Jumat, 11 November 2011

Kekhasan Iman Katolik


Perbedaan Paham Teologi Dan Praksis Iman Katolik Dan Protestan

POINT2
IMAN PROTESTAN
IMAN KATOLIK
Kodrat manusia akibat dosa asal
Hancur, tiada yang baik dalam dirinya. Keselamatan karena rahmat Tuhan saja dan yg bisa dilakukan mans:beriman saja (sola fides)
Retak, masih ada sisi baik yang masih bisa dimanfaatkan:kehendak baik, akal budi. Maka dalam moral Katolik, penalaran akal budi juga dimanfaatkan, tidak hanya dasar KS.
Sumber iman
Kitab Suci
Kitab Suci + Tradisi + Magisterium (Kuasa Mengajar Gereja)
Iman
Soal Fides (hanya iman)
  •  Rm 3:28 (manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat)
Iman + Perbuatan
  •   Iman tanpa perbuatan=mati(Yak 2:17)
  • Yang terbesar adalah Kasih (1Kor 13:1-13)
  • Syarat selamat:melakukan kehendak Bapa=Kasih (Mat 7:21;Mat 25:40)
Rahmat
Sola Gratia (hanya rahmat)
Rahmat + Usaha manusia
Ingat kasih penggandaan roti dan mukzijat di Kana. Buuh usaha manusia. Usaha manusia yang diberkati Tuhan menjadi berkat berlipat ganda.
Kitab Suci
Sola Scriptura (hanya KS)
  • Segala sesuatu mesti dicari dasar alkitabiahnya
  •  Dimungkinkan menafsirkan KS secara pribadi
Kitab Suci + Tradisi
  • Pada awal mulanya adalah pewartaan lisan, kemudian disusun menjadi tradisi tertulis (KS)
  • Tidak semua tertulis dalam KS (Yoh 21:25)
  • Penafsiran KS oleh Magisterium
Jumlah Kitab Suci
Protokanonika + PB (66 kitab)
Protokanonika+Deuterokanonika+PB (73 kitab). Dasar doa arwah: 2Mak 12:38-45, bdk.indikasi api penyucian dlm Mat 12:32
Sakramen
Sola Signa (hanya tanda)
Tanda+sarana kehadiran Tuhan untuk menyalurkan rahmat-Nya.
Tujh sakramen masing-masing ada dasar KS-nya. Cara yang biasa dan lazim Tuhan menyalurkan rahmat-Nya kepada kita.
Ekaristi Kudus
Biasanya, diadakan 4 kali setahun atau sebulan sekali.
Diadakan setiap hari (Kis 2:46)
Kehadiran Yesus dalam Ekaristi
Kehadiran Kristus saat Komuni Kudus disambut dalam perjamuan Kudus.
Dalam hostia Kudus, Yesus tetap hadir kendati misa sudah usai. Disimpan dalam Tabernakel.
Perayaan Liturgi
Menekankan Pewartaan Firman dan Pujian
Diundang pesta(dengar Firman+ sambut komuni). Beriman dengan seluruh indera.
Bacaan Liturgi hari Minggu
Bervariasi tiap gereja
Sama untuk semua Gereja Katolik Roma di seluruh dunia.
Mediasi
Hanya Yesus satu-satunya perantara
Yesus sbg perantara paling efektif, kemudian St.Maria, para kudus, malaikat dan imam
Kepemimpinan Gereja
Kesamaan martabat berkat baptis
  •  Imamat umum semua orang berkat baptis
  •  Ada hirarki (uskup,imam, diakon) yang menerima imamat jabatan.

b.    Sifat Gereja
Satu           = satu dalam pengakuan iman, dalam ibadat bersama(sakramen) dan mengakui suksesi apostolik (kepemimpinan Paus)
Kudus        = kekudusan Gereja karena bersatu dengan Kristus sang Kepala
Katolik       = universal ; tertuju bagi semua bangsa, dan terbuka terhadap kekayaan budaya bangsa yang tidak bertentangan dengan iman.
Apostolik   = (apostos=rasul)= iman katolik berdasarkan pengajaran para rasul

KECAPLAH BETAPA SEDAPNYA, TUHAN : sebuah Undangan untuk Mengenal Allah lewat Kitab Suci




Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak Mengenal Allah : Demikian ungkapan klasik dari St. Hironimus.
Allah berbicara kepada kita dalam kata-kata manusia. “Sabda Allah, yang diungkapkan dengan bahasa manusia telah menyerupai pembicaraan manusiawi, seperti dulu sabda Bapa yang kekal, dengan mengenakan daging kelemahan manusiawi, telah menjadi serupa dengan manusia” (DV,13)

