Sabtu, 08 Oktober 2011

SEPUTAR IBADAT SABDA LINGKUNGAN

PENYELENGGARAAN MISA LINGKUNGAN DAN
DOA LINGKUNGAN

Menurut action pastoralis, instruksi Kongregasi Ibadat mengenai Misa untuk kelompok – kelompok khusus

Rm. Sugeng Pr dalam Misa Pelindung Lingkungan 
Pengantar :
Pada 15 Mei 1969 Kongregasi Ibadat mengeluarkan instruksi yang tersebut diatas. Suatu bukti bahwa sejak setelah Konsili Vatikan, Gereja telah menaruh perhatian besar kepada Misa Lingkungan, Misa Kategorial serta Ibadat Lingkungan. Hal ini merupakan realisasi lanjutan dari keinginan para peserta konsili (bdk. KL n. 19).
Beberapa pemikiran Gereja dalam instruksi itu kami kemukakan disini :
  • Sasaran utama dari kegiatan pastoral Gereja ialah meningkatkan keterlibatan para beriman dalam hidup menjemaat.
  • Kelompok-kelompok khusus bukan untuk menopang pembentukan ”Gereja-Gereja mini” dan pengistimewaannya, melainkan untuk melayani keperluan-keperluan khusus umat beriman sehingga dengan demikian penghayatan hidup kristiani dapat ditingkatkan selaras keperluan dan kemampuan anggota-anggota kelompok yang bersangkutan. Hal ini mengembangkan suatu ikatan rohani dan apostolis khusus dan semangat ingin saling mendukung dalam perkembangan rohani.
  • Dari pengalaman, kalau diatur secara tepat dan diarahkan secara bijaksana, perayaan itu sama sekali tidak menghambat kebersatuan paroki.
  • Malahan perayaan-perayaan khusus itu menunjang kegiatan missioner paroki, karena mampu menjangkau sejumlah umat secara lebih personal, dan berdampak lebih dalam terhadap pembinaan iman orang lain.
  • Merupakan suatu ”pertemuan doa” dimana ada pendalaman Kebenaran dengan merenungkan Sabda Allah yang memuncak pada Ekaristi Kudus. Dan memang harus begitu !

Misa Lingkungan :
( Beberapa kutipan peraturan )

  • Perlu pertimbangan seksama, apakah mengadakan Misa atau Ibadat
  • Tempat Eakristi ialah ruang Ibadat, rumah keluarga, wisam, bukan ruang tidur. Jangan hanya karena alasan luas dan anggun, Misa atau Ibadat dilaksanakan hanya di rumah beberapa keluarga tertentu saja
  • Misa tak pernah boleh dianggap sebagai kegiatan eklusif suatu kelompok khusus. Misa adalah perayaan Gereja, sakramen kesatuan.
  • Untuk membuat perayaan Ekaristi sungguh serasi dengan situasi dan kondisi para hadirin maka
1.    Peran serta Umat hendaklah sedapat mungkin digalakkan.
2.    Sesuai dengan kemampuan kelompok yang bersangkutan, perayaan dapat didahului dengan bimbingan rohani atau renungan Kitab Suci.
3.    Apabila situasi kongkrit menyarankan, boleh dipilih Bacaan-bacaan yang sesuai.
4.    Hendaklah Umat aktif dalam Doa Umat
5.    Komuni 2 rupa tidak boleh diadakan, kecuali viaticum/komuni bekal suci
6.    Nyanyian liturgis hendaknya dipakai, bukannya nyanyian rohani-devosional
  • Waspadalah, jangan sampai penyesuaian-penyesuaian yang diperbolehkan untuk kelompok khusus, dimasukkan pula ke gereja paroki
  • Ekaristi di rumah warga tak dapat diadakan pada hari-hari minggu dan Pesta Wajib, demi memupuk paguyuban paroki. Hanya atas izin Uskup melalui Pastor Paroki. Selain itu, Puasa Ekaristi harus diindahkan, dan tempat terpisah dari makanan yang disediakan. Meja Ekaristi tetap hanya untuk Ekaristi.
  • Supaya perayaan terjamin kesakralan dan dampak rohaninya terpelihara maka dalam persiapan dan pelaksanaannya harus diperhatikan suasana religius serta keanggunan seluruh upacara.
Para gembla umat hendaklah memperhitungkan daya guna perayaan-perayaan itu untuk pembinaan rohani jemaat. Suatu perayaan akan sungguh bermanfaat kalau :
  • Membawa peserta pada pemahaman misteri kristiani secara lebih mendalam.
  • Penghayatan ibadat yang lebih hangat
  • Umat lebih melibatkan diri dalam paguyuban jemaat paroki
  • Rela bergiat dalam karya – karya kerasulan dan social-karitatif di tengah Lingkungannya dan Paroki.
Memang dewasa ini ada beberapa orang yang merasa dirinya ”maju” karena menampilkan hal-hal baru yang kadang-kadang kurang berbobot, dan memikirkan bentuk-bentuk perayaan liturgi yang seenaknya saja. Tetapi para imam baik projo maupun religius, yang benar-benar prihatin akan kesejahteraan umat beriman, hendaklah menginsafi bahwa kegiatan pastoral yang mantap dan menguduskan hanya dicapai melalui kesetiaan yang tekun dan lapang kepada kehendak Gereja, sebagaimana terungkap dalam petunjuk, peraturan dan tata susunannya.
Segala sesuatu yang menyimpang dari pola ini, betapa pun tampak menarik, ternyata membingungkan para beriman, dan melumpuhkan bahkan memandulkan tugas pelayanan para imam.
Instruksi ini disusun oleh Kongregasi Ibadat atas pengarahan Paus Paulus VI, yang men-sahkannya. Maka selanjutnya semua perayaan Misa bersama dengan kelompok – kelompok khusus diatur oleh Instruksi ini.

