Kamis, 06 Oktober 2011

Asal-Usul Rosario


Rosario adalah salah satu doa yang paling disukai dalam Gereja Katolik kita. Uskup Agung Fulton Sheen mengatakan, “Rosario adalah kitab bagi mereka yang buta, di mana jiwa-jiwa melihat dan di sana ditampilkan drama kasih teragung yang pernah dikenal dunia; Rosario adalah kitab bagi mereka yang sederhana, yang menghantar mereka masuk ke dalam misteri-misteri dan pengetahuan yang lebih memuaskan hati dari pendidikan manusia; Rosario adalah kitab bagi mereka yang lanjut usia, yang matanya tertutup terhadap bayang-bayang dunia ini dan terbuka pada dunia mendatang. Kuasa rosario melampaui kata-kata.”
Diawali dengan Kredo, Bapa Kami, tiga Salam Maria dan Doksologi (Kemuliaan), serta diakhiri dengan Salve Regina (Salam ya Ratu), rosario merupakan pendarasan lima misteri; masing-masing misteri terdiri dari Bapa Kami, 10 Salam Maria dan Doksologi. Selama mendaraskan rosario, kita merenungkan misteri-misteri penyelamatan dalam hidup Tuhan kita dan kesaksian iman Bunda Maria. Melalui peristiwa-peristiwa Gembira, Cahaya, Sedih dan Mulia dalam rosario, kita dihantar pada kenangan akan inkarnasi Tuhan kita, pewartaan-Nya di hadapan publik, sengsara dan wafat-Nya, dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Dengan demikian, rosario membantu kita untuk bertumbuh dalam penghayatan yang lebih mendalam atas misteri-misteri ini, dalam mempersatukan hidup kita dengan lebih akrab pada Tuhan kita dan dalam memohon bantuan rahmat-Nya untuk mengamalkan iman. Kita juga memohon bantuan doa Bunda Maria, teladan iman, yang menghantar semua orang percaya kepada Putranya.
Asal-usul rosario agak “kabur”. Penggunaan “manik-manik” dan pendarasan doa yang diulang-ulang untuk membantu orang dalam meditasi berasal dari masa-masa awal Gereja dan telah ada bahkan pada masa-masa sebelum kekristenan. Didapati bukti-bukti dari Abad Pertengahan bahwa untaian manik-manik dipergunakan untuk membantu orang menghitung jumlah Bapa Kami atau Salam Maria yang didaraskan. Sesungguhnya, untaian manik-manik ini kemudian dikenal sebagai “Paternosters,” bahasa Latin untuk “Bapa kami”. Sebagai contoh, pada abad ke-12, guna membantu agar mereka yang kurang terpelajar dapat berpartisipasi lebih baik dalam liturgi, pendarasan 150 Bapa Kami dipakai untuk menggantikan 150 Mazmur, dan dikenal sebagai “brevir orang-orang sederhana”.
Struktur rosario perlahan-lahan berkembang antara abad ke-12 dan abad ke-15. Pada akhirnya 50 Salam Maria (atau lebih) didaraskan dan dihubungkan dengan ayat-ayat Mazmur atau ayat-ayat lain mengenangkan “sukacita Maria” dalam hidup Yesus dan Maria. Dominikus dari Prussia, seorang biarawan Carthusian, pada tahun 1409 mempopulerkan praktek mempertalikan 50 ayat mengenai hidup Yesus dan Maria dengan 50 Salam Maria. Pada masa ini, bentuk doa ini dikenal sebagai rosarium (“kebun mawar”), sesungguhnya suatu istilah umum, yang berarti bunga rampai, yang dipergunakan untuk menyebut suatu kumpulan bahan yang serupa, misalnya suatu bunga rampai kisah-kisah dengan subyek atau tema yang sama. Pada akhirnya, ditambahkan juga “dukacita Maria” dan “sukacita surgawi”, sehingga jumlah Salam Maria menjadi 150. Dan akhirnya, ke-150 Salam Maria digabungkan dengan ke-150 Bapa Kami; satu Salam Maria sesudah satu Bapa Kami.
Pada awal abad ke-15, Henry Kalkar (wafat 1408), seorang biarawan Carthusian lainnya, membagi ke-150 Salam Maria ke dalam kelompok-kelompok; satu kelompok berisi 10 Salam Maria dengan diawali satu Bapa Kami. Pada abad ke-16, struktur lima misteri rosario didasarkan pada tiga rangkaian peristiwa - Peristiwa GEMBIRA (1. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel; 2. Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya; 3. Yesus dilahirkan di Betlehem; 4. Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah; 5. Yesus diketemukan dalam Bait Allah), Peristiwa SEDIH (1. Yesus berdoa kepada BapaNya di surga dalam sakrat maut; 2. Yesus didera; 3. Yesus dimahkotai duri; 4. Yesus memanggul salib-Nya; 5. Yesus wafat disalib) dan Peristiwa MULIA (1. Yesus bangkit dari kematian; 2. Yesus naik ke surga; 3. Roh Kudus turun atas para Rasul; 4. Maria diangkat ke surga; 5. Maria dimahkotai di surga). Pada tahun 2002, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II menetapkan peristiwa CAHAYA (1. Yesus dibaptis di Sungai Yordan; 2. Yesus menyatakan DiriNya dalam perjamuan nikah di Kana; 3. Yesus mewartakan Kerajaan Allah serta menyerukan pertobatan; 4. Yesus dipermuliakan; 5. Yesus menetapkan Ekaristi). Juga, setelah penampakan Bunda Maria di Fatima pada tahun 1917, doa yang diajarkan Bunda Maria kepada anak-anak secara umum ditambahkan pada akhir setiap misteri, “Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka. Hantarlah jiwa-jiwa ke surga, teristimewa jiwa-jiwa yang amat membutuhkan kerahiman-Mu.”
MARIA RATU ROSARI
