Minggu, 12 Februari 2012

Trihari Suci


Gereja merayakan misteri terbesar penebusan manusia setiap tahun pada trihari yang berlangsung dari Misa Perjamuan Malam Terakhir pada Kamis Putih sampai dengan ibadat sore Minggu Paskah. Kurun waktu ini selayaknya bernama: "Trihari Penyaliban, Pemakaman dan Kebangkitan Kristus"42; juga disebut "Trihari Paskah", karena di dalamnya dipentaskan dan diwujudkan misteri Paskah, artinya, peralihan Tuhan dari dunia ini kepada Bapa. Oleh perayaan misteri ini, dalam tanda liturgis dan sakramental Gereja disatukan secara mesra dengan Kristus, Mempelainya. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 38)

Puasa Prapaskah pada kedua pertama hari-hari ini adalah puasa suci; Gereja berpuasa, menurut tradisi kuno, "karena mempelainya diambil daripadanya". Pada Jumat Agung puasa dan pantang harus diadakan di mana-mana; juga dianjurkan untuk meneruskannya pada Sabtu Paskah, sehingga Gereja dengan hati gembira dan terbuka mencapai sukacita Kebangkitan Tuhan. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 39)

Pada Jumat Agung dan Sabtu Paskah ibadat bacaan dan ibadat pagi hendaknya dirayakan terbuka bersama jemaat. Uskup hendaknya, bila mungkin, mengambil bagian di dalamnya bersama klerus dan umat. Ibadat ini, dulu disebut "Tenebrarum" harus mendapat tempat yang pantas dalam kesalehan kaum beriman; di dalamnya mereka hendaknya merenungkan dalam suasana doa Sengsara, Wafat dan Pemakaman Tuhan dan menantikan pewartaan Kebangkitan-Nya. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 40)

Untuk merayakan Trihari Paskah itu sepantasnya, diperlukan jumlah yang sesuai petugas dan putra altar yang harus diajar dengan tepat mengenai tugasnya. Para gembala harus menerangkan kepada kaum beriman makna dan jalannya perayaan semendalam mungkin dan mengantar mereka untuk mengambil bagian secara aktif dan rohani. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 41)

Nyanyian umat, demikian pula nyanyian imam dan petugas lainnya dalam perayaan Pekan Suci, khususnya Trihari Suci, amat bermakna, karena sesuai kemeriahan hari-hari ini menyanyikan teks yang dengan demikian dapat mengembangkan seluruh maknanya. Konferensi Waligereja diminta - bila belum terjadi - untuk menyediakan lagu untuk bagian-bagian yang harus selalu dibawakan dengan lagu, yakni:
  1. Doa permohonan pada Jumat Agung; eventual juga seruan diakon dan jawaban umat;
  2. Nyanyian pengangkatan dan penghormatan salib;
  3. Aklamasi prosesi lilin Paskah dan Madah Paskah, aleluya sesudah bacaan, litani dan aklamasi pemberkatan air baptis.
Teks liturgi nyanyian umat janganlah mudah diabaikan; terjemahannya ke dalam bahasa urriat harus disertai lagu. Selama teks liturgi dalam bahasa umat belum disertai lagu, hendaknya dipilih teks-teks serupa. Hendaknya disediakan sejumlah nyanyian untuk perayaan ini yang dipakai hanya untuk perayaan ini. Isinya terutama:
  1. Nyanyian pada pemberkatan dan prosesi Palma dan masuk ke gereja;
  2. Nyanyian prosesi dengan minyak-minyak suci;
  3. Nyanyian prosesi persembahan dalam Misa Perjamuan Malam Terakhir Kamis Putih dan Madah untuk pemindahan Sakramen Mahakudus;
  4. Tanggapan atas mazmur tanggapan dalam perayaan Malam Paskah dan nyanyian untuk pemercikan air suci.
Pantaslah juga Kisah Sengsara, Madah Paskah dan pemberkatan air baptis disertai lagu yang mempermudah menyanyikan teks-teks itu. Dalam gereja agak besar juga harus ditimba dari kekayaan musik Gereja lama dan baru; dalam pada itu hendaknya selalu ada kesempatan partisipasi umat. (Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis art. 42)


Litterae Circulares De Festis Paschalibus Praeparandis et Celebrandis diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Perayaan Paskah dan Persiapannya. Seri Dokumen Gerejawi no 71. Diterbitkan oleh Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar