Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Februari 2012

Jangan Hanya Jatuh Cinta, Tapi Bangunlah Cinta

oleh Rosa E Mawaty


Mengapa orang menikah?
Karena mereka jatuh cinta.
Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia?
Apakah karna jatuh cinta?
Bukan!!!
Tapi karena mereka terus bangun cinta.
Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa.
Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup.
Mengapa jatuh cinta gampang?
Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita.

Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yg bisa ditutupi lagi.
Dengan interaksi 24 jam per hari, 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap..

Disini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta.
Jatuh cinta dalam keadaan menyukai.
Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel.
Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik dalam memahami konflik dan bersama-sama mencari solusi yang dapat diterima semua pihak.
Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg-uneg/ ganjalan dalam hatinya, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah sex..
Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut-larut.

Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan.
Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai.
Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah bukan surga lagi tapi neraka.
Apakah kondisi ini bisa diperbaiki?
Tentu saja bisa, saat masing-masing mengingat komitmen awal mereka dulu apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup.
Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan??

Mencari teman hidup/ pasangan hidup memang dimulai dengan jatuh cinta.
Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta.
Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab.
Mau punya pasangan hidup? Jatuh cintalah. Tetapi sesudah itu bangunlah cinta.
Bagaimana caranya membangun cinta?
Setiap kita atau pasangan kita tentunya ingin menjadi pendamping yang baik bagi pasangannya.
Nah, apakah selama ini kita sudah menyempatkan diri untuk membenahi sikap agar dapat menjadi pendamping yang dibutuhkan oleh pasangan kita?
Cobalah lakukan beberapa cara berikut dalam membangun cinta, agar hubungan dengan pasangan jadi lebih solid.
Jika selama ini Anda merasa telah memperlakukan pasangan dengan buruk, di bawah ini ada beberapa cara yang bisa membantu Anda memperbaikinya.
Kuncinya sederhana saja dalam membangun cinta! Jika Anda ingin menjadi yang terbaik bagi orang lain, Anda pun harus belajar menjadi yang terbaik bagi diri sendiri.

1. Jangan Remehkan Diri Sendiri
Jangan pernah mengatakan Anda bukan yang terbaik bagi pasangan. Sekarang bagaimana dapat dihargai jika Anda sendiri tidak berusaha untuk menaikkan harga diri Anda sendiri. Satu hal, jangan pernah menyalahkan diri sendiri atas kesalahan di masa lalu karena hal tersebut dapat menghambat Anda untuk mencoba sesuatu yang baru dan menghambat keberhasilan Anda di masa yang akan datang.
Bebaskan dirimu dari belenggu masa lalu. Hiduplah hari ini tuk menciptakan masa depan yg lebih baik. Miliki hati, jadikan berarti.

2. Landasi Hubungan dengan Kejujuran
Tidak ada satupun hubungan yang sukses jika dibangun dengan kebohongan.
Sekali pun pasangan tidak pernah mencari tahu kebenarannya ucapan atau tindakan Anda, namun kebohongan bisa mempengaruhi hubungan Anda berdua.

3. Lakukan Hal yang Membahagiakan
Coba ingat, berapa kali Anda melakukan hal yang Anda tak sukai hanya untuk menyenangkan atau membahagiakan pasangan. Padahal, jika Anda menyadari, setiap kali Anda melakukan cara itu, sebagian cinta Anda untuk pasangan telah mati.

4. Jangan Pernah Mengecilkan Pasangan
Setiap orang pernah berbuat salah dalam hidupnya dan setiap orang bekerja pada ritme yang berbeda.
Jika Anda selalu menghabiskan waktu untuk mengomeli pasangan hanya karena masalah sepele yang menurut Anda keliru, bagaimana Anda dapat mengharapkan pasangan melakukan sesuatu yang benar.

5. Jangan Batalkan yang Telah Anda Janjikan
Kepercayaan sangat penting bagi setiap hubungan.
Jika Anda telah menjanjikan sesuatu kemudian Anda batalkan secara sepihak, pasangan pun akan sulit mempercayai Anda kembali.