Menurut tradisi, St Dominikus (wafat 1221) menyusun rosario seperti yang kita kenal sekarang. Tergerak oleh suatu penampakan Bunda Maria, ia mewartakan penggunaan rosario dalam karya misionarisnya di antara kaum Albigensia, suatu kelompok bidaah yang fanatik. Albigensia berasal dari nama kota Albi di Perancis selatan di mana mereka tinggal; mereka percaya bahwa semua yang jasmaniah adalah jahat dan semua yang rohaniah adalah baik. Karenanya, mereka menyangkal inkarnasi Tuhan kita; bagi mereka, Yesus, sungguh Allah yang menjadi sungguh manusia dan mengenakan kodrat manusiawi kita, sungguh tidak masuk akal. Menurut ajaran Albigensia, jiwa orang dianggap terbelenggu dalam tubuh yang jahat. Sebab itu, mereka berpantang kasih perkawinan dan prokreasi, sebab dianggap jahat membelenggu suatu jiwa lain dalam suatu raga. Tindakan religius mereka yang paling “luhur” disebut “endura,” suatu tindakan bunuh diri yang membebaskan jiwa dari raga. Mereka juga menentang otoritas manapun yang mewakili suatu kerajaan dunia ini, sebab itu mereka membantai para pejabat kerajaan dan para pejabat Gereja. Gereja mengutuk bidaah ini, dan St Dominikus berusaha mempertobatkan mereka melalui khotbah-khotbah yang logis dan kasih Kristiani sejati. Sayangnya, otoritas kerajaan tidak cukup berbelaskasih. (Sekedar tambahan, suatu siaran traveling menyiarkan di televisi suatu program traveling di Perancis selatan, dan mengunjungi kota Albi, mengatakan bahwa orang-orang di sana “dianiaya oleh Gereja”; narator program tersebut tidak menyebutkan bahwa orang-orang ini adalah bidaah bunuh diri yang ajarannya membahayakan jiwa-jiwa umat beriman.) Namun demikian, St Dominikus mempergunakan rosario sebagai suatu sarana ampuh untuk mempertobatkan kaum Albigensia.
Sebagian ilmuwan mengesampingkan peran aktual St Dominikus dalam terbentuknya rosario sebab kisah-kisah riwayat hidupnya yang ditulis lebih awal tidak menyebutkan hal itu, konstitusi Dominikan tidak menghubungkannya dengan hal tersebut, dan pelukis-pelukis pada masa St Dominikus tidak memasukkan rosario sebagai lambang yang menjadi ciri khas St Dominikus. Pada tahun 1922, Dom Louis Gougaud menyatakan, “Berbagai unsur yang ada dalam komposisi devosi Katolik yang umum disebut rosario merupakan hasil dari suatu perkembangan yang panjang dan perlahan yang dimulai sebelum masa St Dominikus, dan yang terus berlanjut tanpa ia ikut ambil bagian di dalamnya, dan yang akhirnya mendapati bentuk akhirnya beberapa abad setelah kematiannya.” Namun demikian, sebagian ilmuwan lain menyanggah pendapat bahwa St Dominikus tidak begitu terlibat dalam “menciptakan” rosario, sebab ia mewartakan penggunaannya untuk mempertobatkan para pendosa dan mereka yang telah menyimpang dari iman. Di samping itu, sekurangnya ada selusin paus yang menyebutkan hubungan antara St Dominikus dengan rosario dalam berbagai pernyataan kepausan, mendukung perannya setidak-tidaknya sebagai seorang “beriman yang saleh”. Dari antaranya, yang pertama-tama dinyatakan oleh Paus Alexander VI pada tahun 1495.
Rosario menjadi semakin populer pada tahun 1500-an, teristimewa melalui upaya Paus St Pius V. Pada waktu itu, kaum Muslim Turki menyerang Eropa Timur. Pada tahun 1453 Konstantinopel telah jatuh ke tangan Muslim, sementara Balkan dan Hungaria nyaris ditaklukkan. Pada tahun 1521 kaum Muslim berhasil menaklukkan Belgrade, Hungaria, dan pada tahun 1526 mereka telah berada di perbatasan Vienna, Austria. Dengan kaum Muslim menyerbu bahkan pesisir Italia, maka penguasaan atas Mediterania sekarang di ujung tanduk.
            Pada bulan Februari 1570, utusan Turki menyampaikan ultimatum kepada Republik Venisia: menyerahkan kepulauan Siprus secara damai atau menghadapi perang. Venisia menolak, dan setelah berperang selama sebelas bulan, Siprus takluk pada kekuasaan Muslim pada tanggal 1 Agustus 1571. Syarat-syarat penyerahan diri ditetapkan demi keselamatan pasukan Kristen yang kalah. Tetapi, begitu komandan Muslim mengambil alih kuasa kota, ia memerintahkan agar komandan Kristen, Marcantonio Bragadin, dikuliti hidup-hidup. Tubuhnya kemudian dibelah menjadi empat, dan sayatan kulitnya diisi jerami dan seragamnya dikenakan padanya, lalu diseret sepanjang kota. Sekarang kaum Kristen tahu benar musuh macam apa yang tengah mereka hadapi.
            Pada tahun 1571, Paus St Pius V mengorganisir suatu armada di bawah komando Don Juan dari Austria, sanak Raja Philip II dari Spanyol. Bala tentara dari Spanyol, Venisia, Roma, Savoy, Genoa, Lucca, Tuscany, Manova, Parma, Urbino, dan Ferrara, juga Malta membentuk suatu aliansi melawan Turki. (Menariknya, Perancis yang Katolik menolak bersatu dan bahkan mendanai pasukan Muslim Turki demi melemahkan musuh bebuyutan mereka, Jerman-Austria). Sementara persiapan dilakukan, Bapa Suci meminta segenap umat beriman untuk mendaraskan rosario dan memohon bantuan doa Bunda Maria di bawah gelar “Bunda Kemenangan,” memohon Tuhan menganugerahkan kemenangan kepada umat Kristiani.
Meski armada Muslim jauh melampaui armada Kristiani, baik dalam jumlah kapal-kapal perang maupun pasukan, kedua armada siap bertempur. Kapal pemimpin Kristen mengibarkan bendera biru dengan lukisan Kristus Tersalib, sementara bendera Muslim mencantumkan ayat-ayat dari Al Quran menyerukan jihad dan membasmi “orang-orang kafir”. Pada hari Minggu, 7 Oktober 1571, pukul 11 pagi, Pertempuran di Lepanto dimulai, dan dalam tempo lima jam, kaum Muslim dikalahkan. Siang itu, sementara Paus St Pius V tengah berada dalam suatu rapat, sekonyong-konyong beliau berdiri, menuju jendela, menatap ke luar ke arah pertempuran berlangsung bermil-mil jauhnya, dan mengatakan, “Marilah kita berhenti menyibukkan diri dengan masalah-masalah ini dan marilah kita mengucap syukur kepada Tuhan. Armada Kristen telah meraih kemenangan.” 
Tahun berikutnya, Paus St Pius V sebagai ungkapan syukur menetapkan Pesta Rosario Suci pada tanggal 7 Oktober di mana umat beriman tidak hanya mengenangkan kemenangan ini, melainkan juga terus menyampaikan syukur kepada Tuhan atas segala rahmat-Nya dan mengenangkan kuasa perantaraan Bunda Maria kita. Bapa Suci juga secara resmi menganugerahkan gelar, “Auxilium Christianorum” atau “Pertolongan Orang-orang Kristen” pada Bunda Maria. Mejelis Tinggi Venesia juga mencantumkan pada sebilah papan dalam ruang pertemuan mereka, “Non virtus, non arma, non duces, sed Maria Rosari, victores nos fecit,” yang artinya, “Bukan kegagahan, bukan senjata, bukan pemimpin, melainkan Maria dari Rosario yang membuat kita menang.”
Mengenangkan tindakan Paus Pius V, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, dalam sebuah amanat Angelus yang disampaikan pada bulan Oktober 1983 mengatakan, “Rosario juga mengambil perspektif baru dan dibebani dengan intensi-intensi yang terlebih dahsyat dan terlebih banyak dari masa lalu. Sekarang bukan masalah memohon kemenangan besar, seperti di Lepanto dan di Vienna, melainkan memohon Maria untuk menyediakan bagi kita pejuang-pejuang yang gagah berani melawan roh kejahatan dan kesesatan, dengan senjata-senjata Injil, yakni Salib dan Sabda Allah. Doa Rosario adalah doa manusia untuk manusia. Rosario adalah doa solidaritas kemanusian, doa bersama orang-orang yang ditebus, dengan merefleksikan roh dan intensi dari dia yang pertama-tama ditebus, yakni Maria, Bunda dan Citra Gereja. Rosario adalah doa bagi segenap manusia di dunia dan dari sepanjang sejarah, yang hidup dan yang mati, yang dipanggil untuk menjadi Tubuh Kristus bersama kita dan bersama-sama kita menjadi ahli waris bersama dengan Dia dalam kemuliaan Bapa.”
Di masa-masa belakangan ini, rosario telah dijunjung tinggi dan dianjurkan sebagai suatu sarana yang efektif bagi pertumbuhan rohani. Banyak para kudus mendorong didaraskannya rosario, termasuk St Petrus Kanisius, St Filipus Neri dan St Louis de Montfort. Paus Leo XIII, yang kerap disebut “Paus Rosario”, berupaya memelihara tradisi doa ini, yang ditegaskannya sebagai suatu senjata rohani yang ampuh melawan kejahatan (Supremi Apostolatus Officio, 1884). Paus Pius XI pada tahun 1938 memberikan indulgensi penuh kepada barangsiapa yang mendaraskan rosario di depan Sakramen Mahakudus. Paus Beato Yohanes XXIII dan Paus Paulus VI keduanya juga dikenal sebagai penganjur rosario yang gigih. Buku Pedoman Indulgensi (1969), yang mendapatkan persetujuan Paus Paulus VI, memberikan indulgensi penuh “jika rosario didaraskan di sebuah gereja atau suatu tempat doa umum, atau dalam suatu kelompok keluarga, suatu komunitas religius atau perkumpulan saleh….” (No. 48).
Yang paling akhir, untuk menandai diawalinya 25 tahun masa pontifikatnya, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II menerbitkan Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae, dimana beliau menetapkan Peristiwa Cahaya dan lagi, mendorong umat beriman untuk menggunakan rosario untuk “bersama Maria, merenungkan wajah Kristus.” Dengan mengesampingkan adanya gagasan bahwa rosario mengalihkan perhatian orang dari liturgi atau gagasan bahwa rosario merupakan penghalang bagi ekumene, Bapa Suci menegaskan, “Alasan paling kuat untuk mendesakkan pelaksanaan doa rosario adalah karena doa rosario merupakan sarana yang paling efektif untuk mengembangkan di kalangan kaum beriman komitmen untuk berkontemplasi pada misteri Kristiani; ini sudah saya usulkan dalam Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte sebagai `latihan kekudusan' yang sejati. `Kita memerlukan kehidupan Kristiani yang menonjol dalam seni berdoa.'” (No 5).
Sebab itu, rosario meupakan bagian dari sejarah rohani Gereja yang patut dijunjung tinggi. Rosario memampukan umat beriman untuk berpartisipasi dalam sejarah keselamatan yang hidup, mempersatukan kita secara lebih akrab dengan Juruselamat dan BundaNya yang Tesuci, dan dengan segenap Gereja. Rosario perlu menjadi bagian dari sejarah tiap-tiap individu dan tiap-tiap keluarga, sebab melalui doa rosario ikatan kasih diperteguh.

Selasa, 04 Oktober 2011

Kisah Pegawai Pajak menolak Korupsi

Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalang kabut akibat prinsip hidup [anti] korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan. Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung. Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsip satu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya.

 Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram. Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi.

 
Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak.
Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.

 Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.

 Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti inI seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.

 Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalau saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan.
Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku sambil membawa anak-anak.

 Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat rugi.
Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnya kalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.

 Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya satu-satunya anggota tim yang menolak dan meminta agar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat tidak ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor.
Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan.

 Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabat dan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik. Saya katakan, "Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi?" Kemudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu, kecuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap. Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau.
Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur.  Ia lalu mengatakan, Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai, katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah, amplop-amplo itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.

 Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi. Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian! Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas.

 Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir.
Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun. Saya mau bcara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahua'lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah.

 Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana? Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, kenapa tidak bilang-bilang? ? Saya sampaikan karena tidak sempat saja.
 Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.

 Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.

 Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa. Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi.
Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda.. Uang setan ya dimakan hantu! Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.

 Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu. Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jum'at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum'atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga. Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan  sebagainya. Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur'an. Tetapi mereka sulit berubah.

 Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.

 Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN. Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.

 Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup yang bersih.
Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takutmenggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan (matanya berkaca-kaca) .
 
Best Regard
diceritakan oleh Bambang S

Belajar Tabah Bersama Maria



            Bulan Mei (dan juga bulan Oktober) merupakan bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat Katolik untuk mengadakan devosi kepada Bunda Maria. Banyak aktivitas rohani dan devosional yang dilakukan baik secara pribadi maupun dalam kelompok dalam kehidupan gerejawi selama bulan ini.Sedut saja doa Rosario dan ziarah ke gua Maria. Bunda Maria sebagai tokoh rohani dan juga sebagai seorang ibu telah mendapat hati  bagi orang beriman Katolik, mulai dari anak-anak sampai orang tua, mulai kalangan sederhana hingga kalangan borjuis. Maria sudah menjadi nafas kehidupan umat beriman. Hampir disetiap rumah orang katolik terpajang gambar dan patung Bunda Maria. Banyak orang dan juga  calon Baptis memakai nama Maria. Tentu saja itu beralasan, mereka berharap menjadi serupa dengan Bunda Maria. Singkatnya, Maria sungguh menjadi model hidup beriman, bahkan menjadi sumber inspirasi dalam hidup beriman.
Bunda Maria adalah seorang wanita yang taat, tabah, sederhana, setia, mau mendengar. Seorang yang penyabar, tulus hati, penuh sukacita, pendamping dalam cobaan, murah hati, rendah hati, pendoa. Maria juga adalah seorang yang solider dan peduli pada sesama. Dan  masih banyak  deretan keteladanan Maria yang bisa kita temukan dalam hidup sehari-hari. Bahkan bisa menjadi sebuah litani. Dan salah satu yang patut kita renungkan adalah Ketabahan Maria.
Ketabahan ! Apa itu ?
            Ketabahan merupakan satu dari tujuh keutamaan Kristiani. Ketabahan berarti berdiri teguh dalam pengharapan melawan semua bentuk tekanan yang membuat putus asa, bahkan dalam menghadapi kematian. Dalam saat-saat menderita, merasa hampa dan tidak pasti.  Ketabahan memberi kekuatan untuk melawan rasa takut.  Dalam Injil, Yesus mendorong para pengikut-Nya untuk berani dan tidak takut.  (Bdk Mat 10:28-31). Konon kata-kata “Jangan Takut” ada 360 kali dalam Kitab suci. Itu artinya setiap hari kita diundang untuk tidak takut, bahwa Tuhan menyertai kita. Ketabahan memampukan kita untuk berani memikul penderitaan dan mengatasi ketakutan yang sering membelokkan kita dari pengejaran tujuan-tujuan hidup baik sebagai manusia dan sebagai orang Kristen.
            Ketabahan bukan sekedar keberanian secara fisik, melainkan juga mencakup keberanian moral dan spiritual yang memampukan kita untuk tahan terhadap penolakan orang lain. Ketabahan juga meliputi kesabaran dan ketekunan yang dibutuhkan untuk tetap setia pada panggilan kita. Ketabahan  adalah keutamaan yang memampukan kita untuk setia pada sumpah, janji dan komitment-komitment kita. Ketabahan merupakan keutamaan yang memungkinkan kita untuk menjalani hidup dan iman kita secara murni dan mantap.  
Menjadi Tabah .  Siapa takut ?
            Ada bermacam-macam alasan mengapa orang bisa tabah menghadapi tantangan dan beban hidup yang berat.
Pertama, adanya keyakinan bahwa Tuhan selalu menyertai  dan menguatkan hidup mereka. Tuhan itu dekat, berjalan bersama mereka, bahkan ikut memanggul beban salib hidup mereka.  Karena penyertaan Tuhan, maka orang menjadi kuat memanggul salib. “Datanglah padaku kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, maka Aku akan memberikan rasa lega kepadamu”. Yesus sendiri mengalami beban berat dan tabah menjalaninya. Maka pantaslah bila kita datang kepada-Nya, menimba kekuatan dari pada-Nya. “Serahkanlah kekhawatiranmu kepada Tuhan, maka ia akan memelihara kamu” (Mzm 55:2)
Kedua, orang menjadi tabah karena pengalaman hidup. Pengalaman bahwa selalu ada orang yang menyertai pergulatan hidup kita, merasa tidak sendirian.  Setiap kali ada persoalan berat, selalu saja ada orang yang memberikan jalan keluar, entah itu saudara, teman , atau situasi. Maka, sangatlah penting bagi kita untuk selalu merefleksikan seluruh pengalaman hidup kita.  Bagaimana kita bangkit menghadapi beban hidup kita.
Ketiga, adanya keyakinan , bahwa beban hidup itu tidak pernah melebihi kekuatan mereka.  Keyakinan itu didapat dari pengalaman yang menunjukkan bahwa setiap kali ada beban berat, akhirnya teratasi juga. 
Keempat, orang menjadi tabah karena adanya dukungan dari keluarga. Dukungan doa dari keluarga, membuat seseorang merasa dekat dengan keluarga dan menguatkan seseorang untuk tetap tabah. Dan tentu masih ada deretan alasan  yang lain.
BAGAIMANA DENGAN ANDA ? APAKAH ANDA MASUK DALAM KATEGORI INI ? ATAU JUSTRU ANDA SERING TIDAK BISA TABAH ?

Tidak bisa tabah? Kenapa…?
Ada orang yang bisa tabah menghadapi beban dan penderitaan hidup, namun ternyata ada juga yang sering tidak tabah. Ada beberapa alasan mengapa orang sering tidak tabah. Pertama, takut gagal. Pengalaman kegagalan dalam hidup menjadikan  seseorang  takut untuk menghadapi situasi baru. Takut untuk memulai yang baru. Selalu mundur dan menyatakan menyerah sebelum berperang.
Kedua, orang sering menjadi tidak tabah karena merasa sendirian menghadapi beban hidup. Merasa sendiri bisa terjadi karena tidak adanya dukungan dari orang lain. Bahkan, karena tidak adanya keyakinan bahwa Tuhan menyertai pergulatan hidupnya.
Ketiga, orang sering tidak tabah karena tidak pernah terlatih dan dilatih untuk menghadapi persoalan hidup yang berat.  Ini tantangan bagi para orang tua, untuk tidak memanjakan putera-puterinya. Pengalaman dimanja, dan tidak adanya pengalaman menyelesaikan masalah menjadikan seseorang tidak bisa tabah. Orang seperti ini, harus ditantang terus-menerus dan dilatih menghadapi setiap persoalan hidup, juga dilatih untuk menerima kegagalan.
BAGAIMANA DENGAN ANDA  ? MENGAPA ANDA MENJADI PRIBADI YANG LOYO ?PERNAHKAH ANDA DATANG DAN MENIMBA KEKUATAN DARI YESUS?
Tabah seperti Maria
            Secara sepintas tidak ada yang istimewa dalam kehidupan Maria. Sebagai manusia , ia pernah lahir, hidup dan berkembang.  Ia pernah mengalami masa kanak-kanak , berpikir dan bertindak seperti anak-anak. Pasti juga mengalami masa remaja,  dan mengalami  masa dewasa, dimana harus memberikan putusan atas pilihan hidupnya. Kitab Suci pun tidak memberikan banyak informasi mengenai Maria. Setidaknya Kitab Suci menampilkan Maria dalam tiga tahap hidup Yesus ; pada masa perkandungan Yesus, masa kelahiran Yesus, dan pada masa dewasa Yesus.
Hanya satu yang membedakan dia dari orang pada umumnya. Bukan karena ia mengandung, melahirkan, menyusui dan mengasuh Yesus,  melainkan karena ia menjalani hidupnya yang biasa secara luar biasa. Sekali ia berkata Ya terhadap panggilan Allah, ia memperjuangkannya untuk selalu tetap setia. Pilihan menjadi Bunda Allah bukan tanpa resiko. Maria sebagai sebagai seorang visioner tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya. Dia tahu akan mengalami penderitaan  bersama Putera-Nya.
Tidak ada kehidupan tanpa penderitaan. Penderitaan selalu ada dan menyatu dalam kehidupan manusia. Ketika lahir, manusia ditarik keluar dari rasa aman, damai, tenang dan terlindung. Ditandai dengan rasa sakit, dan mengalirnya darah. Selanjutnya manusia , setelah dapat menggunakan akal budinya, selalu akan konflik antara keinginan dan kenyataan.
Dalam kehidupan bersama, manusia pasti berbenturan akan kepentingan pribadi dan kepentingan sesama. Berhadapan dengan alam manusia akan mengalami sakit –penyakit, bencana. Dan itu dialami pula oleh Maria. Maria pun juga mengalami penderitaan dalam hidupnya. Namun dia tidak  pernah mengeluh, melainkan tabah meskipun hatinya hancur dan remuk saat memangku jenasah Yesus.
Mengapa Maria bisa tabah ? Kesadaran Maria,  karena panggilan untuk menjadi Bunda Allah melulu karena karunia Allah, maka hidupnya bukanlah miliknya pribadi, melainkan milik Allah. Karena Maria adalah milik Allah, lalu ya terserah Allah ; Allah mau berbuat apa dengan hidupnya.  Itulah yang membuat Maria bisa tabah menjalani panggilan hidupnya.
Spiritualitas Maria adalah spiritualitas fiat: terjadilah padaku menurut perkataan-Mu. Ini adalah spiritualitas relasional. Maria menjadi pribadi karena pemberian dirinya. Tuhan memberikan janji-Nya, dan Maria pasrah pada janji itu dalam seluruh hidupnya, karena itu ia mencoba menangkap apa yang terjadi pada hidupnya sebagai kehendak Allah. Dimulai dengan janji Tuhan waktu pewartaan kabar gembira , Maria teguh memegangnya  sepanjang hidupnya sampai pada akhirnya.
Bagaimana dengan kita? Justru kalau kita bisa melihat hidup kita adalah milik Allah, maka tidak ada alasan bagi kita untuk menolak rencana dan kehendak Allah dalam hidup kita. Rencana Allah pasti lebih baik bagi kita ? Tentu saja sejauh kita berani menerima penderitaan sebagai resiko atas pilihan kita  dalam kehidupan ini dengan sikap tabah ,  tanpa mengeluh, seperti Bunda Maria. (Ded’s)

Kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia (Flp 1:29)

MARIA MODEL KEPASRAHAN HIDUP




Sebagai manusia, Maria tentu saja pernah lahir, hidup, berkembang, dan akhirnya meninggal. Proses kehidupan di dunia dialami dan dijalaninya seperti umumnya manusia biasa. Ia pernah menjadi anak-anak,  berpikir dan bertindak seperti anak-anak ;mengalami masa remaja, memilih, menilai, dan memutuskan berbagai hal mengenai hidupnya. Dan akhirnya menjadi dewasa, berjuang dan menghidupi pilihan hidupnya.
            Sepintas tidak ada yang istimewa dalam kehidupan Maria. Ia seorang perempuan. Bertunangan dan menikah dengan seorang laki-laki. Ia membina hidup berkeluarga dan melahirkan seorang anak. Ia seorang ibu. Ia bergaul dengan saudara-saudarinya. Hidup bertetangga seperti biasa. Seorang yang biasa, mungkin juga tidak terlalu terkenal karena tidak punya jabatan tinggi, dan tidak kaya namun  juga tidak berkekurangan.
            Hanya satu yang membedakan dia dari orang pada umumnya. Bukan terutama karena ia pernah melahirkan Yesus,menyusuiNya, mengasuhNya atau sejenisnya (Luk 11:27-28). Ia menjalani semua yang biasa  dan sederhana itu dengan cara yang luar biasa dan tidak sederhana. Ia menjalaninya sebagai ungkapan nyata dari imannnya. Sekali ia berkata YA kepada kehendak Allah, ia berjuang untuk tetap setia sampai akhir hidupnya. Yang diucapkan dengan mulut, diyakini dalam hati dan diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata.
            Dengan  ucapan “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah kehendakMu pada diriku”, Maria mau berpasrah kepada Tuhan. Dengan spiritualitas fiat nya ini,  dalam peristiwa-peristiwa hidupnya,  tampak kesediaan Maria untuk menerima, memelihara, dan memberikan apa yang telah diterima-Nya dari Allah. Menerima, memelihara dan meneruskan rahmat Allah itulah tiga unsur yang menopang spiritualitas fiat-nya. Dalam spiritualitas itu, termaktub tiga keutamaan dasar Kristiani : iman , harapan , dan cinta. Menerima janji dan panggilan Allah adalah iman. Memelihara dengan setia janji itu dalam hidupnya adalah harapan. Dan , meneruskan atau memberikan buah dari janji itu kepada sesama adalah cinta. 