Doa Lingkungan :
Doa lingkungan bukanlah Ekaristi. Oleh sebab itu strukturnya lebih terbuka untuk variasi menurut situasi umat, peristiwa dan intensi keluarga, Masa liturgis serta Mei dan Oktober. Memang dianjurkan agar struktur Doa hendaknya mirip Liturgi Sabda dalam perayaan Ekaristi tetapi itu pun lebih dimaksudkan untuk ”Ibadat Sabda Hari Minggu tanpa Imam” di stasi-stasi yang jauh.
Oleh karena itu sebagai ”pertemuan doa” kelompok kecil, doa lingkungan merupakan kesempatan untuk meneladani Umat Gereja perdana yang suka berhimpun bersama untuk berdoa, mendengarkan Sabda Tuhan dan pengajaran ”para rasul”, kadang-kadang ada Misa Lingkungan, saling bersikap solider dalam berbagai persoalan hidup, sekaligus untuk mewujudkan secara lebih intensif program-program paroki.
Pemimpin Doa ialah awam baik laki-laki maupun perempuan; bukan imam atau diakon.
Tetapi kalau mereka hadir maka pembacaan Injil diserahkan kepada mereka, dan selanjutnya mendengarkan pengajaran/renungan dari mereka.
Unsur utama dalam setiap penyelenggaraan Doa Lingkungan ialah pemakluman Sabda Tuhan dan pendalaman Kebenaran iman itu. Dari Sabda tuhan kita memuji, memuliakan Tuhan, bersyukur kepada-Nya dalam mazmur dan kidung serta mengungkapkan permohonan-permohonan.

Rancangan Struktur Doa Lingkungan :
( Salah satu kemungkinan )

Sapaan Awal                                   : dari ketua Lingkungan / wakil
Lagu Pembuka                               : oleh petugas nyanyian
Tanda Salib dan kata pembuka : secara singkat tentang bacaan – bacaan yang akan didengarkan.
Doa Pembuka                                 : oleh pemimpin Doa
Bacaan I                                            : oleh lector. Dapat diambil dari bacaan misa pada hari yang bersangkutan
Lagu antar bacaan                        
Injil                                                      : dapat diambil dari bacaan misa pada hari yang bersangkutan
Renungan
Mazmur – mazmur dari Puji Syukur
Doa – Doa Permohonan atau Doa Bersama dari Puji Syukur
Doa Bapa Kami
Doa Penutup
Kata Penutup                                  : Saudara sekalian, dengan ini Ibadat Lingkungan ( pertemuan doa Lingkungan ) sudah selesai.
U : Syukur kepada Allah.
Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal
U : Amin (sambil setiap orang membuat tanda salib)
Nyanyian Penutup
Penjelasan :
Ø  Praktis umat memakai buku Puji Syukur. Hanya pemimpin Doa memakai tambahan buku untuk Doa Pembuka dan Doa Penutup; tetapi lebih spontan lebih baik agar disesuaikan dengan situasi dan kepentingan.
Ø  Selama Masa Adven dan Prapaskah dapat ditambahkan pernyataan tobat setelah kata pembuka dan setelah absolusi dilanjutkan dengan Doa Pembuka
Ø  Selama bulan Mei dan Oktober dapat dilanjutkan dengan Rosario setelah ”Renungan” singkat
Ø  Dalam Doa Lingkungan hendaknya tugas-tugas dibagi-bagi kepada beberapa orang. Bahkan kotbah atau renungan boleh juga dalam bentuk sharing beberapa orang lalu dirangkum oleh pemimpin.
Ø  Pengumuman – pengumuman hendaknya dilaksanakan sesudah selesai Doa Lingkungan. Jangan pada awal atau pertengahan Doa sebab memecah belah konsentrasi doa.

Rm. Bosco da Cunha O.Carm



BEBERAPA CATATAN SEPUTAR IBADAT SABDA

1.    Salam : “Semoga Tuhan beserta kita” atau “Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus,cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus beserta kita” . U: “Sekarang dan selama-lamanya”.
Rumus : “Tuhansertamu” U:”Dan sertamu juga” hanya bisa digunakan oleh yang tertahbis (lihat TPE)
2.    DoaPembukamutlakmenggunakan rumus Triniter :”Dengan perantaraan Kristus,Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin”
3.    Doa Penutup tidak mutlak menggunakan rumus Triniter. Boleh juga menggunakan rumus Kristologis , “Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami, Amin” atau “Demi Kristus Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa, Amin”.
4.    Doadibukadengan “Marilah Berdoa” dan ditutup dengan konklusi panjang sbb:
ª      Bila doa diarahkan kepada Allah Bapa :
Demi Yesus Kristus, Putra-Mu, dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.
ª      Bila doa diarahkan kepada Putera (atau bila Putera disebutkan dalam doa yang diarahkan kepada Allah Bapa) :
Sebab Engkaulah (Sebab Dialah) pengantara kami yang hidup dan berkuasa bersama Bapa dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin.




 
SEPUTAR MENYUSUN DOA


1.    Yang perlu diperhatikan seorang pendoa : pertama, “percaya kepada Allah”. Orang percaya bahwa Allah selalu mendengarkan dan selalu mau membantu. Kedua, memiliki sikap “kerendahan hati”. Orang rendah hati mengakui bahwa tanpa Allah, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ketiga, memiliki sikap “kasih” dalam hati. Kebencian dan dendam berlawan dengan kasih Allah. Keempat,”sebelumdoa, periksadahulukeinginan dan kerinduan apa yang ada dalam hati”. Penting ketengangan diri dan pengenalan batin sebelum berdoa .
2.    Doa adalah ungkapan hati, kerinduan dan keinginan kepada Tuhan, maka si pendoa mesti lebih dahului mengetahui isi, maksud, dan tujuan doa itu disampaikan dan kepada siapa doa itu dialamatkan. Sikap ini membantu kita untuk terhindar dari cara berdoa yang hanya bersifat rasional semata.
3.    Beberapa rumus Doa Yang Keliru menurut cara pandang Gereja :

Contoh doa yang keliru  1

Tuhan yang maharahim, kami datang kepadaMu, Tuhan, bersyukur atas kebaikan yang sudah kami alami selama ini, Tuhan. Berilah kekuatan kepada kami ,Tuhan, agar selalu setia kepadaMu,Tuhan. Kami percaya bahwa Engkau tak pernah melupakan kami, Tuhan, dalam melindungi, memelihara dan melayani kebutuhan kami. Semoga karena kerahimanMu ,Tuhan, kami juga rela melayani sesama kami, Tuhan, yang ada di sekitar kami. Agar dengan begitu, Tuhan, kami menjadi saudara dengan yang lain. Terimalah Tuhan, ungkapan hati kami. Dalam nama Yesus kami sudah berdoa. Amin.