6. Ciptakan Keromantisan
Salah satu indikator kegagalan hubungan adalah kurangnya romantisme. Memang tak semua manusia diciptakan memiliki sifat romantis yang tinggi. Namun untuk mempertahankan hubungan, romantisme sebenarnya bisa dipelajari. Tak harus dengan bunga untuk menunjukkan keromantisan Anda. Sekadar kecupan yang spontan juga dapat dimasukkan ke dalam kategori romantis.

7. Selalu Ada Bagi Pasangan
Tidak ada yang lebih penting dalam hidup Anda selain bisa menjalani hidup bersama pasangan.
Teman bisa datang dan pergi, tetapi pasangan akan selalu bersama Anda untuk seluruh perjalanan hidup.
Jika pasangan sedang memiliki masalah atau memerlukan Anda, tidak ada cara lain, Anda harus berada di sampingnya.

8. Komunikasi (Ada waktu berbicara & Ada waktunya mendengarkan)
Ini merupakan salah satu kunci utama untuk mendapatkan hubungan yang langgeng.
Tak ada masalah yang tak terselesaikan jika didasari dengan komunikasi. Bicarakan segala hal yang menyangkut hubungan Anda berdua, mulai masalah uang hingga urusan-urusan yang lain.
Dan ingat beri waktu pasangan Anda untuk berbicara dan Anda mau menjadi pendengar yang baik.
Niscaya, takkan ada ganjalan di dalam perjalanan Anda.

9. Perlakukan Pasangan Dengan Sopan
Panggilah namanya dengan sopan. Janga berteriak, apalagi jika di hadapan banyak orang. Jangan pula perlakukan pasangan dengan tidak baik, melebihi cara Anda memperlakukan teman baik Anda. Junjung tinggi keberadaannya di mana saja Anda berada.

10. Hormati dan Jaga Perasaannya
Baik pada masa pacaran maupun sudah menikah kita wajib mengormati pasangan kita, bahkan dengan menghargai sesuatu yang pasangan kita berbuat itu adalah salah satu cara menjaga perasaan pasangan kita.
Jadi, hormati dia sebagai pasangan hidup Anda dan jangan bongkar kejelekannya di hadapan keluarga apalagi teman-teman Anda.
Kuncinya, seburuk apapun pasangan di mata Anda, tapi ia harus tetap menjadi yang terbaik di hadapan orang lain.

"Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan."
"Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia."
"Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada diantara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu."
"Demikian juka kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu tidak terhalang." (bdk. Kol 3:18-19, 1 Ptr 3:1,2&7)

Sahabat, Jatuh Cintalah kemudian bangunlah Cinta sebab:

Cinta bukanlah sebuah permainan.
Cinta adalah perpaduan dua hati yg saling berjanji, meski pernah tersakiti, cinta tak akan pergi.

Cinta adalah ketika kamu temukan seseorang yang bahkan tak sesuai dengan yang kamu impikan, tapi kamu tetap berkata, "akhirnya aku menemukanmu"

Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.

Ketulusan cinta dan kasih sayang tidak dapat dilihat atau didengar, tetapi hanya bisa dirasakan dengan hati.

MENCINTAI bukan bagaimana kamu MELIHAT tapi bagaimana MERASAKAN.
Bukan bagaimana kamu MENDENGAR tapi bagaimana MENGERTI.

Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita...

Ketika kamu tulus mencinta, kamu akan lakukan apapun tuk melihatnya bahagia, bahkan jika itu berarti mengorbankan kebahagiaanmu juga.

Dalam cinta, meski kamu harus menunggu lama, percayalah bahwa cinta pasti membawamu ke tempat kamu seharusnya berada.

Dalam cinta, temukan dia yang tak takut mengakui bahwa dia merindukanmu. Dia yang tahu kamu tak sempurna, tapi memperlakukanmu dengan sempurna.

