Minggu, 12 Februari 2012

Jumat Agung


Pada hari ini, waktu Kristus, domba kurban kita dikurbankan, Gereja merenungkan Sengsara Tuhan dan Mempelainya dan menyembah Salib-Nya; dalam pada itu ia merenungkan asal-usulnya dari luka sisi Kristus yang wafat pada salib dan berdoa bagi keselamatan seluruh dunia. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 58)

Menurut tradisi kuno pada hari ini Gereja tidak merayakan Ekaristi; komuni suci dibagikan kepada kaum beriman hanya selama perayaan Sengsara dan Wafat Kristus, tetapi mereka yang sakit yang tak dapat mengikuti perayaan ini, dapat menerimanya pada setiap saat. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 59)

Jumat Agung di seluruh Gereja harus dijalani sebagai hari tobat, dan puasa serta pantang diwajibkan. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 60)

Perayaan sakramen-sakramen pada hari ini juga dilarang keras, kecuali sakramen tobat dan orang sakit. Pemakaman diadakan tanpa nyanyian, orgel dan lonceng. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 61)

Dianjurkan pada hari ini merayakan ibadat bacaan dan ibadat pagi dalam gereja bersama jemaat (bdk.no.40). (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 62)

Perayaan Sengsara dan Wafat Kristus diadakan siang menjelang jam 15.00. Karena alasan pastoral dapat ditentukan waktu lain, yang memudahkan umat berkumpul, misalnya langsung setelah siang atau petang, tetapi tidak sesudah jam 21.00. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 63)

Tata perayaan Sengsara dan Wafat Kristus yang berasal dari tradisi kuno Gereja, (yakni: ibadat Sabda, penghormatan salib, perayaan komuni) harus diadakan dengan tepat dan setia, dan tak boleh diubah sesukanya. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 64)

Imam dan asistennya pergi dengan diam ke altar, tanpa nyanyian. Bila perlu diadakan pengantar, hendaknya hal ini diadakan sebelum imam masuk. Imam dan asistennya tunduk di depan altar dan menelungkupkan diri. Ritus ini khas bagi Jumat Agung dan hendaknya dipertahankan, baik karena sikap rendah hati pantas bagi manusia, maupun mengungkapkan kedukaan Gereja. Kaum beriman berdiri selama masuknya imam dan setelahnya berlutut dan hening sejenak dalam doa. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 65)

Bacaan yang tersedia harus dibacakan lengkap. Nyanyian tanggapan dan nyanyian sebelum Injil dinyanyikan seperti biasanya. Kisah Sengsara menurut Yohanes dinyanyikan atau dibacakan seperti pada Minggu Palma (bdk. no. 33). Setelah Kisah Sengsara ada homili yang diakhiri dengan keheningan doa sejenak. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 66)

Doa permohonan hendaknya dilaksanakan menurut teks dan bentuk yang berasal dari tradisi kuno dengan segala intensi, karena mengacu kepada daya universal sengsara Kristus, yang tergantung pada kayu salib untuk keselamatan seluruh dunia. Dalam keadaan darurat berat Ordinaris wilayah dapat memperkenankan atau memerintahkan doa khusus tambahan. Dari jumlah doa permohonan yang disediakan Buku Misa, imam dapat memilih yang paling sesuai dengan keadaan setempat. Tetapi urutan doa permohonan hendaknya dipertahankan, yakni selalu mendahulukan kepentingan umum. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 67)

Untuk pengangkatan salib hendaknya cukup besar dan indah; salah satu dari kedua bentuk yang disediakan dalam buku Misa dapat dipilih. Ritus ini hendaknya dibawakan dengan meriah, sesuai dengan misteri penebusan kita: baik seruan pada pengangkatan salib maupun jawaban umat harus dinyanyikan, dan keheningan penuh hormat setelah ketiga kali berlutut jangan diabaikan, sementara imam sambil berdiri menjunjung salib. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 68)

Salib harus disajikan kepada setiap orang beriman untuk dihormati, karena penghormatan pribadi adalah unsur hakiki perayaan ini; hanya bila nadir jemaat yang amat besar, ritus penghormatan bersama dapat dilaksanakan. Hanya satu salib disediakan untuk dihormati, karena dituntut kesejatian tanda. Pada penghormatan salib dinyanyikan antifon, improperia dan madah, yang mengingatkan sejarah keselamatan dalam bentuk lirik; tetapi dapat juga diambil nyanyian lain yang sesuai. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 69)