Itulah sebabnya Gereja selalu menghormati Kitab Suci seperti ia menghormati tubuh Tuhan. Konsili Vatikan II merumuskan pentingnya Kitab Suci dalam kehidupan umat Allah. “ Kitab-kitab  Ilahi seperti juga Tubuh Tuhan sendiri selalu dihormati oleh Gereja , yang terutama dalam liturgi suci tiada henti-hentinya menyambut roti kehidupan dari meja sabda Allah maupun Tubuh Kristus, dan menyajikannya kepada umat beriman.
Kitab-kitab ini bersama dengan Tradisi Suci selalu dipandang dan tetap dipandang sebagai norma imanya yang tertinggi ... Sebab dalam kitab-kitab suci Bapa yang ada di surga penuh cinta kasih menjumpai para putera-Nya, dan berwawancara dengan mereka.”(DV 21).
            Berdasarkan dokumen Sabda Allah yang dirumuskan oleh KV II di atas bisa dipetik.
Pertama, kitab-kitab Ilahi dihormati sama dengan Tubuh Tuhan oleh Gereja. Konsili menyejajarkan komuni suci dengan Sabda Allah. Artinya, keduanya dalam kehidupan iman mempunyai bobot sejajar.
Kedua, umat beriman bisa menyambut baik Tubuh Tuhan maupun Sabda Allah dalam liturgi Gereja. Ibadat sabda maupun perayaan Ekaristi menjadi tanda pertemuan orang beriman dengan Allah. Keduanya untuk membangun persatuan dan wawancara dengan Allah.
Ketiga, kitab-kitab suci bersama dengan tradisi Gereja menjadi pedoman iman yang tertinggi. Ungkapan dan perwujudan iman dalam hidup ditata oleh pedoman itu.
Keempat, Alasannya ialah, bahwa di dalam kitab-kitab suci itu Allah mau menjumpai dan berwawancara dengan umat-Nya. Kitab suci lalu merupakan sarana pergaulan dengan Allah dalam cinta-Nya. Membaca kitab suci berarti melatih pergaulan kita dengan Allah.
Membaca Kitab Suci bukanlah sekadar wajib, melainkan menjadi sarana ampuh membina pergaulan kita yang mesra dengan Allah, meningkatkan hubungan yang penuh Cinta dengan Allah yang selalu menyapa, yang ingin menyampaikan rencana kehendakNya untuk kita semua.

DIANJURKAN MEMBACA KITAB SUCI (DV 25)

 
            Ada beberapa anjuran untuk menggali kekayaan Kitab Suci.
Pertama, membaca dengan asyik. Nikmati Kitab Suci dengan keasyikan seperti kalau orang sedang asyik membaca novel. Hanya saja yang dibaca adalah pengalaman rohani, hubungan manusia dengan Allah. Semoga keasyikan itu bisa mengarah pada pengembangan keyakinan iman.
Kedua, mempelajari dengan sesama agar kekayaan Sabda itu terolah. Mempelajari berarti berusaha memahami segala macam seluk beluk yang diperlukan, misalnya arti sebuah rumusan, bentuk kisah. Namun, hendaklah diingat bahwa doa harus menyertai pembacaan Kitab Suci, supaya terwujudlah dialog antara Allah dan manusia. Sebab “Kita berbicara denganNya bila berdoa; Kita mendengarkanNya bila membaca amanat-amanat Ilahi”.
Ketiga, menghayatinya dalam batin. Hayatilah pengalaman pergaulan manusia dengan Allah. Sehingga memperoleh “pengertian yang mulai akan Yesus Kristus” (Flp 3:8)