Cinta menumbuhkan kebahagiaan dalam kebersamaan,
Kerinduan saat terpisah,
Kegalauan dalam ketidak-jelasan,
Kepedihan karena ketidak-setiaan,
Kenangan pada masa lalu, dan
Harapan pada masa depan

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan.
Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan.
Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat

Ketika kamu tulus mencinta, tak akan pernah ada kata menyerah.
Meski pikiran ingin berputus asa, namun hati tetap ingin mencoba.

Bukti terbaik dari cinta adalah kepercayaan
Suatu hubungan tanpa rasa percaya, bukanlah 2 hati yg saling cinta, tapi hanya 2 orang yg menghabiskan waktu bersama.

Kesungguhan Cinta dan ketulusan cinta tidak akan luntur hanya dengan keegoisan semata.

Menjadi sangat dicintai oleh seseorang memberi Anda kekuatan, sementara mencintai seseorang secara mendalam memberi Anda keberanian.

Jika sedang putus cinta janganlah mengangap dia telah mengecewakan dan meningalkanmu, tapi anggaplah dia adalah seorang yang tak pantas bagimu.

Ketika dia yg kamu cinta mengatakan bahwa kamu tak cukup baik baginya, kamu harus menyadari hidupmu jauh lebih baik jika tanpanya.

Jangan berpikir kamu tak mampu hidup tanpa dia yg meninggalkanmu.
Percayalah, ada seseorang yang lebih baik menunggu tuk buatmu bahagia.

Banyak hal dalam hidup ini yg bisa membahagiakanmu, namun tak ada yang lebih bahagia daripada cinta dari seseorang yg kamu cintai.

Nikmatilah cinta dengan kasih putih, Maka akan lahir cinta sejati.

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.

Cintai seseorang bukan karena siapa dirinya, tapi karena siapa dirimu ketika bersamanya.

Dan ingat!!!

"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya." (bdk. 2 KORINTUS 6:14)

Kamis, 10 November 2011

PANGGILAN SUAMI ISTERI : SALING MENCINTAI

Suatu pagi, seorang bapak datang kepada seorang pastor. Ia baru saja bertengkar dengan istrinya yang telah memberinya lima orang anak. Dia merasa sangat kesal terhadap istrinya. Menurutnya, istrinya telah merendahkan martabatnya sebagai seorang lelaki dan kepala keluarga. Karena itu, ia ingin menceraikan istrinya. Ia sudah bosan hidup dalam konflik terus-menerus dengan istrinya.

Kepada pastor, ia berkata, “Pastor, saya sudah tidak tahan lagi hidup dengan istri saya. Dia selalu meremehkan saya. Kalau boleh, saya menceraikan dia.”

Pastor itu tersenyum mendengar pengaduan bapak itu. Beberapa saat kemudian, ia berkata kepadanya, “Orang beriman itu mesti selalu setia. Apa pun situasinya.”

Bapak itu terkejut mendengar kata-kata pastor itu. Ia tidak percaya mendengar kata-kata pastor itu. Ia tahu dan sadar bahwa ia mesti selalu setia kepada istrinya. Tetapi kali ini ia sudah tidak sabar. Ia tidak ingin hidup lebih lama dengan istrinya. Lantas ia berkata, “Tetapi pastor, kesetiaan saya sudah habis. Apa saya harus memaksakan diri?”

Pastor itu tersenyum mendengar kata-kata bapak itu. Lalu ia berkata, “Bapak, tidak semua orang dipanggil dan dipilih untuk menjadi suami dari istri bapak. Pasti dia punya hal-hal yang sangat baik. Pasti dia punya keunggulan-keunggulan yang hanya boleh dimiliki oleh bapak. Cobalah setia kepadanya walaupun ia meremehkan bapak.”