Model Kepasrahan Hidup
Ø  Kepasrahan Parsial
 e         Kepasrahan parsial tampak dalam diri orang yang pasrah tetapi tidak penuh. Dalam hidupnya, orang ini sudah berpasrah tapi tidak total. Ia kurang berpasrah karena ragu-ragu dengan orang lain, tidak percaya pada kemampuannya. Misalnya, seseorang dengan berpakaian butut berpergian dengan travel. Di tengah jalan mobil mogok. Sopir sudah berusaha mengatasinya tetapi nihil. Orang tersebut mau bantu. Tapi karena pakaiannya butut, orang menertawakannya. Penumpang yang lain tidak percaya. Apa yang terjadi ? mobil itu dapat berjalan dan sampai tempat tujuan.
Kepasrahan parsial juga dapat timbul dari faktor orang lain. Misalnya, ketika seseorang  tidak yakin dengan dokter dan menanggapinya dengan setengah hati, obat dari dokter itu pun tidak dapat menyembuhkannya.
Bangsa Israel pun menerima Allah dengan parsial. Allah yang begitu baik, Allah yang begitu mencintai tetap ditolak oleh bangsa Israel. Atau ketika Yesus  berkotbah dengan baik mereka berkata , “Bukankah Dia itu anak Maria, dan Yusuf si tukang kayu?” (Mrk 6:3).


Ø  Kepasrahan Temporal

 Dalam hidup ini sering terjadi kita berpasrah tetapi hanya temporal (hangat-hangat tahi ayam). Misalnya ketika anak-anak memasuki masa ujian, banyak orang tua yang berpasrah pada Bunda Maria. Maka, setiap hari mereka berdoa di depan patung Bunda Maria dengan 10 lilin. Tetapi setelah ujian selesai, dan anaknya mendapat nilai bagus, mereka melupakan Sang Bunda.  Bunda Maria hanya  dikunjungi bila orang ingin naik pangkat, ingin mendapatkan jodoh, ingin lulus, ingin sembuh dari penyakit dan lainnya. Tetapi setelah doanya dikabulkan, Bunda Maria dilupakan. Patung Bunda Maria yang tadinya penuh dengan lilin, sekarang kosong. Ini yang disebut kepasrahan temporal.

Ø  Kepasrahan Total
Kata total berasal dari bahasa Latin “totus” yang berarti seluruhnya, utuh, tidak setengah-setengah. Ketika Yesus disalibkan, Dia bersabda “Ya Bapa, kedalam tangan Mu, Kuserahkan nyawaKU” (Luk 23:46)
Dalam hidup ini orang yang pasrah secara total akan secara penuh mempersembahkan diri kepada kehendak Tuhan. Imannya sudah mantap dan tidak tergantung pada orang lain. Ia percaya, bahwa Tuhan lah yang selalu menolong hidupnya.
Pasrah kepada kehendak dan rencana Tuhan bukanlah hal yang mudah, terlebih bila kehendak Tuhan dirasa tidak cocok dengan keinginan kita.  Kita sebagai manusia cenderung mencari keinginan kita sendiri. Maka menjadi berat bila kehendak Tuhan bertentangan dengan kehendak kita.
Berpasrah adalah sikap menerima kehendak Tuhan, mendahulukan kehendak Tuhan dalam hidup kita, juga bila kehendak itu berat. Berpasrah kepada Tuhan lebih pada menyerahkan seluruh hidup kita : pikiran, kehendak, niat, perbuatan, dan keadaan kita kepada Tuhahn sendiri. Dalam kepasrahan itu kita percaya bahwa Tuhan selalu menyertai hidup kita. maka jalan yang dipilih dalam mengatasi segala persoalan hidup adalah jalan Tuhan yang benar dan adil.
Maria adalah model kepasrahan hidup.  Akibat kepasrahan itu, Maria dapat selalu lebih tenang menghadapi persoalan  dan gejolak dalam hidup. Ia menjadi lebih tabah dalam penderitaan sehingga dapat membantu orang-orang lain yang sedang mengalami percobaan dan godaan hidup. (Ded’s)

Refleksi :
  1. Apakah aku mudah berpasrah kepada Tuhan ?
  2. Kepasrahan model apa?
  3. Apa yang biasa aku lakukan untuk lebih berpasrah seperti Bunda Maria ?
  4. Apakah devosi kepada Bunda Maria (novena, ziarah, Rosario) membantuku untuk meneladan kepasrahan Bunda Maria ? Jelaskan !

MENGHAYATI DEVOSI YANG SEHAT





Doa Rosario yang telah hidup selama berabad-abad merupakan salah satu bentuk ‘devosi’ yang popular kepada Maria. Bersama Bunda Maria kita mengetuk pintu hati Tuhan agar Ia berkenan melimpahkan rahmatNya kepada kita. Kelihatannya doa ini sederhana, tetapi mampu mengetuk pintu hati Tuhan dan mendatangkan rahmat bagi pendoanya.
        Devosi berasal dari bahasa latin devotio (kata kerjanya devovere) yang berarti penyerahan diri, penghormatan, pengabdian. Devosi pertama-tama soal batin, soal hati yang mau menyerahkan diri kepada Tuhan, mau mengabdi-Nya dan menghormati-Nya melalui para kudus-Nya, seperti Bunda Maria.
Beberapa syarat devosi yang patut diperhatikan :
Pertama, Devosi hendaknya ditempatkan dalam keseluruhan iman Gereja yang benar. Praktik devosi yang begitu mengagungkan  Bunda Maria sampai-sampai menggeser Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus tentu bukan praktik devosi yang sehat. Ada orang yang begitu mantapnya berdoa kepada Bunda Maria, hingga sama sekali tidak menyebut nama Tuhan atau Allah. Doa kepada Maria seperti ini tentu kurang tepat, misalnya : “Ya Bunda Maria, engkaulah sumber segala rahmat, kabulkanlah doa kami. Engkaulah yang kudus dari yang terkudus, engkau tanpa doa, maka ampunilah dosa kami dan kasihanilah kami, para putera-puterimu ini.” Dari situ Maria sudah setara dengan Tuhan, karena ia disebut sumber segala rahmat, yang kudus dari yang terkudus, berkuasa untuk mengampuni dosa, dst. Penghormatan kita kepada para kudus, termasuk kepada Bunda Maria, harus dalam jalur iman Gereja yang benar, yakni sebagaimana diimani para rasul seperti tampak dalam kitab suci dan ajaran Gereja.
Kedua, Devosi hendaknya juga harus ditempatkan dalam liturgi gereja. Devosi bukan liturgi resmi. Devosi atau olah kebatinan tidak setara tingkatnya dengan liturgi, tetapi sangat dianjurkan karena  mempersiapkan dan membantu orang untuk dapat berliturgi dengan hati dan perasaannnya. Keunggulan devosi dibandingkan dengan liturgi  resmi adalah tekanannya pada segi afeksi yang menyentuh perasaan dan hati orang. Sementara itu rumusan doa devosi sederhana dan mudah. Lihat saja rosario. Praktis doa ini mengulang-ulang doa Bapa Kami, dan terutama Salam Maria. Tetapi banyak orang suka karena mudah, tetapi juga menyentuh perasaan. Namun , ada orang yang lebih mengutamakan devosi daripada liturgi. Misalnya saat misa kudus, orang berdoa rosario, lalu diteruskan litani, tanpa mau ikut berpartisipasi aktif dalam misa. Lalu, pada saat komuni ia maju menerima komuni. Nah, ini tidak tepat. Nilai misa kudus bagaimanapun juga lebih tinggi dari doa rosario.
Ketiga, Devosi harus dijauhkan dari sikap magis. Sikap magis ini tampak apabila orang begitu memutlakkan barangnya, tandanya, rumusan doanya, jumlah angkanya, kegiatan-kegiatan lain yang menyertainya, namun lalu malah menggeser Tuhan sebagai yang tidak pokok. Mestinya terkabulnya doa tergantung pada Tuhan saja. Tetapi, orang lebih meyakini bahwa doanya akan terkabul apabila ia mendoakan rumusannnya secara persis, dengan titik dan komanya, atau mendoakannya pada jam-jam tertentu atau pada tempat-tempat tertentu.
Keempat, Devosi harus dijauhkan dari mentalitas do ut des. Artinya aku memberi agar aku diberi atau mendapat sesuatu. Ini adalah mentalitas pamrih, mentalitas bisnis atau pedagang. Berpuasa, bertirakat, bermatiraga boleh dan baik. Menjadi tidak baik  apabila kita lakukan dengan motivasi utnuk memaksa Tuhan agar Tuhan seolah-olah berutang budi kepada kita. Atau Tuhan baru mau mengabulkan  doa permohonan kita apabila kita mau membayarnya dengan laku matiraga kita. Ini pandangan yang keliru. Laku matiraga itu baik dan perlu untuk kehidupan rohani kita, tetapi jangan dilakukan dengan semangat do ut des. Laku matiraga kita lakukan lebih untuk mendisiplinkan diri kita pada pengolahan diri dan hidup kita agar kita terbantu dan disiapkan untuk meyerahkan diri kepada Tuhan dan kehendakNya.
Bentuk devosi kepada Bunda Maria bermacam-macam. Ada novena, rosario, ziarah, doa di depan patung atau gambarnya. Marilah kita berdevosi kepada Bunda Maria namun dalam semangat devosi yang sehat dan benar.

The Pencil Parable


Pada awal mulanya, Sang Pembuat Pensil berkata: Ada lima hal penting yang harus engkau ketahui. Tetap ingat semua hal itu. Dan engkau akan menjadi pensil yang terbaik yang pernah ada . Pertama,  Kamu akan dapat mengerjakan banyak hal penting, tapi hanya jika kamu membiarkan diri digunakan di tangan seseorang .
Kedua, Engkau akan mengalami sakitnya diruncingkan dari waktu ke waktu. Tapi hal ini sangat penting untuk kelangsunganmu.
Ketiga, Engkau mempunyai kemampuan untuk membetulkan setiap kesalahan yang pernah engkau buat.
Keempat, Bagian yang terpenting dalam dirimu adalah bagian dalammu.
Kelima,  Tidak jadi soal apa pun kondisinya, engkau harus tetap menulis. Engkau tetap harus tetap meninggalkan goresan yang tajam, jelas, dan terbaca entah bagaimana pun sulitnya keadaan.
Si Pensil mengerti, dan berjanji untuk mengingat apa yang dipesankan oleh Sang Pembuat-Nya.
Sekarang, gantikanlah tempat si Pensil. Ingatlah lima hal penting itu. Jangan dilupakan. Dan Anda akan menjadi pribadi yang paling mempesona di sepanjang zaman.
Pertama, Izinkan pribadi lain masuk dan menggunakan talenta Anda.
            Kedua, Anda akan mengalami sakitnya rasa akibat bertemu dengan bermacam orang dan masalah. Tapi karena itu semua Anda akan menjadi orang kuat dan tabah.
Ketiga, Anda masih dapat berubah dan menghapus kesalahan Anda jika Anda mau.
 Keempat, Kedalaman hidup Anda adalah bagian yang terpenting dalam hidup Anda.
Dan kelima,  Dalam setiap langkah kehidupan, Anda harus meninggalkan jejak Anda. Tetap melangkah maju dengan pengharapan