Imam menyanyikan pengantar doa Bapa Kami, yang kemudian dinyanyikan oleh semua. Salam damai tak dipakai. Komuni dilaksanakan seperti diatur dalam Buku Misa. Sementara komuni dibagikan, dapat dinyanyikan mazmur 22(21) atau nyanyian lain yang sesuai. Setelah pembagian komuni, bejana dengan hosti yang lebih dibawa ke tempat yang disediakan di luar gereja. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 70)

Setelah perayaan altar dilucuti, tetapi salib dan keempat kandelar dibiarkan. Dalam gereja dapat disediakan tempat bagi salib (misalnya di kapel, di mana pada hari Kamis Putih Sakramen Mahakudus disimpan), di mana kaum beriman menghormatinya dan mengucupnya dan meluangkan waktu untuk merenung. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 71)

Kegiatan kesalehan rakyat, misalnya Jalan Salib, prosesi sengsara atau kebaktian terhadap Santa Perawan Maria yang berduka, janganlah diabaikan karena alasan pastoral, tetapi teks dan nyanyiannya hendaknya sesuai dengan liturgi. Waktu untuk kebaktian itu hendaknya ditetapkan sedemikian rupa, sehingga tak mengganggu ibadat utama, sehingga menjadi jelas bahwa perayaan liturgi jauh lebih penting daripada kebaktian itu. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 72)

Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Perayaan Paskah dan Persiapannya. Seri Dokumen Gerejawi no 71. Diterbitkan oleh Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

Kamis Putih


Dengan Misa petang Kamis Putih "Gereja mengawali Trihari Suci Paskah dan memperingati Perjamuan Malam Terakhir; pada malam Kristus dikhianati, karena cinta akan orang-orangnya yang di dunia, Ia mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya dalam rupa roti dan anggur kepada Bapa dan para Rasul sebagai makanan dan minuman dan menugaskan mereka serta para penggantinya dalam imamat, juga memper-sembahkannya sebagai kurban". (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 44)

Perhatian sepenuhnya harus diberikan kepada misteri-misteri yang peringatannya dirayakan dalam Misa ini: pengadaan ekaristi dan imamat serta perintah kasih persaudaraan; itulah yang juga harus menjadi bahan homili hari ini. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 45)

Misa Perjamuan Malam Terakhir dirayakan petang hari, pada waktu yang paling sesuai untuk partisipasi seluruh jemaat. Semua imam dapat berkonselebrasi dalam Misa petang, juga bila mereka pada hari ini telah berkonselebrasi dalam Misa krisma atau karena alasan pastoral harus merayakan Misa lain. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 46)

Bila dituntut keadaan pastoral, Ordinaris wilayah dapat memperkenankan Misa petang kedua di gereja-gereja dan kapel-kapel umum. Bagi kaum beriman yang tak dapat mengambil bagian dalam Misa petang, ia dapat, bila perlu, memperkenankan Misa juga pagi hari. Misa demikian itu tak pernah boleh diperkenankan untuk orang perorangan atau kelompok-kelompok kecil atau mempengaruhi partisipasi Misa utama petang hari. Menurut tradisi kuno Gereja pada hari ini semua Misa tanpa jemaat dilarang. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 47)

Sebelum perayaan tabernakel harus kosong sama sekali. Hosti untuk komuni kaum beriman harus dikonsekrir dalam perayaan kurban ini. Jumlah hosti yang harus dikonsekrir harus cukup juga untuk komuni pada Jumat Agung. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 48)

Untuk menyimpan Sakramen Mahakudus harus dipersiapkan kapel dan dihias dengan pantas yang mengundang untuk doa dan meditasi; dianjurkan suatu kesederhanaan .yang sesuai dengan hari-hari ini, sedangkan semua penyelewengan harus dihindari. Bila tabernakel berada dalam kapel tersendiri yang terpisah dari ruang utama gereja, dianjurkan menyediakan tempat penyimpanan dan penyembahan di situ. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 49)

Sementara "Gloria" dinyanyikan, lonceng-lonceng dibunyikan, bila lazim, dan setelah itu hening sampai Gloria di malam Paskah, kecuali jika ditentukan lain oleh Konferensi Waligereja atau Uskup setempat. Selama waktu itu juga orgel dan alat musik lain hanya boleh dipakai untuk mendukung nyanyian. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 50)