Setiap orang dipanggil dan dipilih oleh Tuhan untuk hidup bersama yang lain. Dalam kehidupan berkeluarga, setiap orang dipanggil secara khusus untuk menjadi suami atau istri untuk orang tertentu saja. Ada perbedaan-perbedaan yang begitu besar di antara dua insan yang membangun keluarga. Tetapi perbedaan-perbedaan itu menjadi rahmat yang menguatkan. Perbedaan-perbedaan itu menjadi kekayaan yang dapat digunakan untuk memajukan kehidupan berkeluarga.

Ada kalanya di antara dua insan itu terjadi kesalahpahaman. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal itu. Kalau ada konflik, mereka mesti dapat menyelesaikannya dengan kepala dingin. Konflik tidak diselesaikan dengan sensasi. Mereka mesti terus-menerus berusaha untuk menyelesaikan konflik itu. Tuhan menghendaki mereka tetap setia dalam panggilan hidup berkeluarga itu.
Untuk itu, setiap keluarga mesti tetap setia pada komitmen yang telah mereka ikrarkan pada saat perkawinan mereka. Ketika mereka menikah, mereka bersumpah setia satu sama lain dalam untung dan malang. Maka mereka mesti tetap setia pada komitmen itu. Mereka mesti memelihara komitmen itu dalam perjalanan hidup mereka.
Hidup berkeluarga itu juga suatu panggilan dari Tuhan. Tuhan menghendaki agar keluarga-keluarga membangun cinta kasih dan persaudaraan. Dalam konteks ini, suami istri dipanggil untuk saling menyucikan diri dengan saling mencintai. Ketidaksetiaan itu melukai hidup berkeluarga.

Karena itu, saya mengajak keluarga-keluarga untuk tetap bertahan dalam hidup berumah tangga. Yakinlah, Tuhan senantiasa menyertai dan memberikan rahmatNya bagi keluarga-keluarga. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

Menyikapi Konflik

a.      Memahami Konflik.
Masyarakat memiliki perspektif atau pandangan ayang berbeda tentang hidup dan masalahnya. Misalnya:
1.      Kita masing-masing memilii sejarah dan karakter yang unik.
2.      Kita masing-masing dilahirkan dalam satu carahidup tertentu.
3.      Kita masing-masing memiliki nilai-nilai, yang memandu pikiran dan perilaku kita serta motivasi kita dalam mengambil tindakan tertentu dan menolak tindakan lainnya.

Perbedaan-perbedaan ini lah yang sering kali menimbulkan konflik. Namun sesunggguhnya perbedaan itu bila dilihat dengan kacamata suatu masalah dan memperbaiki situasi yang sedang dihadapi.
b.      Konflik dan kekerasan adalah dua hal yang berbeda:
·         Konflik adalah hubungan antara 2 pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan.
·         Kekerasan meliputi tindakan, perkataan, sikap, berbagai struktur atau sistem yang menyebankan kerusankan secara fisik, mental dan social atau lingkungan dan atau menghalangi seseorang untuk meraih potensinya secara penuh.

Konflik adalah satu kenyataan hidup, tidak terhindarkan dan sering bersifat kreatif. Konflik terjadi ketika tujuan kelompok atau masyarakat tidak sejalan. Konflik yang diatasi tanpa kekerasan sering menghasilkan situasi yang lebih baik. Karena itu konflik tetaplah beguna, apalagi merupakan bagian dari keberadaan kita.

Konflik timbul karena ketidakseimbangan antara hubungan-hubungan: kesenjangan status sosial, kemakmuran tidak merata, kekuasaan yang tidak seimbangan yang menimbulkan masalah: diskriminasi, pengangguran, kemiskinan, penindasan, kejahatan. Konflik terjadi dalam skop luas maupun skop kecil seperti dalam keluarga: Siksaan terhadap anak dan kekerasan dalam rumah tangga.

c.       Jika konflik selalu ada, berarti konflik itu memang sebenarnya dibutuhkan. Ada benyak manfaat konflik, antara lain: membuat orang menyadari adanya banyak masalah, mendorong kearah perubahan yang diperlukan, memperbaiki solusi, menumbuhkan semangat, mempercepat perkembangan pribadi, menambah kepedulian diri, mendorong kedewasaan psikologis dan menimbulkan kesenangan.