Komentar: Isi doa jelas. Kekeliruan ada pada : pertama, banyak kali kata Tuhan disebut (10X). Tuhan mengetahui apa yang ingin kita sampaikan kepada-Nya, sebab itu tak perlu berulang-ulang memanggil nama-Nya. Ia dekat dengan kita saat berdoa. Kedua, “Dalam nama Yesus kami sudah berdoa. Ini bukan rumusan doa yang dipakai dalam Gereja Katolik. Rumus doa mestinya Triniter atau Kristologis.

Contoh doa yang Keliru 2

Allah yang penuh kasih, kami bersyukur kepada-Mu,Tuhan, karena Engkau sungguh baik hati kepada kami, ya Bapa. Engkau telah mengutus Yesus Kristus ke dunia untuk menyelamatkan kami. Maka kami mohon kepadaMu, ya Yesus Kristus, bimbinglah kami selalu di jalan yang benar agar senantiasa mengalami rahmat yang berasal dari hati-Mu tersuci. Jauhkanlah dari kami segala rintangan yang menghancurkan hidup kami, ya Bapa, agar dengan demikian kami dimampukan untuk berbuat yang terbaik bagi sesama. Demi Kristus pengantara kami. Amin.

Komentar:Kekeliruanadaalamatdoa yang tidak jelas. Doa ini mau disampaikan kepada siapa ? Allah Bapa atau kepada Yesus ? Kalau doa dialamatkan kepada Allah Bapa, maka seluruh perhatian tertuju kepada Allah. Demikian pula, bila doa dialamatkan kepada Yesus, makaseluruhperhatiantertujupadaYesus. Jangan doa dialamatkan kepada Allah Bapa dan pada saat yang sama tertuju pula pada Yesus.

Contoh doa yang Keliru 3

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah penyelamat kami satu-satunya, yang selalu mendampingi kami. Engkau rela mengorbankan hidup karena cinta-Mu kepada kami. Kami mohon, utuslah roh-Mu agar oleh bimbingan-Nya, kami tak jatuh dalam dosa, tetapi senantiasa setia mengimani ajaran-ajaranMu dan melakukannya dalam hidup kami. Demi Kristus, Pengantara kami, yang berkuasa kini dan sepanjang masa . Amin.

Komentar:Isi doajelasdan terarah. Kekeliruan ada pada : rumus doa. Alamat doa sudah jelas yaitu ditujukan kepada Yesus Kristus. Nah, kalau doa dialamatkan kepada Yesus, mengapa harus dipakai rumus doa “Demi Kristus , Pengantara kami “? Rumus doa Kristologis Demi Kristus , Pengantara kami..., dipergunakan bila alamat doa ditujukan kepada Allah Bapa, sebab Kristus menjadi pengantara kita dengan Bapa.  Yang betul ditutup dengan rumus : Sebab Engkaulah pengantara kami yang hidup dan berkuasa bersama Bapa dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin.

Contoh doa yang Keliru 4

Bapa yang Mahakasih, sebagian hari telah kami lalui dengan pelbagai aktivitas. Kini kami akan makan bersama. Kami mohon kepada-Mu berkatilah makanan yang telah disiapkan ini. Berkatilah pula mereka yang dengan sukacita menyiapkannya. Ampunilah salah dan dosa kami, yang sudah kami perbuat melawan kehendak-Mu. Terpujilah Engkau kini dan sepanjang masa. Amin.

Komentar:Kekeliruanadapadaisidoa. Dalam doa ini ada dua jenis permohonan. Pertama: mohon makanan diberkati Tuhan. Kedua: mohon pengampunan atas kesalahan dan dosa yang sudah diperbuat. Apa hubungan makanaan dan dosa? Kita mohon pengampunan bila mau bertobat dan ingin berelasi baik lagi dengan Tuhan. Kita mohon pengampunan bila kita menyesal atas kesalahan yang sudah dilakukan dan karena itu mau hidup baru lagi.  Tetapi doa jenis ini dilakukan pada saat kita mau mengosongkan diri, berefleksi atas hidup, dan mau meemperbaiki diri. Pada saat kita duduk di hadirat Allah. Konteks sekarang bukan duduk di hadirat Allah melainkan sedang menghadapi hidangan lezat yang ada di hadapan kita. Karena itu, lebih tepat kalau inti doa hanya pada “mohon berkat Tuhan untuk makanan ini, sebelum disantap bersama.” Doa yang benar harus lihat konteksnya, situasi, dan tujuannya.

Contoh doa yang Keliru 5

Ya Bunda Maria, engkaulah sumber segala rahmat, kabulkanlah doa kami. Engkaulah yang kudus dari yang terkudus, engkau tanpa dosa, maka ampunilah dosa kami dan kasihanilah kami para putra-putrimu ini. Amin.

Komentar :Kekeliruan ada pada Maria disetarakan dengan Tuhan, dan bahkan memposisikan Maria sebagai Tuhan karena ia disebut sebagai sumber segala rahmat, yang kudus dari yang terkudus, berkuasa untuk mengampuni dosa, dst.  Praktik doa / devosi yang begitu mengangungkan Bunda Maria sampai-sampai menggeser Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus tentu bukan praktek devosi yang benar.  Ada orang yang begitu mantapnya berdoa kepada Bunda Maria. Hingga sama sekali tidak menyebut nama Allah / Tuhan. Doa kepada Bunda Maria seperti contoh di atas tentu tidak tepat. Penghormatan kita kepada orang-orang kudus, termasuk Maria, haruslah ada dalam jalur iman Gereja yang benar, yakni iman sebagaimana diimani para rasul seperti tampak pada Kitab SucidanajaranGereja.