Pada hari ini sesuai dengan tradisi diadakan pencucian kaki pada pria-pria yang terpilih; maksudnya ialah untuk menunjukkan semangat pelayanan dan kasih Kristus yang datang, "tidak untuk dilayani, melainkan untuk melayani". Kebiasan ini hendaknya dipertahankan dan maksudnya diterangkan kepada kaum beriman. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 51)

Untuk persembahan dapat diadakan sumbangan bagi kaum miskin, terutama bila dikumpulkan selama masa Prapaskah sebagai buah matiraga; dalam pada itu orang menyanyi "Ubi caritas est vera". (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 52)

Amat layaklah pada hari ini para diakon, akolit atau pembantu komuni menyambut komuni langsung dari altar, pada saat komuni, untuk kemudian membawanya kepada orang sakit, agar mereka ini lebih erat dihubungkan dengan Gereja yang merayakan. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 53)

Setelah doa penutup diadakan prosesi. Sakramen Mahakudus dibawa melalui gereja ke tempat penyimpanan; pembawa salib terdepan, diikuti pembawa lilin dan dupa; Madah "Pange lingua" atau nyanyian ekaristis lain dinyanyikan. Pemindahan Sakramen Mahakudus tidak dilaksa-nakan, bila keesokan harinya pada Jumat Agung tidak diadakan perayaan Sengsara dan Wafat Kristus. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 54)

Sakramen Mahakudus ditempatkan dalam tabernakel yang kemudian ditutup. Pentakhtaan dengan monstrans tak diperkenankan. Tempat penyimpanan tak boleh berbentuk "makam suci"; hendaknya juga dihindari ungkapan "makam suci"; tempat penyimpanan tidak dimaksudkan untuk menunjukkan pemakaman Tuhan, melainkan untuk menyimpan hosti suci untuk komuni pada Jumat Agung. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 55)

Kaum beriman hendaknya diajak untuk setelah Misa Kamis Putih mengadakan adorasi malam di hadapan Sakramen Mahakudus dalam gereja. Dalam pada itu dapat dibacakan sebagian dari Injil Yohanes (bab 13-17). Adorasi ini setelah tengah malam tanpa upacara, karena hari Sengsara Tuhan sudah mulai. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 56)

Setelah Misa altar ditutupi. Salib-salib bila mungkin diselubungi dengan kain merah atau ungu, bila tidak sudah terjadi Sabtu sebelum Minggu Prapaskah ke 5. Di depan gambar para Kudus tak boleh dinyalakan lilin. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 57)

Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Perayaan Paskah dan Persiapannya. Seri Dokumen Gerejawi no 71. Diterbitkan oleh Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

Trihari Suci


Gereja merayakan misteri terbesar penebusan manusia setiap tahun pada trihari yang berlangsung dari Misa Perjamuan Malam Terakhir pada Kamis Putih sampai dengan ibadat sore Minggu Paskah. Kurun waktu ini selayaknya bernama: "Trihari Penyaliban, Pemakaman dan Kebangkitan Kristus"42; juga disebut "Trihari Paskah", karena di dalamnya dipentaskan dan diwujudkan misteri Paskah, artinya, peralihan Tuhan dari dunia ini kepada Bapa. Oleh perayaan misteri ini, dalam tanda liturgis dan sakramental Gereja disatukan secara mesra dengan Kristus, Mempelainya. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 38)

Puasa Prapaskah pada kedua pertama hari-hari ini adalah puasa suci; Gereja berpuasa, menurut tradisi kuno, "karena mempelainya diambil daripadanya". Pada Jumat Agung puasa dan pantang harus diadakan di mana-mana; juga dianjurkan untuk meneruskannya pada Sabtu Paskah, sehingga Gereja dengan hati gembira dan terbuka mencapai sukacita Kebangkitan Tuhan. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 39)

Pada Jumat Agung dan Sabtu Paskah ibadat bacaan dan ibadat pagi hendaknya dirayakan terbuka bersama jemaat. Uskup hendaknya, bila mungkin, mengambil bagian di dalamnya bersama klerus dan umat. Ibadat ini, dulu disebut "Tenebrarum" harus mendapat tempat yang pantas dalam kesalehan kaum beriman; di dalamnya mereka hendaknya merenungkan dalam suasana doa Sengsara, Wafat dan Pemakaman Tuhan dan menantikan pewartaan Kebangkitan-Nya. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 40)

