dan ada karena manusia menanggapi secara positif tawaran karya Roh Kudus itu. Itu bukan berarti bahwa manusia sendiri yang menghasilkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan,kebaikan, kesetiaan , dst. Semua buah tersebut bukan jerih payah dan usaha manusia pribadi, melainkan buah karya roh Kudus. Akan tetapi, buah karya Roh Kudus itu tidak mungkin terwujud jikalau manusia menolak dan tidak memberi tempat atau ruang kepada Roh Kudus dalam hidupnya.
Bagi Paulus orang-orang Kristiani adalah orang-orang yang sudah ditebus dan dibenarkan berkat iman kepada Yesus Kristus (bdk.Rm 1:17). “Kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rm 5:1).Itu berarti berkat imannya orang Kristiani sudah hidup dalam Roh “yang dicurahkan di dalam hati kita” (Rm 5:5). Orang Kristiani sudah semestinya hidup dalam Roh dan menghasilkan buah Roh. Hidup baik dan menghasilkan buah roh merupakan konsekuensi logis dari seseorang yang sudah dibenarkan dan ditebus. Maka kehidupan orang Kristiani yang masih mengikuti keinginan daging tidak lagi sesuai dengan status baru orang Kristiani itu. Dalam Gal 5:19-21 Paulus menguraikan aneka buah perbuatan daging atau kuasa dosa. Argumentasi Paulus ialah “bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rm 6:11).
            Kita mungkin bertanya: kapan kita mengalami dan berjumpa dengan Roh Kudus ? Roh Kudus selalu ada dan berkarya di tengah dan di dalam diri kita. Kapan dan bagaimana ? Karya Roh Kudus tampak dalam komunitas kasih. Dimana ada persahabatan,damai,kemurahanhati,persatuan,belaskasih,kesabaran,kesetiaan,kelemahlembutan,pengampunan, pengertian, dan penguasaan diri, maka di sana Roh Kudus  sedang berkarya dan hadir. Sekali lagi: “dari buahnya pohon itu dikenal”. (Mat 12:33). Manifestasi Roh Kudus bisa spektakuler (mukjizat, bahasa roh, dll), namun bisa juga secara biasa, yakni dengan membimbing hati dan cara hidup seseorang.(LaodeDD)

Refleksi.
  1. Percayakah anda akan Roh Kudus dan segala karyanya dalam kehidupan anda ?
  2. Sejauh mana anda memberi ruang pada Roh Kudus untuk berkarya  dalam hidup anda ?
  3. Selama ini anda hidup menurut Roh atau menurut  daging? Mengapa ?
  4. Adakah cacat jiwa yang paling sering menggoda anda ? Apa niat anda mengatasi godaan itu ?
  5. Karunia Roh Kudus apa yang paling anda perlukan ?

Bagaimana Memilih Nyanyian Liturgi



Hal-hal yang Perlu Diperhatikan

1. Nyanyian Melayani seluruh umat. Liturgi itu merupakan perayaan bersama, demikian juga dengan nyanyian. Maka selera pribadi/ kelompok hendaknya mengabdi pada kepentingan umat (siapa yang berliturgi).
2. Melibatkan Partisipasi Umat Arti partisipasi sadar dan aktif. Walau kor dapat menyanyi sendiri, hendaknya nyanyian tsb membantu umat untuk menghayati perayaan liturgi dan ber-DOA.
3. Nyanyian Mengungkapkan MISTERI KRISTUS Tidak cukup: baik dan indah, namun dapat membawa umat pada pengalaman iman dan perjumpaan dengan Kristus.

4. Harus sesuai dengan MASA dan TEMA liturgi Hal ini akan memperdalam dan memperjelas misteri iman yang dirayakan.
5. Harus sesuai dengan hakekat masing-masing bagian. Tempat dan Fungsi nyanyian  Pembuka, Persiapan Persembahan, Komuni, dsb.
6. Pertimbangan PRAKTIS dan PASTORAL Praktis: kesiapan umat, lama/waktu, teks. Pastoral: membantu umat untuk doa?

Catatan:

1. Ingat pembagian TAHUN LITURGI Hari Raya, Hari Minggu (A, B, C)
2. Pedoman Pokok: “ Carilah nyanyian-nyanyian yang syairnya sesuai dengan bacaan-bacaan atau misteri ibadat yang dirayakan.

Langkah-langkahnya:

1. Baca: Injil, Bacaan I, dan Mazmur Tanggapan. Carilah Intinya.
2. Memilih Nyanyian Pembuka, Persiapan Persembahan, Madah Syukur, dan Penutup yang sesuai dengan Bacaan-bacaan tsb. Tidak perlu terikat pada pengelompokan yang diusulkan dalam buku nyanyian.
3. Bantuan Bacaan II Minggu Biasa: isi tidak selalu sesuai, diurutkan begitu saja. Adven, Prapaskah, Paskah, HR, Pesta: ketiganya saling berhubungan.

Masa Khusus -- Masa Biasa
4. Tangga Nada sama atau campur. Perhatikan urutannya. Misalnya: Prefasi  Kudus; atau tuhan Kasihanilah Kemuliaan.
5. Mei dan Oktober tidak sama dengan Maria. Ingat langkah no. 1, 2, dan 3 di atas (aman!).
6. Perhatikan juga ANTIFON-ANTIFON pada buku Misa.
7. Buat daftar dan komunikasikan kepada romo yang memimpin Perayaan Ekaristi

MELIHAT KATEGORI NYANYIAN
DALAM PERAYAAN EKARISTI

1. AKLAMASI
a. Alleluya
b. Kudus
c. Anamnesis
d. Amin Meriah
e. Doksologi pada Bapa Kami “Sebab Engkaulah Raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya”.
2. NYANYIAN PERARAKAN
a. Nyanyian Pembuka
b. Nyanyian Komuni

3. MAZMUR TANGGAPAN
4. NYANYIAN “ORDINADIUM”
a. Tuhan Kasihanilah Kami (Kyrie)
b. Madah Kemuliaan (Gloria)
c. Doa Bapa Kami
d. Anak Domba Allah
e. Syahadat
5. NYANYIAN TAMBAHAN
a. Nyanyian Persiapan Persembahan
b. Madah Syukur sesudah Komuni
c. Nyanyian Penutup
d. Litani (eg. Doa umat)