Contoh doa yang Keliru 6

Ya Yesus, Engkau  pernah bersabda, “dimana satu atau dua orang berkumpul dalam nama-Ku, disitu Aku ada di tengah-tengah mereka.” Hadirlah dalam ibadat kami malam ini, dst.......................

Komentar :Doa ini baik, mau mengutip Kitab Suci. Kitab Suci juga merupakan buku doa dan inspirasi doa. Terlebih kitab-kitab Mazmur. Yang keliru adalah mengutip Kitab Suci dengan salah. “dimana satu atau dua orang berkumpul dalam nama-Ku....dst”. Bukan satu atau dua orang, melainkan yang benar dua atau tiga orang.  Sebab di manaduaatautiga orang berkumpul dalamNama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Mat 18:20)

4.    Doa Yang Benar . sering orang berdoa tetapi tidak mengetahui apa yang sesungguhnya mau disampaikan dan kepada siapa doa itu ditujukan (seperti contoh sebelumnya). Doa yang benar mesti menggambarkan isi hati si pendoa. Di dalam doa-doa itu, tampak dengan jelas :apa yang ingin disampaikan dan kepada siapa doa itu ditujukan. Bisa saja ada beberapa pokok yang mau disampaikan, asal berkaitan satu dengan yang lain. Doa disampaikan dari hati dan bukan dari pikiran rasional. Doatidakperlupanjang-panjang danbertele-tele (Mat 6:7), sebabTuhanmengetahuiapa yang menjadikebutuhankita. Karenaitu, sebelumberbicara  kepada Tuhan, pikirkanlah dan renungkanlah terlebih dahulu dalam hatimu apa yang ingin disampaikan kepada Allah.

5.    Contoh Doa yang Benar
Allah yang berbelas kasih, kami bersyukur kepada-Mu atas anugerah yang senantiasa Kauberikan kepada kami dari kemurahan hati-Mu. Kami mohon, bimbinglah kami dengan roh kebijaksanaan dan tuntunlah kami agar senantiasa berjalan dalam kebenaran.Semoga karena bantuan-Mu, kami selalu hidup sesuai kehendak-Mu dan melakukan yang terbaik bagi sesama. Demi Yesus Kristus, Putera-Mu dan Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus sepanjang masa. Amin.
     
Kebenarantampakpada: Pertama, alamatpermohonansangat jelas, yaitu hanya kepada Allah. Kedua, permohonannyasalingberkaitan :mohonbimbinganroh yang berasaldari Allah, mohon dituntun agar berjalan dalam kebenaran dan selalu hidup sesuai kehendak Allah, teristimewa melakukan yang terbaik bagi sesama. Ketiga, rumus doa: triniter. Boleh juga menggunakan rumus doa Kristologis.

Kamis, 06 Oktober 2011

MEMAHAMI DOA ROSARIO





Rosario berarti untaian mawar menyerupai mahkota, karangan bunga spiritual yang dipersembahkan kepada Bunda Maria setiap kali kita menyelesaikan Doa Rosario.

Doa Rosario merupakan sarana kontemplasi untuk merenungkan peristiwa keselamatan yang dikerjakan Allah melalui Yesus PuteraNya. Dengan mendaraskan Doa Rosario, kita diajak mengkontenplasikan misteri kehidupan Yesus Kristus sejak Ia dikandung oleh Maria sampai Ia diangkat ke Surga.
Doa Rosario dianggap doa yang paling utama karena karena dalamnya terkandung misteri penyelamatan kita.
Sejak tahun 1475, umat Katolik merenungkan misteri yang dinyatakan dalam Peristiwa Gembira, Peristiwa Sedih, dan Pristiwa Mulia yang dialami Bunda Maria dan Yesus.

Dan sejak tahun 2002, Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan surat apostolic Rosarium Virginis Mariae, yang menganjurkan kita semakin giat berdoa Rosario dan menegaskan bahwa doa Rosario merupakan doa yang sangat Kristosentris (berpusat pada Kristus) serta memiliki pesan injili secara utuh. Dalam kesempatan itu pula ditambahkan satu rangkaian peristiwa yang disebut ‘mysteria lucis’ atau Peristiwa Terang/Cahaya. Dengan demikian seluruhnya ada dua puluh peristiwa keselamatan yang dapat kita renungkan.

Pengalaman doa Rosario umat beriman selama berabad-abad menyumbangkan banyak hal yang patut kita jadikan bahan pelajaran yang baik untuk memahami makna yang ada dibalik rangkaian rosario.
Maka, lewat tulisan ini penulis menggajak untuk memahami dan memaknai rangkaian doa Rosario.
Susunan Doa Rosario
 1. Rangkaian Rosario terdiri dari :  Salib, Rantai, Butir-butir Rosario, dan
            Medali.
          Salib merupakan bagian pertama dan merupakan PUSAT seluruh rangkaian doa Rosario. Biasanya kita membuka doa Rosario dengan mencium/mengecup salib dan membuat tanda salib. Tradisi ini adalah kebiasaan tua, yang sebenarnya menyatakan rasa hormat kepada Yesus Kristus penyelamat.
            Tradisi ini digarisbawahi dalam liturgi Jumat Agung. Rumusan doa yang mengiringi tanda salib “Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus sangat Triniritas yang berarti berhubungan dengan rahasia Tritunggal.
Dengan demikian harus ada kesadaran bahwa dengan melakukan kegiatan ini (doa ini) :
           a. Untuk Kemuliaan Allah Tritunggal, untuk kemuliaan NamaNya.
            b. Untuk mengambil bagian dalam kemuliaan Tritunggal,
                secara istimewa mau mengambil bagian dalam karya  Allah yang Agung yang mencapai puncaknya dalam peristiwa Yesus, misteri salib, misteri Paskah.
 2. Sesudah itu kita doakan AKU PERCAYA (Credo).
                  Rumusan ini tidak lain adalah rumusan pengakuan iman. Isi iman ini sangat kaya dan lengkap, mencakup iman kepada Allah dan seluruh karyaNya yang Agung untuk menyelamatkan manusia. Bila pada awal doa Rosario, iman ini kita akui dengan membuat tanda salib dan mengucapkan Aku Percaya, maka kita harus menyadari :
    1. Kita berdoa dalam persatuan dengan semua orang beriman, baik yang masih hidup maupun sudah meninggal. Ada begitu banyak orang yang bersatu dalam doa dengan kita, sehingga kita tidak pernah berdoa sendirian.
    2. Sejak awal kita dituntut pengorbanan sebagai orang beriman. Kita mesti mengorbankan waktu, perhatian, perlu sabar dan dapat bertahan.
Doa dan kurban tidak pernah dapat dipisahkan.
    1. Kita harus sadar bahwa hanya orang beriman saja yang bisa sungguh-sungguh berdoa, walaupun pada kenyataannya semua orang bisa melafalkan doa dengan lancar.
    2. Doa yang sejati dapat menguatkan kita untuk menyaksikan iman dalam hidup sehari-hari.