Untuk merayakan Trihari Paskah itu sepantasnya, diperlukan jumlah yang sesuai petugas dan putra altar yang harus diajar dengan tepat mengenai tugasnya. Para gembala harus menerangkan kepada kaum beriman makna dan jalannya perayaan semendalam mungkin dan mengantar mereka untuk mengambil bagian secara aktif dan rohani. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 41)

Nyanyian umat, demikian pula nyanyian imam dan petugas lainnya dalam perayaan Pekan Suci, khususnya Trihari Suci, amat bermakna, karena sesuai kemeriahan hari-hari ini menyanyikan teks yang dengan demikian dapat mengembangkan seluruh maknanya. Konferensi Waligereja diminta - bila belum terjadi - untuk menyediakan lagu untuk bagian-bagian yang harus selalu dibawakan dengan lagu, yakni:
  1. Doa permohonan pada Jumat Agung; eventual juga seruan diakon dan jawaban umat;
  2. Nyanyian pengangkatan dan penghormatan salib;
  3. Aklamasi prosesi lilin Paskah dan Madah Paskah, aleluya sesudah bacaan, litani dan aklamasi pemberkatan air baptis.
Teks liturgi nyanyian umat janganlah mudah diabaikan; terjemahannya ke dalam bahasa urriat harus disertai lagu. Selama teks liturgi dalam bahasa umat belum disertai lagu, hendaknya dipilih teks-teks serupa. Hendaknya disediakan sejumlah nyanyian untuk perayaan ini yang dipakai hanya untuk perayaan ini. Isinya terutama:
  1. Nyanyian pada pemberkatan dan prosesi Palma dan masuk ke gereja;
  2. Nyanyian prosesi dengan minyak-minyak suci;
  3. Nyanyian prosesi persembahan dalam Misa Perjamuan Malam Terakhir Kamis Putih dan Madah untuk pemindahan Sakramen Mahakudus;
  4. Tanggapan atas mazmur tanggapan dalam perayaan Malam Paskah dan nyanyian untuk pemercikan air suci.
Pantaslah juga Kisah Sengsara, Madah Paskah dan pemberkatan air baptis disertai lagu yang mempermudah menyanyikan teks-teks itu. Dalam gereja agak besar juga harus ditimba dari kekayaan musik Gereja lama dan baru; dalam pada itu hendaknya selalu ada kesempatan partisipasi umat. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 42)


Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Perayaan Paskah dan Persiapannya. Seri Dokumen Gerejawi no 71. Diterbitkan oleh Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

Misa Krisma


Misa krisma, yang dirayakan Uskup bersama presbiterium, krisma suci dan minyak-minyak lain diberkati, harus menjadi ungkapan kebersamaan para imam dengan Uskup dalam satu imamat Kristus. Para imam dari semua kawasan Keuskupan harus diundang menghadiri Misa ini dan mengadakan konselebrasi bersama Uskup; mereka harus berfungsi sebagai saksi dan pembantu pada pemberkatan krisma, seperti mereka melaksanakan pelayanan sehari-hari sebagai rekan-rekan Uskup dan penasihatnya.
Juga kaum beriman hendaknya diundang untuk mengambil bagian dalam Misa ini dan menyambut ekaristi.
Menurut tradisi Misa Krisma diadakan pada Kamis Putih. Tetapi bila klerus dan umat pada hari ini sulit berkumpul sekitar Uskup, pemberkatan dapat dimajukan pada hari lain, yang harus dekat Paskah. Krisma dan minyak katekumen yang baru akan dipakai pada Malam Paskah untuk sakramen inisiasi. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 35)

Misa Krisma dirayakan hanya satu kali karena maknanya bagi kehidupan Keuskupan; harus di katedral, atau karena alasan pastoral dalam suatu gereja lain yang penting. Minyak-minyak suci harus diterima di paroki-paroki atau sebelum Misa Perjamuan Malam Terakhir atau pada waktu lain yang sesuai. Hal ini bermanfaat untuk mengajar kaum beriman tentang penggunaan krisma dan minyak lain serta dayanya dalam kehidupan kaum kristiani. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 36)

Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Perayaan Paskah dan Persiapannya. Seri Dokumen Gerejawi no 71. Diterbitkan oleh Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

Minggu Palma


Pekan Suci mulai pada Minggu Palma, yang menghubungkan perayaan kemenangan Kristus Raja dengan pewartaan penderitaan-Nya. Pengaitan kedua aspek misteri Paskah ini harus menjadi jelas dalam perayaan dan katekese. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 28)