BAGAIMANA KITAB SUCI HARUS DITAFSIRKAN

            Konsili merumuskan demikian:”Adapun karena Allah dalam Kitab Suci bersabda melalui manusia secara manusia, maka untuk menangkap apa yang oleh Allah mau disampaikan kepada kita penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan cermat, apa yang sebenarnya mau ditampakkan oleh Allah dengan kata-kata mereka.
            Untuk menemukan makdus para pengarang suci antara lain perlu diperhatikan juga “jenis-jenis sastra”. Sebab dengan cara yang berbeda-beda kebenaran diungkapkan dalam nas-nas yang dengan aneka cara bersifat historis, atau profetis, atau poetis, atau dengan jenis sastra lain.
            Akan tetapi Kitab Suci ditulis dalam Roh Kudus dan harus dibaca dan ditafsirkan dalam Roh itu juga. Maka untuk menggali dengan tepat arti nas-nas suci, perhatian yang sama besarnya harus diberikan kepada isi dan kesatuan seluruh Alkitab, dengan mengindahkan tradisi hidup seluruh Gereja serta analogi iman ... “ (DV 12)
            Kutipan panjang di atas menegaskan beberapa hal penting untuk membaca, memahami, dan menggali kekayaan Kitab Suci. Diantaranya adalah meyakini bahwa Sabda Allah disampaikan dalam bahasa manusia dengan memperhatikan pengalaman iman berkat dorongan Roh Kudus.
Kita membaca Kitab Suci mesti disertai doa, agar Roh Allah menyuburkan hati dan budi kita, sehingga kita didorong mengenali bagaimana Allah menuntun kita.
Artinya, hendaknya kita membaca Kitab Suci sambil merenungkannya. Karena itu perlu beberapa cara atau trik.

MENGECAP SABDA DENGAN 3N

Neges, berarti mendengarkan, memperhatikan, dan kemudian mengartikan.

Beberapa hal perlu direnungkan : Sabda Allah itu berbicara tentang apa? Siapa subyeknya? Apa yang sedang terjadi?  Dst........

Necep, berarti merenungkan, meresapkan dan mengecap atau menghayati.
Apakah saya sendiri pernah mengalami hal serupa? Kapan? Dimana? Dst.........

Ngemban, berarti melaksanakan, menghormati sebagai tugas pewartaan atau doa. Sabda Allah menuntun saya untuk perbuat apa? Bagaimana saya melaksanakan tugas tersebut?
Apa saya bangga dengan tugas tersebut? Dst ................

“Witing tresno jalaran soko kulino” ( Cinta karena terbiasa). Demikian halnya dengan membaca Kitab Suci. Hanya kalau  kita berani “ngulinakake” ( membiasakan) maka kita bisa “tresno” ( mencintai).

AKHIR KATA
Maka semoga dengan demikian melalui membaca dan studi kitab Suci “ Sabda Allah berjalan terus dan dimuliakan” (2 Tes 3:1), dan perbendaharaan wahyu yang dipercayakan kepada Gereja semakin memenuhi hati orang-orang.
Seperti hidup Gereja berkembang karena umat sering dan dengan rajin menghadiri misteri Ekaristi, begitu pula boleh diharapkan dorongan baru dalam hidup rohani karena Sabda Allah yang “ tinggal selama-lamanya” ( Yes 40:8; lih 1 Petrus 1 : 23-25) semakin dihormati.




Pembedaan Roh


Istilah pembedaan roh atau penegasan roh biasa digunakan untuk menerjemahkan kata discernment of spirit, yang berasal dari bahasa Latin discretio spirituum. Discretio berasal dari bahasa Latin discenere yang berarti menyendirikan, membagikan, menceraikan, memisahkan (satu dari yang lain). Discretio merupakan karunia yang memampukan seseorang untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang salah, yang asli dan yang palsu. Maka, pembedaan atau penegasan roh menunjuk karunia untuk membedakan apakah sesuatu berasal dari roh baik atau dari roh jahat. 

Raja Salomo sudah memohon kepada Allah karunia pembedaan roh:”Berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang paham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat” (1 Raj 3:9). Dalam Perjanjian Baru karunia pembedaan roh mendapat dasarnya pada pernyataan Paulus yang menyebut “karunia untuk membedakan macam-macam roh” (1 Kor 12:10). Bagi Paulus , karunuia pembedaan roh itu merupakan salah satu dari berbagai karunia Roh Kudus.  Karunia pembedaan roh ini dilihat sebagai perwujudan makna hidup Kristiani yang “dipimpin oleh Roh” (Gal 5:18 ; Rm 8:14). Orang yang dipimpin Roh tidak akan pernah memadamkan Roh dan menguji segala sesuatu dan berpegang pada yang baik (1 Tes 5:19,21). Tradisi Yohanes juga mengenal dengan baik kebiasaan untuk membedakan Roh ini. “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah” (1Yoh 4:1).

Sudah sejak semula para rahib mempraktekkan discretio spirituum. St. Antonius , bapa para pertapa dan rahib, berkata:” Ada orang yang suka memforsir diri mereka dengan laku tapa sebagai denda dosa. Akan tetapi karena mereka tidak memiliki karunia untuk membedakan Roh, mereka tetap jauh dari Allah.” Bahkan St. Benediktus menyebut pembedaan roh sebagai mater virtutum atau induk segala keutamaan. Pada abad pertengahan, pembedaan roh ini dipelihara oleh para mistikus. 
  