  1. Sesudah doa Aku Percaya, kita memegang Butir Rosario Pertama sambil berdoa Bapa Kami.
                  Dengan mengucapkan Bapa Kami lebih dahulu, hendaknya kita yakin bahwa seluruh doa Rosario ini ditujukan kepada Allah dan dengan maksud utama untuk bersyukur kepada Allah. Kesadaran ini harus dimiliki supaya doa Rosario tidak sampai  dianggap hanya sebagai doa yang ditujukan kepada Maria. Kalaupun nanti kita tujukan doa kita kepada Maria (dalam Salam Maria), kita harus sadar bahwa kita mohon bantuan Maria untuk menjadi pengantara, untuk bersama-sama dengan kita berdoa kepada Allah. Dengan demikian arah doa kita menjadi benar dalam Rosario. Dengan kesadaran itu Bapa Kami akan kita doakan lagi sebelum 10 kali Salam Maria.

  1. Menyusul 3 Rangkai Butir “Salam Maria” yang biasanya didahulukan dengan seruan:
    1. Salam Putri Allah Bapa
    2. Salam Bunda Allah Putera
    3. Salam Mempelai Allah Roh Kudus

Seruan ini mengungkapkan kenyakinan Gereja (umat Allah)
bahwa  Maria dihormati karena mempunyai relasi yang erat dan istimewa dengan Allah Tritunggal, dan memainkan peran khusus dalam karya agung Allah Tritunggal. Kita juga diingatkan dengan keutamaan Kristen sebagai anugrah dari Allah yaitu Iman, Harapan dan Kasih. Kita mohon supaya anugrah keutamaan Kristen ini menjadi milik kita dan menghayatinya dalam hidup kita.

  1. Doa Salam Maria
                  Doa salam Maria terdiri dari Dua bagian yaitu : Bagian I berisi salam dan pujian kepada Maria, dan bagian II berisi permohonan kepada Maria.
      Bagian I berasal dari teks Kitab Suci yaitu :
    1. Luk 1: 28 ‘Salam Maria, penuh rachmat, Tuhan sertamu’ (Salam Malaikat kepada Maria)
    2. Luk 1 : 42 ‘terpujilah engkau diantara wanita dan terpujilah buah tubuhmu’ (pujian Elisabeth kepada Maria), kemudian ditambah Kata Yesus. Pujian ini terarah kepada Maria tetapi sebenarnya yang menjadi dasar pujian ini adalah Allah dan karya agungnya dalam diri Maria. Lalu pada abad XV (tahun 1500) umat menyatukan rumusan pujian tersebut dengan rumusan permohonan (bagian II) : Santa maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati, Amin.
            Maka menjadi jelas bahwa dalam doa,’Salam Maria’kita memuji Maria karena karya agung Allah yang terwujud dalam Yesus Kristus yang dikandungnya, dan kita mohon agar Maria tetap mendoakan kita untuk selalu bertobat, untuk selalu membaharui diri.


  1. Butir doa Rosario berikut adalah doa KEMULIAAN.
                  Doa ini sebagai pujian singkat (doksologi pendek) yang ditujukan kepada Allah Tritunggal. Maka dengan doa Rosario kita semakin mengarahkan seluruh hidup dan kegiatan kita kepada Allah, demi kemuliaan Allah Tritunggal. Orang berdoa Rosaria dengan baik secara otomatis belajar untuk tidak memuji diri, melainkan hidup untuk memuji dan memuliakan Allah, untuk memuji Maria dan para orang Kudus, untuk menghargai sesama dan alam ciptaan Tuhan.
Menghitung Menggunakan Jari
  1. Medali Penghubung
                  Dalam medali ini biasanya terdiri dari gambar timbul (relief) bunda Maria dan Yesus Kristus. Sekali lagi kita melihat hubungan yang erat antara bunda Maria dan Puteranya Yesus Kristus.
Yesus adalah Pengantara kita kepada Allah Bapa, dan bunda Maria mengambil bagian dalam kepengantaraan Yesus tersebut.

  1. Menyusul satu rangkaian 10 Salam Maria yang didoakan sambil merenungkan satu peristiwa keselamat.
                  Ada lima peristiwa keselamatan yang kita renungkan selama  berdoa rosario. Ada misteri-misteri : Gembira, Sedih, Mulia dan Misteri Terang/Cahaya.
      Tiap peristiwa Rosario terdiri atas judul peristiwa keselamatan, intensi doa, Bapa Kami, 10 kali Salam Maria, Kemuliaan ,dan Ya Yesus yang baik ……… (yang biasa kita gunakan) atau ‘Maria , Engkau yang dikandung tanda noda, doakanlah kami yang berlindung padamu’. Dengan demikian selama kita berdoa rosario kita merenungkan peristiwa keselamatan. Ada kaitan erat antara doa dan peristiwa keselamatan. Doa Rosario mestinya membuat kita menjadi lebih terbuka terhadap hadirnya Tuhan dalam hidup kita sehari-hari sehingga kita bisa mengalami keselamatan.