Jika tidak ada konflik, banyak orang akan menjadi kerdil karena kekurangan stimulasi. Berbaga kelompok atau organisasi akan mendek atau mati, dan masyarakat akan runtuh karena beban merea sendiri yang tidak mampu beradaptasi dengan berbagai keadaan yang berubah dan juga perubahan hubungan kekuasaan yang terjadi.

d.      Mengintensifkan konflik.
Mengintensifkan konflik kadang memang perlu. Misalnya ketika orang-orang hidup makmur dan memiliki kekuatan dan sumber daya cukup untu memenuhi keperluan hidupnya, mereka tida memperhatikan, atau menolak untuk mengaui, bahwa banya orang lain miskin atau tersisih. Dalam hal ini konflik perlu diundang atau dimunculkan sehingga perubahan-perubahan yang memang diperlukan bisa terjadi.

e.       Tipe konflik.
Konflik dibedakan atas 2 sumbu: sasaran dan peri laku. Maka kita mengenal 4 tipe konflik:
1.      Tanpa konflik: Dalam kesan umum adalah lebih baik. Namun setiap kelompok masyarakat yang hidup damai, jika ereka ingin agar keadaan ini terus berlangsung, mereka harus hidup bersemangat dan dinamis, memanfaatan konflik perilaku dan sasaran, serta mengelola konflik secara kreatif.
2.      Konflik laten. Sifatnya tersembunyi dan perlu diangkat ke permuaan sehingga dapat ditangani secara afaktif.
3.      Konflik terbuka: yang berakar dalam dan sangat nyata, dan memperlukan berbagai tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan berbagai efeknya.
4.      Konflik di permukaan memilii akar yang dangkal atau tidak barakar dan muncul hanya karena kesalahan pahaman mengenai sasaran, yang dapt diatasi dengan meningkatkan komunikasi.

f.       Menekan konflik.
Jika suatu konflik ditekan, masalah-masalah baru akan muncul di masa depan. Konflik itu sendiri bisa menjadi bagian dari solusi suatu masalah. Konflik berubah menjadi kekerasan jika:
·         Saluran dialog dan wadah untuk mengungkapkan perbedaan pendapat tidak memadai.
·         Suara-suara ketidakkesepakatan dan keluhan-keluhan yang terpendam tudak didengar dan diatasi.
·         Banyak ketidakstabilan, ketidakadilan dan katakutan dalam masyarakat yang lebih luas.

Trauma dan kepedihan yang dialami di masa lalu, sering diremehkan: seperti pengalaman pribadi dan pengalamankoletif tentang kepedihan, kehilangan, esakitan dan mungkin kekkerasan; ini sering menjadi penghalang dalam menangani konflik “keluarkan balok di matamu dulu, supaya bisa mengeluarkan selumbar di mata orang kata Yesus ….(Mat 7:3; Luk 6:41).


g.      Teori-teori mengenai penyebab koflik.
1.      Teori hubungan masyarakat: konflik disebabkan oleh polaritas yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan yang terjadi antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat. Sasaran yang mau dicapai teori ini:
·         Meningkatkan komunikasi dan saling pengertian antara kelompok-kelompok yang mengalami konflik.
·         Mengusahalkan toleransi dan agar masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang ada di dalamnya.

2.      Teori negosiasi prinsip: konflik disebabkan oleh posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik. Sasaran yang mau dicapai teori ini:
·         Membantu pihak-pihak yang mengalami konflik untu memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah dan isu, dan memampukan mereka untuk melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan-kepentingan mereka daripada posisi tertentu yang sudah tetap.
·         Melancarkan proses pencapaian kesepakatan yang menguntungan kedua belah pihak atau semua pihak.