Pada permulaan jaman modern (abad ke-16) St. Ignasius Loyola memberi warna dan nuansa baru dalam ajaran pembedaan dan penegasan roh. Ajaran Ignasius tentang pembedaan roh terutama diwarnai oleh pengalaman pribadinya yang ia tuangkan dalam buka Latihan Rohani.  Seluruh petunjuk dan pelaksanaan Latihan Rohani menjadi ajaran Ignasius mengenai pembedaan roh. Ignasius memberikan bantuan dan berbagai petunjuk mengenai pembedaan roh ini. (Selanjutnya bisa dibaca dalam Latihan Rohani; Kanisius, 1993).

Pembedaan roh bertanya: apa yang Tuhan kehendaki atas diriku dalam situasi konkret sekarang ini, bilamana situasi dan aneka faktor di dalamnya tidak jelas dan bilamana kita tidak bisa mencapai pertimbangan dan kesimpulan akhir. Ignasius mengajak kita pertama-tama untuk bersikap terbuka secara total (indifferent) di hadapan Allah. Dengan kata lain, Ignasius mengundang kita untuk bersikap lepas bebas terhadap segala sesuatu dan hanya mau memilih sesuatu sejauh itu membantu dan membimbing kita ke arah kita diciptakan, yakni memuji, menghormati dan mengabdi Tuhan Allah kita (Asas dan Dasar Latihan Rohani, 23). Dalam pembedaan dan penegasan roh, orang perlu mengamati gerak roh kita pada awal, proses, dan akhir. 
Kalau semua gerakan itu, dari awal, proses, dan akhir memberi kita hiburan rohani sebagai buah-buah Roh Kudus (sukacita,damai sejahtera,kesabaran,kelemahlembutan,penguasaan diri,dst), maka gerak itu berasal dari Roh Allah, roh baik. Sebaliknya kalau gerakan itu membawa kepada kecemaran, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, maka gerakan itu berasal  dari roh jahat. Sebagai patokan dasar dari pembedaan dan penegasan roh ialah dengan melihat arah gerakan roh kita. Gerakan yang berasal dari roh baik selalu memiliki arah gerakan keluar dari diri sendiri untuk mencintai dan menuju pada Allah : God- centered. Sedangkan gerakan yang berasal dari roh jahat selalu mempunyai arah sebaliknya, yakni masuk kedalam diri sendiri: self-centered. Kedua arah itu sesuai dengan hakekat cinta kasih dan dosa. Kasih selalu bersifat God- centered, keluar dari kepentingan diri kepada cinta akan Allah dan sesama. Sedangkan dosa selalu bersifat self-centered, karena dosa berupaya bagi pemenuhan kepuasan dan kepentingan diri sendiri.

Menguji roh, apakah roh itu berasal dari Allah atau bukan, merupakan suatu tuntutan dasar hidup Kristiani, mengingat gerak hati dan hidup kita selalu diliputi ambiguitas atau kemenduaan. Kerajaan Allah yang hadir dalam sejarah hidup kita ini seumpama “orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih ilalang di antara gandum itu, lalu pergi.Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir,nampak jugalah ilalang itu”(Mat 13:24-26). Pembedaan roh itu diperlukan untuk mengetahui manakah benih gandum yang baik dan manakah ilalang dari si jahat. Pembedaan roh ialah usaha untuk menceraikan benih yang baik itu dari benih yang jahat. Sebab dalam kenyataan, diri dan hidup kita tidak hanya menjadi medan karya Roh Allah, tetapi juga medan serangan roh jahat atau kuasa dosa.

Dewasa ini pembedaan atau penegasan roh merupakan sesuatu yang amat mendesak. Seluruh tradisi spiritualitas tidak pernah menyangsikan pentingnya discretio spirituum. Konsili Vatikan II sendiri mempraktekan pembedaan roh dengan istilah lain membaca tanda-tanda zaman. “Gereja selalu wajib menyelidiki tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam cahaya Injil” (GS 4). Gereja mengajak kita untuk selalu peka atas bimbingan Roh Kudus dan tanggap atas rencana dan kehendak Allah bagi kita dan dunia ini : “Umat Allah, terdorong oleh iman, bahwa mereka dibimbing oleh Roh Tuhan yang memenuhi seluruh bumi, berusaha mengenali dalam peristiwa-peristiwa, tuntutan-tuntutan serta aspirasi-aspirasi yang mereka rasakan bersama dengan sesama lainnya pada zaman sekarang ini, mana sajalah dalam itu semua isyarat-isyarat sejati kehadiran atau rencana Allah” (GS 11).