  1. Doa ‘Ya Yesus yang baik ……………’
ROSARIO

PENUTUP
      Doa Rosario memang membaharui kita, menguatkan kita untuk terus bertobat dan menjadi kudus dan sempurna seperti Bapa di Surga.
“ Ya  Maria ratu Rosario, trimalah kami. terpujilah Engkau, terpujilah buah tubuhmu, Yesus.
Doakanlah kami semua, kini dan pada waktu kami mati. Amin”

By : Deddy Dismas

Asal-Usul Rosario


Rosario adalah salah satu doa yang paling disukai dalam Gereja Katolik kita. Uskup Agung Fulton Sheen mengatakan, “Rosario adalah kitab bagi mereka yang buta, di mana jiwa-jiwa melihat dan di sana ditampilkan drama kasih teragung yang pernah dikenal dunia; Rosario adalah kitab bagi mereka yang sederhana, yang menghantar mereka masuk ke dalam misteri-misteri dan pengetahuan yang lebih memuaskan hati dari pendidikan manusia; Rosario adalah kitab bagi mereka yang lanjut usia, yang matanya tertutup terhadap bayang-bayang dunia ini dan terbuka pada dunia mendatang. Kuasa rosario melampaui kata-kata.”
Diawali dengan Kredo, Bapa Kami, tiga Salam Maria dan Doksologi (Kemuliaan), serta diakhiri dengan Salve Regina (Salam ya Ratu), rosario merupakan pendarasan lima misteri; masing-masing misteri terdiri dari Bapa Kami, 10 Salam Maria dan Doksologi. Selama mendaraskan rosario, kita merenungkan misteri-misteri penyelamatan dalam hidup Tuhan kita dan kesaksian iman Bunda Maria. Melalui peristiwa-peristiwa Gembira, Cahaya, Sedih dan Mulia dalam rosario, kita dihantar pada kenangan akan inkarnasi Tuhan kita, pewartaan-Nya di hadapan publik, sengsara dan wafat-Nya, dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Dengan demikian, rosario membantu kita untuk bertumbuh dalam penghayatan yang lebih mendalam atas misteri-misteri ini, dalam mempersatukan hidup kita dengan lebih akrab pada Tuhan kita dan dalam memohon bantuan rahmat-Nya untuk mengamalkan iman. Kita juga memohon bantuan doa Bunda Maria, teladan iman, yang menghantar semua orang percaya kepada Putranya.
Asal-usul rosario agak “kabur”. Penggunaan “manik-manik” dan pendarasan doa yang diulang-ulang untuk membantu orang dalam meditasi berasal dari masa-masa awal Gereja dan telah ada bahkan pada masa-masa sebelum kekristenan. Didapati bukti-bukti dari Abad Pertengahan bahwa untaian manik-manik dipergunakan untuk membantu orang menghitung jumlah Bapa Kami atau Salam Maria yang didaraskan. Sesungguhnya, untaian manik-manik ini kemudian dikenal sebagai “Paternosters,” bahasa Latin untuk “Bapa kami”. Sebagai contoh, pada abad ke-12, guna membantu agar mereka yang kurang terpelajar dapat berpartisipasi lebih baik dalam liturgi, pendarasan 150 Bapa Kami dipakai untuk menggantikan 150 Mazmur, dan dikenal sebagai “brevir orang-orang sederhana”.
Struktur rosario perlahan-lahan berkembang antara abad ke-12 dan abad ke-15. Pada akhirnya 50 Salam Maria (atau lebih) didaraskan dan dihubungkan dengan ayat-ayat Mazmur atau ayat-ayat lain mengenangkan “sukacita Maria” dalam hidup Yesus dan Maria. Dominikus dari Prussia, seorang biarawan Carthusian, pada tahun 1409 mempopulerkan praktek mempertalikan 50 ayat mengenai hidup Yesus dan Maria dengan 50 Salam Maria. Pada masa ini, bentuk doa ini dikenal sebagai rosarium (“kebun mawar”), sesungguhnya suatu istilah umum, yang berarti bunga rampai, yang dipergunakan untuk menyebut suatu kumpulan bahan yang serupa, misalnya suatu bunga rampai kisah-kisah dengan subyek atau tema yang sama. Pada akhirnya, ditambahkan juga “dukacita Maria” dan “sukacita surgawi”, sehingga jumlah Salam Maria menjadi 150. Dan akhirnya, ke-150 Salam Maria digabungkan dengan ke-150 Bapa Kami; satu Salam Maria sesudah satu Bapa Kami.
Pada awal abad ke-15, Henry Kalkar (wafat 1408), seorang biarawan Carthusian lainnya, membagi ke-150 Salam Maria ke dalam kelompok-kelompok; satu kelompok berisi 10 Salam Maria dengan diawali satu Bapa Kami. Pada abad ke-16, struktur lima misteri rosario didasarkan pada tiga rangkaian peristiwa - Peristiwa GEMBIRA (1. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel; 2. Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya; 3. Yesus dilahirkan di Betlehem; 4. Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah; 5. Yesus diketemukan dalam Bait Allah), Peristiwa SEDIH (1. Yesus berdoa kepada BapaNya di surga dalam sakrat maut; 2. Yesus didera; 3. Yesus dimahkotai duri; 4. Yesus memanggul salib-Nya; 5. Yesus wafat disalib) dan Peristiwa MULIA (1. Yesus bangkit dari kematian; 2. Yesus naik ke surga; 3. Roh Kudus turun atas para Rasul; 4. Maria diangkat ke surga; 5. Maria dimahkotai di surga). Pada tahun 2002, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II menetapkan peristiwa CAHAYA (1. Yesus dibaptis di Sungai Yordan; 2. Yesus menyatakan DiriNya dalam perjamuan nikah di Kana; 3. Yesus mewartakan Kerajaan Allah serta menyerukan pertobatan; 4. Yesus dipermuliakan; 5. Yesus menetapkan Ekaristi). Juga, setelah penampakan Bunda Maria di Fatima pada tahun 1917, doa yang diajarkan Bunda Maria kepada anak-anak secara umum ditambahkan pada akhir setiap misteri, “Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka. Hantarlah jiwa-jiwa ke surga, teristimewa jiwa-jiwa yang amat membutuhkan kerahiman-Mu.”
MARIA RATU ROSARI
Menurut tradisi, St Dominikus (wafat 1221) menyusun rosario seperti yang kita kenal sekarang. Tergerak oleh suatu penampakan Bunda Maria, ia mewartakan penggunaan rosario dalam karya misionarisnya di antara kaum Albigensia, suatu kelompok bidaah yang fanatik. Albigensia berasal dari nama kota Albi di Perancis selatan di mana mereka tinggal; mereka percaya bahwa semua yang jasmaniah adalah jahat dan semua yang rohaniah adalah baik. Karenanya, mereka menyangkal inkarnasi Tuhan kita; bagi mereka, Yesus, sungguh Allah yang menjadi sungguh manusia dan mengenakan kodrat manusiawi kita, sungguh tidak masuk akal. Menurut ajaran Albigensia, jiwa orang dianggap terbelenggu dalam tubuh yang jahat. Sebab itu, mereka berpantang kasih perkawinan dan prokreasi, sebab dianggap jahat membelenggu suatu jiwa lain dalam suatu raga. Tindakan religius mereka yang paling “luhur” disebut “endura,” suatu tindakan bunuh diri yang membebaskan jiwa dari raga. Mereka juga menentang otoritas manapun yang mewakili suatu kerajaan dunia ini, sebab itu mereka membantai para pejabat kerajaan dan para pejabat Gereja. Gereja mengutuk bidaah ini, dan St Dominikus berusaha mempertobatkan mereka melalui khotbah-khotbah yang logis dan kasih Kristiani sejati. Sayangnya, otoritas kerajaan tidak cukup berbelaskasih. (Sekedar tambahan, suatu siaran traveling menyiarkan di televisi suatu program traveling di Perancis selatan, dan mengunjungi kota Albi, mengatakan bahwa orang-orang di sana “dianiaya oleh Gereja”; narator program tersebut tidak menyebutkan bahwa orang-orang ini adalah bidaah bunuh diri yang ajarannya membahayakan jiwa-jiwa umat beriman.) Namun demikian, St Dominikus mempergunakan rosario sebagai suatu sarana ampuh untuk mempertobatkan kaum Albigensia.
Sebagian ilmuwan mengesampingkan peran aktual St Dominikus dalam terbentuknya rosario sebab kisah-kisah riwayat hidupnya yang ditulis lebih awal tidak menyebutkan hal itu, konstitusi Dominikan tidak menghubungkannya dengan hal tersebut, dan pelukis-pelukis pada masa St Dominikus tidak memasukkan rosario sebagai lambang yang menjadi ciri khas St Dominikus. Pada tahun 1922, Dom Louis Gougaud menyatakan, “Berbagai unsur yang ada dalam komposisi devosi Katolik yang umum disebut rosario merupakan hasil dari suatu perkembangan yang panjang dan perlahan yang dimulai sebelum masa St Dominikus, dan yang terus berlanjut tanpa ia ikut ambil bagian di dalamnya, dan yang akhirnya mendapati bentuk akhirnya beberapa abad setelah kematiannya.” Namun demikian, sebagian ilmuwan lain menyanggah pendapat bahwa St Dominikus tidak begitu terlibat dalam “menciptakan” rosario, sebab ia mewartakan penggunaannya untuk mempertobatkan para pendosa dan mereka yang telah menyimpang dari iman. Di samping itu, sekurangnya ada selusin paus yang menyebutkan hubungan antara St Dominikus dengan rosario dalam berbagai pernyataan kepausan, mendukung perannya setidak-tidaknya sebagai seorang “beriman yang saleh”. Dari antaranya, yang pertama-tama dinyatakan oleh Paus Alexander VI pada tahun 1495.
Rosario menjadi semakin populer pada tahun 1500-an, teristimewa melalui upaya Paus St Pius V. Pada waktu itu, kaum Muslim Turki menyerang Eropa Timur. Pada tahun 1453 Konstantinopel telah jatuh ke tangan Muslim, sementara Balkan dan Hungaria nyaris ditaklukkan. Pada tahun 1521 kaum Muslim berhasil menaklukkan Belgrade, Hungaria, dan pada tahun 1526 mereka telah berada di perbatasan Vienna, Austria. Dengan kaum Muslim menyerbu bahkan pesisir Italia, maka penguasaan atas Mediterania sekarang di ujung tanduk.
            Pada bulan Februari 1570, utusan Turki menyampaikan ultimatum kepada Republik Venisia: menyerahkan kepulauan Siprus secara damai atau menghadapi perang. Venisia menolak, dan setelah berperang selama sebelas bulan, Siprus takluk pada kekuasaan Muslim pada tanggal 1 Agustus 1571. Syarat-syarat penyerahan diri ditetapkan demi keselamatan pasukan Kristen yang kalah. Tetapi, begitu komandan Muslim mengambil alih kuasa kota, ia memerintahkan agar komandan Kristen, Marcantonio Bragadin, dikuliti hidup-hidup. Tubuhnya kemudian dibelah menjadi empat, dan sayatan kulitnya diisi jerami dan seragamnya dikenakan padanya, lalu diseret sepanjang kota. Sekarang kaum Kristen tahu benar musuh macam apa yang tengah mereka hadapi.
            Pada tahun 1571, Paus St Pius V mengorganisir suatu armada di bawah komando Don Juan dari Austria, sanak Raja Philip II dari Spanyol. Bala tentara dari Spanyol, Venisia, Roma, Savoy, Genoa, Lucca, Tuscany, Manova, Parma, Urbino, dan Ferrara, juga Malta membentuk suatu aliansi melawan Turki. (Menariknya, Perancis yang Katolik menolak bersatu dan bahkan mendanai pasukan Muslim Turki demi melemahkan musuh bebuyutan mereka, Jerman-Austria). Sementara persiapan dilakukan, Bapa Suci meminta segenap umat beriman untuk mendaraskan rosario dan memohon bantuan doa Bunda Maria di bawah gelar “Bunda Kemenangan,” memohon Tuhan menganugerahkan kemenangan kepada umat Kristiani.