3.      Teori kebutuhan manusia: beramsumsi bahwa konflik yang berakar dalam disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia-fisik, mental dan sosial yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi dan otonomi sering merupakan inti pembicaraan. Sasaran yang mau dicapai tori ini adalah:
·         Membantu pihak-pihak yang mengalami konflik untuk mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi dan menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.
·         Agar pihak-pihak yang mengalami konflik mencapai kesepakatan untuk memenuhi kebutuhan dasar semua pihak.
4.      Teori identitas: konflik disebabkan karena identitas yang teramcam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak terselesaikan. Sasaran yang mau dicapai teori ini adalah :
·         Melaui fasilitasi loka karya dan dialog antara pihak-pihak yang mengalami konflik mereka diharapkan dapat mengidentifikasi ancaman-ancaman dan ketautan yang mereka rasakan masing-masing dan untuk membangun simpati dan rekonsialisasi di antara mereka.
·         Meraih kesepakatan bersama yang mengakui kebutuhan identitas pokok semua pihak.

5.      Teori kesalah pahaman anrata budaya: konflik disebaban oleh ketidak cocokan dalam cara-cara kominikasi di antara berbagai budaya yang berbeda. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah:
·         Menambah pengetahuan pihak-pihak yang mengalami konflik mengenai budaya pihak lain.
·         Mengurangi stereotip negatif yang mereka miliki tentang pihak lain.
·         Meningkatkan keefektifan komunikasi antara budaya.
6.      Teori tranformasi konflik: konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah-masalah sosial, budaya dan ekonomi. Sasaran yang ingin dicapai:
·         Mengubah berbagai struktur dan kerangka kerja yang menimbulkan ketidak setaraan dan ketidak adilan, termasuk kesenjangan ekonomi.
·         Meningkatkan jalinan hi\ubungan dan sikap jangka panjang di antara pihak-pihak yang mengalami konflik.
·         Mengembangkan berbagai proses dan sistem untu mempromosikan pemberdayaan, keadilan, perdamaian, pengampunan, rekonsialisasi dan pengakuan.
 Langkah-langkah menangani konflik.
= Langkah pertama dan terpenting ke arah kemampuan menangani konflik dengan baik adalah mencermati aneka reaksi kita sendiri yang bersifat spontan dan seringkali tidak kita sadari terhadap konflik,serta akibat-akibat dari reaksi itu terhadap orang lain.

Mari kita merefleksikan pertanyaan berikut ini:
a.Dalam aneka konflik keluarga yang saya alami
·         Bagaimana biasanya cara saya menanggapinya?
·         Dari mana pola-pola tanggapan itu berasal (keluarga,teman-teman,pengalaman hidup)?
·         Bagaimana akibat tanggapan itu terhadap orang lain/keluargaku?
b.Saat saya menangani konflik dalam keluarga
·         Tanggapan-tanggapan seperti apa dari pihak saya yang justru menghambat anggota keluarga yang bertikai?
·         Tanggapan seperti apa dari pihak saya yang bisa menolong?
 c.Bila saya sebagai juru damai
·         Nilai-nilai hidup apa saja yang memperkuat saya untuk menjadi seorang juru damai?Dari manakah nilai-nilai hidup ini berasal?
·         Bersediakah saya mengubah cara-cara tingkah laku saya bersifat destruktif?
·         Bagaimana statergi saya supaya bisa mengubah tingkah laku saya? (bdk, Ronald S.Kraybil, Panduan Mediator, Kanisius, hlm. 37-38).

= kejujuran dan keinginan bersama untuk bisa keluar dari konflik berkepanjangan Langkah kedua adalah mengambil tindakan. Penting sekali di sini menjaga kenetralan tanpa memihak. Tetapi di dalam konflik orang tua anak, boleh dikatakan tidak ada pihak ketiga yang menjadi mediasi. Yang diharapkan di sana hanyalah dengan saling terbuka, saling mengerti, saling menerima, saling mengalah, saling memaafkan dan saling mengampuni.