Sejak dahulu kala masuknya Kristus ke Yerusalem diperingati dalam prosesi meriah. Dengan ini kaum kristiani menjalani peristiwa ini dan menyertai Tuhan, seperti anak-anak Ibrani yang menyongsong-Nya dan menyerukan "Hosana". Dalam setiap gereja hanya boleh diadakan satu kali prosesi, sebelum Misa, yang dihadiri kebanyakan kaum beriman; boleh juga Misa sore, Sabtu atau Minggu. Kaum beriman berkumpul dalam gereja samping atau di tempat lain yang pantas di luar gereja, yang menjadi tujuan prosesi, dan membawa ranting palma atau ranting lain dan mendahului umat. Ranting-ranting itu diberkati untuk dibawa dalam prosesi. Kaum beriman dapat menyimpan ranting-ranting itu di rumah; mereka diingatkan akan kemenangan Kristus yang mereka rayakan dalam prosesi Palma. Para gembala janganlah mengabaikan apa pun untuk mempersiapkan prosesi demi penghormatan Kristus Raja, dan merayakannya agar juga menghasilkan buah rohani dalam kehidupan kaum beriman. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 29)

Untuk perayaan masuknya Kristus ke Yerusalem di samping prosesi meriah yang telah dilukiskan di atas, dalam Buku Misa disediakan dua bentuk lain, yang dapat dipakai bila prosesi karena aneka alasan tidak mungkin; tetapi jangan dipakai karena memilih kemudahan. Bentuk kedua ialah masuk meriah, bila tak dapat dilaksanakan prosesi di luar gereja. Bentuk ketiga ialah masuk biasa, yang diadakan dalam semua Misa Minggu ini, yang tidak didahului masuk meriah. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 30)

Di mana tidak dapat diadakan Misa, dianjurkan untuk pada petang sebelumnya atau pada saat yang pantas pada hari Minggu mengadakan perayaan Sabda dengan tema masuknya Kristus sebagai Almasih dan penderitaan-Nya36. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 31)

Selama prosesi hendaknya dinyanyikan oleh paduan suara dan umat nyanyian yang disediakan dalam Buku Misa seperti Mazmur 24 (23) dan 47 (46), atau nyanyian lain untuk menghormati Kristus Raja. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 32)

Kisah sengsara Tuhan dibawakan dengan meriah. Dianjurkan untuk membacakan atau menyanyikannya secara tradisional oleh tiga orang, yang mengambil alih peran Kristus, Penginjil dan umat. Harus dibawakan oleh para Diakon atau imam, atau, bila tidak ada, oleh lektor; dalam hal ini peran Kristus dikhususkan bagi imam. Pada pewartaan kisah sengsara ini tidak dinyalakan lilin; dupa, salam bagi umat dan penandaan buku tidak diadakan; hanya para diakon sebelumnya mohon berkat imam, seperti pada Injil37. Karena manfaat rohani kaum beriman kisah sengsara dibawakan seutuhnya dan bacaan-bacaan sebelumnya tak boleh dilewati. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 33)

Setelah pembacaan kisah sengsara harus diadakan homili. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 34)

Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Perayaan Paskah dan Persiapannya. Seri Dokumen Gerejawi no 71. Diterbitkan oleh Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

Senin, 06 Februari 2012

Jangan Hanya Jatuh Cinta, Tapi Bangunlah Cinta

oleh Rosa E Mawaty


Mengapa orang menikah?
Karena mereka jatuh cinta.
Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia?
Apakah karna jatuh cinta?
Bukan!!!
Tapi karena mereka terus bangun cinta.
Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa.
Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup.
Mengapa jatuh cinta gampang?
Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita.

Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yg bisa ditutupi lagi.
Dengan interaksi 24 jam per hari, 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap..

Disini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta.
Jatuh cinta dalam keadaan menyukai.
Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel.
Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik dalam memahami konflik dan bersama-sama mencari solusi yang dapat diterima semua pihak.
Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg-uneg/ ganjalan dalam hatinya, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah sex..
Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut-larut.

Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan.
Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai.
Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah bukan surga lagi tapi neraka.
Apakah kondisi ini bisa diperbaiki?
Tentu saja bisa, saat masing-masing mengingat komitmen awal mereka dulu apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup.
Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan??

Mencari teman hidup/ pasangan hidup memang dimulai dengan jatuh cinta.
Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta.
Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab.
Mau punya pasangan hidup? Jatuh cintalah. Tetapi sesudah itu bangunlah cinta.
Bagaimana caranya membangun cinta?
Setiap kita atau pasangan kita tentunya ingin menjadi pendamping yang baik bagi pasangannya.
Nah, apakah selama ini kita sudah menyempatkan diri untuk membenahi sikap agar dapat menjadi pendamping yang dibutuhkan oleh pasangan kita?
Cobalah lakukan beberapa cara berikut dalam membangun cinta, agar hubungan dengan pasangan jadi lebih solid.
Jika selama ini Anda merasa telah memperlakukan pasangan dengan buruk, di bawah ini ada beberapa cara yang bisa membantu Anda memperbaikinya.
Kuncinya sederhana saja dalam membangun cinta! Jika Anda ingin menjadi yang terbaik bagi orang lain, Anda pun harus belajar menjadi yang terbaik bagi diri sendiri.

1. Jangan Remehkan Diri Sendiri
Jangan pernah mengatakan Anda bukan yang terbaik bagi pasangan. Sekarang bagaimana dapat dihargai jika Anda sendiri tidak berusaha untuk menaikkan harga diri Anda sendiri. Satu hal, jangan pernah menyalahkan diri sendiri atas kesalahan di masa lalu karena hal tersebut dapat menghambat Anda untuk mencoba sesuatu yang baru dan menghambat keberhasilan Anda di masa yang akan datang.
Bebaskan dirimu dari belenggu masa lalu. Hiduplah hari ini tuk menciptakan masa depan yg lebih baik. Miliki hati, jadikan berarti.

2. Landasi Hubungan dengan Kejujuran
Tidak ada satupun hubungan yang sukses jika dibangun dengan kebohongan.
Sekali pun pasangan tidak pernah mencari tahu kebenarannya ucapan atau tindakan Anda, namun kebohongan bisa mempengaruhi hubungan Anda berdua.

3. Lakukan Hal yang Membahagiakan
Coba ingat, berapa kali Anda melakukan hal yang Anda tak sukai hanya untuk menyenangkan atau membahagiakan pasangan. Padahal, jika Anda menyadari, setiap kali Anda melakukan cara itu, sebagian cinta Anda untuk pasangan telah mati.

4. Jangan Pernah Mengecilkan Pasangan
Setiap orang pernah berbuat salah dalam hidupnya dan setiap orang bekerja pada ritme yang berbeda.
Jika Anda selalu menghabiskan waktu untuk mengomeli pasangan hanya karena masalah sepele yang menurut Anda keliru, bagaimana Anda dapat mengharapkan pasangan melakukan sesuatu yang benar.

5. Jangan Batalkan yang Telah Anda Janjikan
Kepercayaan sangat penting bagi setiap hubungan.
Jika Anda telah menjanjikan sesuatu kemudian Anda batalkan secara sepihak, pasangan pun akan sulit mempercayai Anda kembali.

6. Ciptakan Keromantisan
Salah satu indikator kegagalan hubungan adalah kurangnya romantisme. Memang tak semua manusia diciptakan memiliki sifat romantis yang tinggi. Namun untuk mempertahankan hubungan, romantisme sebenarnya bisa dipelajari. Tak harus dengan bunga untuk menunjukkan keromantisan Anda. Sekadar kecupan yang spontan juga dapat dimasukkan ke dalam kategori romantis.

7. Selalu Ada Bagi Pasangan
Tidak ada yang lebih penting dalam hidup Anda selain bisa menjalani hidup bersama pasangan.
Teman bisa datang dan pergi, tetapi pasangan akan selalu bersama Anda untuk seluruh perjalanan hidup.
Jika pasangan sedang memiliki masalah atau memerlukan Anda, tidak ada cara lain, Anda harus berada di sampingnya.

8. Komunikasi (Ada waktu berbicara & Ada waktunya mendengarkan)
Ini merupakan salah satu kunci utama untuk mendapatkan hubungan yang langgeng.
Tak ada masalah yang tak terselesaikan jika didasari dengan komunikasi. Bicarakan segala hal yang menyangkut hubungan Anda berdua, mulai masalah uang hingga urusan-urusan yang lain.
Dan ingat beri waktu pasangan Anda untuk berbicara dan Anda mau menjadi pendengar yang baik.
Niscaya, takkan ada ganjalan di dalam perjalanan Anda.