Meski armada Muslim jauh melampaui armada Kristiani, baik dalam jumlah kapal-kapal perang maupun pasukan, kedua armada siap bertempur. Kapal pemimpin Kristen mengibarkan bendera biru dengan lukisan Kristus Tersalib, sementara bendera Muslim mencantumkan ayat-ayat dari Al Quran menyerukan jihad dan membasmi “orang-orang kafir”. Pada hari Minggu, 7 Oktober 1571, pukul 11 pagi, Pertempuran di Lepanto dimulai, dan dalam tempo lima jam, kaum Muslim dikalahkan. Siang itu, sementara Paus St Pius V tengah berada dalam suatu rapat, sekonyong-konyong beliau berdiri, menuju jendela, menatap ke luar ke arah pertempuran berlangsung bermil-mil jauhnya, dan mengatakan, “Marilah kita berhenti menyibukkan diri dengan masalah-masalah ini dan marilah kita mengucap syukur kepada Tuhan. Armada Kristen telah meraih kemenangan.” 
Tahun berikutnya, Paus St Pius V sebagai ungkapan syukur menetapkan Pesta Rosario Suci pada tanggal 7 Oktober di mana umat beriman tidak hanya mengenangkan kemenangan ini, melainkan juga terus menyampaikan syukur kepada Tuhan atas segala rahmat-Nya dan mengenangkan kuasa perantaraan Bunda Maria kita. Bapa Suci juga secara resmi menganugerahkan gelar, “Auxilium Christianorum” atau “Pertolongan Orang-orang Kristen” pada Bunda Maria. Mejelis Tinggi Venesia juga mencantumkan pada sebilah papan dalam ruang pertemuan mereka, “Non virtus, non arma, non duces, sed Maria Rosari, victores nos fecit,” yang artinya, “Bukan kegagahan, bukan senjata, bukan pemimpin, melainkan Maria dari Rosario yang membuat kita menang.”
Mengenangkan tindakan Paus Pius V, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, dalam sebuah amanat Angelus yang disampaikan pada bulan Oktober 1983 mengatakan, “Rosario juga mengambil perspektif baru dan dibebani dengan intensi-intensi yang terlebih dahsyat dan terlebih banyak dari masa lalu. Sekarang bukan masalah memohon kemenangan besar, seperti di Lepanto dan di Vienna, melainkan memohon Maria untuk menyediakan bagi kita pejuang-pejuang yang gagah berani melawan roh kejahatan dan kesesatan, dengan senjata-senjata Injil, yakni Salib dan Sabda Allah. Doa Rosario adalah doa manusia untuk manusia. Rosario adalah doa solidaritas kemanusian, doa bersama orang-orang yang ditebus, dengan merefleksikan roh dan intensi dari dia yang pertama-tama ditebus, yakni Maria, Bunda dan Citra Gereja. Rosario adalah doa bagi segenap manusia di dunia dan dari sepanjang sejarah, yang hidup dan yang mati, yang dipanggil untuk menjadi Tubuh Kristus bersama kita dan bersama-sama kita menjadi ahli waris bersama dengan Dia dalam kemuliaan Bapa.”
Di masa-masa belakangan ini, rosario telah dijunjung tinggi dan dianjurkan sebagai suatu sarana yang efektif bagi pertumbuhan rohani. Banyak para kudus mendorong didaraskannya rosario, termasuk St Petrus Kanisius, St Filipus Neri dan St Louis de Montfort. Paus Leo XIII, yang kerap disebut “Paus Rosario”, berupaya memelihara tradisi doa ini, yang ditegaskannya sebagai suatu senjata rohani yang ampuh melawan kejahatan (Supremi Apostolatus Officio, 1884). Paus Pius XI pada tahun 1938 memberikan indulgensi penuh kepada barangsiapa yang mendaraskan rosario di depan Sakramen Mahakudus. Paus Beato Yohanes XXIII dan Paus Paulus VI keduanya juga dikenal sebagai penganjur rosario yang gigih. Buku Pedoman Indulgensi (1969), yang mendapatkan persetujuan Paus Paulus VI, memberikan indulgensi penuh “jika rosario didaraskan di sebuah gereja atau suatu tempat doa umum, atau dalam suatu kelompok keluarga, suatu komunitas religius atau perkumpulan saleh….” (No. 48).
Yang paling akhir, untuk menandai diawalinya 25 tahun masa pontifikatnya, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II menerbitkan Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae, dimana beliau menetapkan Peristiwa Cahaya dan lagi, mendorong umat beriman untuk menggunakan rosario untuk “bersama Maria, merenungkan wajah Kristus.” Dengan mengesampingkan adanya gagasan bahwa rosario mengalihkan perhatian orang dari liturgi atau gagasan bahwa rosario merupakan penghalang bagi ekumene, Bapa Suci menegaskan, “Alasan paling kuat untuk mendesakkan pelaksanaan doa rosario adalah karena doa rosario merupakan sarana yang paling efektif untuk mengembangkan di kalangan kaum beriman komitmen untuk berkontemplasi pada misteri Kristiani; ini sudah saya usulkan dalam Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte sebagai `latihan kekudusan' yang sejati. `Kita memerlukan kehidupan Kristiani yang menonjol dalam seni berdoa.'” (No 5).
Sebab itu, rosario meupakan bagian dari sejarah rohani Gereja yang patut dijunjung tinggi. Rosario memampukan umat beriman untuk berpartisipasi dalam sejarah keselamatan yang hidup, mempersatukan kita secara lebih akrab dengan Juruselamat dan BundaNya yang Tesuci, dan dengan segenap Gereja. Rosario perlu menjadi bagian dari sejarah tiap-tiap individu dan tiap-tiap keluarga, sebab melalui doa rosario ikatan kasih diperteguh.