Menyikapi konflik dalam keluarga:
1.      Perlu disadari konflik itu tidak bebas dari kehidupan kita/ada di mana-mana.
2.      Konflik itu kebutuhan kita
3.      Konflik itu positif tidak selamanya negatif
4.      Menikah berarti berani masuk dalam konflik
5.      Masuk di dalam dunia peerkawinan dan keluarga berarti siap menerima kritikan
6.      Perlu menumbuh kembangkan budaya saling menerima dan saling memaafkan
7.      Perlu ada keterbukaan. Berdiam atau mendiami konflik merusakkan diri sendiri, orang lain dan keluarga.

8.            Kesimpulan
Konflik itu pasti selalu ada. Dan konflik itu dibutuhkan untuk suatu perubahan. Hal yang sama berlaku di dalam kehidupan keluarga. Pasti kita sering kali berbenturan dengan anak kita. Keluarga Kudus Nazareth saja pernah konflik, apalagi keluarga kita. Kunci dalam setiap konflik adalah cara menyikapinya. Konflik tidak selalu merugikan malah sering bermanfaat. Konflik jangan dipandang sebagai musuh tetapi sahabat perjalanan keluarga. Mari kita meneladani keluarga kudus di dalam menyikapi dan mencari jalan keluarga dalam menghadapi konflik di dalam keluarga kita.

Langkah-langkah menangani konflik.
a.       langkah pertama dan terpenting ke arah kemampuan menangani konflik dengan baik adalah mencermati aneka reaksi kita sendiri yang bersifat spontan dan seringkali tidak kita sadari terhadap konflik,serta akibat-akibat dari reaksi itu terhadap orang lain.

Mari kita merefleksikan pertanyaan berikut ini:
2)      Dalam aneka konflik keluarga yang saya alami
·         Bagaimana biasanya cara saya menanggapinya?
·         Dari mana pola-pola tanggapan itu berasal (keluarga,teman-teman,pengalaman hidup)?
·         Bagaimana akibat tanggapan itu terhadap orang lain/keluargaku?
3)      Saat saya menangani konflik dalam keluarga
·    Tanggapan-tanggapan seperti apa dari pihak saya yang justru menghambat anggota keluarga yang bertikai?
·         Tanggapan seperti apa dari pihak saya yang bisa menolong?
4)      Bila saya sebagai juru damai
·        Nilai-nilai hidup apa saja yang memperkuat saya untuk menjadi seorang juru damai?Dari manakah nilai-nilai hidup ini berasal?
·         Bersediakah saya mengubah cara-cara tingkah laku saya bersifat destruktif?
·   Bagaimana statergi saya supaya bisa mengubah tingkah laku saya? (bdk, Ronald S.Kraybil, Panduan Mediator, Kanisius, hlm. 37-38).

b.      kejujuran dan keinginan bersama untuk bisa keluar dari konflik berkepanjangan Langkah kedua adalah mengambil tindakan. Penting sekali di sini menjaga kenetralan tanpa memihak. Tetapi di dalam konflik orang tua anak, boleh dikatakan tidak ada pihak ketiga yang menjadi mediasi. Yang diharapkan di sana hanyalah dengan saling terbuka, saling mengerti, saling menerima, saling mengalah, saling memaafkan dan saling mengampuni.

9.            Kesimpulan
Konflik itu pasti selalu ada. Dan konflik itu dibutuhkan untuk suatu perubahan. Hal yang sama berlaku di dalam kehidupan keluarga. Pasti kita sering kali berbenturan dengan anak kita. Keluarga Kudus Nazareth saja pernah konflik, apalagi keluarga kita. Kunci dalam setiap konflik adalah cara menyikapinya. Konflik tidak selalu merugikan malah sering bermanfaat. Konflik jangan dipandang sebagai musuh tetapi sahabat perjalanan keluarga. Mari kita meneladani keluarga kudus di dalam menyikapi dan mencari jalan keluarga dalam menghadapi konflik di dalam keluarga kita.