9. Perlakukan Pasangan Dengan Sopan
Panggilah namanya dengan sopan. Janga berteriak, apalagi jika di hadapan banyak orang. Jangan pula perlakukan pasangan dengan tidak baik, melebihi cara Anda memperlakukan teman baik Anda. Junjung tinggi keberadaannya di mana saja Anda berada.

10. Hormati dan Jaga Perasaannya
Baik pada masa pacaran maupun sudah menikah kita wajib mengormati pasangan kita, bahkan dengan menghargai sesuatu yang pasangan kita berbuat itu adalah salah satu cara menjaga perasaan pasangan kita.
Jadi, hormati dia sebagai pasangan hidup Anda dan jangan bongkar kejelekannya di hadapan keluarga apalagi teman-teman Anda.
Kuncinya, seburuk apapun pasangan di mata Anda, tapi ia harus tetap menjadi yang terbaik di hadapan orang lain.

"Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan."
"Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia."
"Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada diantara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu."
"Demikian juka kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu tidak terhalang." (bdk. Kol 3:18-19, 1 Ptr 3:1,2&7)

Sahabat, Jatuh Cintalah kemudian bangunlah Cinta sebab:

Cinta bukanlah sebuah permainan.
Cinta adalah perpaduan dua hati yg saling berjanji, meski pernah tersakiti, cinta tak akan pergi.

Cinta adalah ketika kamu temukan seseorang yang bahkan tak sesuai dengan yang kamu impikan, tapi kamu tetap berkata, "akhirnya aku menemukanmu"

Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.

Ketulusan cinta dan kasih sayang tidak dapat dilihat atau didengar, tetapi hanya bisa dirasakan dengan hati.

MENCINTAI bukan bagaimana kamu MELIHAT tapi bagaimana MERASAKAN.
Bukan bagaimana kamu MENDENGAR tapi bagaimana MENGERTI.

Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita...

Ketika kamu tulus mencinta, kamu akan lakukan apapun tuk melihatnya bahagia, bahkan jika itu berarti mengorbankan kebahagiaanmu juga.

Dalam cinta, meski kamu harus menunggu lama, percayalah bahwa cinta pasti membawamu ke tempat kamu seharusnya berada.

Dalam cinta, temukan dia yang tak takut mengakui bahwa dia merindukanmu. Dia yang tahu kamu tak sempurna, tapi memperlakukanmu dengan sempurna.

Cinta menumbuhkan kebahagiaan dalam kebersamaan,
Kerinduan saat terpisah,
Kegalauan dalam ketidak-jelasan,
Kepedihan karena ketidak-setiaan,
Kenangan pada masa lalu, dan
Harapan pada masa depan

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan.
Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan.
Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat

Ketika kamu tulus mencinta, tak akan pernah ada kata menyerah.
Meski pikiran ingin berputus asa, namun hati tetap ingin mencoba.

Bukti terbaik dari cinta adalah kepercayaan
Suatu hubungan tanpa rasa percaya, bukanlah 2 hati yg saling cinta, tapi hanya 2 orang yg menghabiskan waktu bersama.

Kesungguhan Cinta dan ketulusan cinta tidak akan luntur hanya dengan keegoisan semata.

Menjadi sangat dicintai oleh seseorang memberi Anda kekuatan, sementara mencintai seseorang secara mendalam memberi Anda keberanian.

Jika sedang putus cinta janganlah mengangap dia telah mengecewakan dan meningalkanmu, tapi anggaplah dia adalah seorang yang tak pantas bagimu.

Ketika dia yg kamu cinta mengatakan bahwa kamu tak cukup baik baginya, kamu harus menyadari hidupmu jauh lebih baik jika tanpanya.

Jangan berpikir kamu tak mampu hidup tanpa dia yg meninggalkanmu.
Percayalah, ada seseorang yang lebih baik menunggu tuk buatmu bahagia.

Banyak hal dalam hidup ini yg bisa membahagiakanmu, namun tak ada yang lebih bahagia daripada cinta dari seseorang yg kamu cintai.

Nikmatilah cinta dengan kasih putih, Maka akan lahir cinta sejati.

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, kerana bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir selamanya.

Cintai seseorang bukan karena siapa dirinya, tapi karena siapa dirimu ketika bersamanya.

Dan ingat!!!

"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya." (bdk. 2 KORINTUS 6:14)