Kamis, 10 November 2011

Menyikapi Konflik

a.      Memahami Konflik.
Masyarakat memiliki perspektif atau pandangan ayang berbeda tentang hidup dan masalahnya. Misalnya:
1.      Kita masing-masing memilii sejarah dan karakter yang unik.
2.      Kita masing-masing dilahirkan dalam satu carahidup tertentu.
3.      Kita masing-masing memiliki nilai-nilai, yang memandu pikiran dan perilaku kita serta motivasi kita dalam mengambil tindakan tertentu dan menolak tindakan lainnya.

Perbedaan-perbedaan ini lah yang sering kali menimbulkan konflik. Namun sesunggguhnya perbedaan itu bila dilihat dengan kacamata suatu masalah dan memperbaiki situasi yang sedang dihadapi.
b.      Konflik dan kekerasan adalah dua hal yang berbeda:
·         Konflik adalah hubungan antara 2 pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan.
·         Kekerasan meliputi tindakan, perkataan, sikap, berbagai struktur atau sistem yang menyebankan kerusankan secara fisik, mental dan social atau lingkungan dan atau menghalangi seseorang untuk meraih potensinya secara penuh.

Konflik adalah satu kenyataan hidup, tidak terhindarkan dan sering bersifat kreatif. Konflik terjadi ketika tujuan kelompok atau masyarakat tidak sejalan. Konflik yang diatasi tanpa kekerasan sering menghasilkan situasi yang lebih baik. Karena itu konflik tetaplah beguna, apalagi merupakan bagian dari keberadaan kita.

Konflik timbul karena ketidakseimbangan antara hubungan-hubungan: kesenjangan status sosial, kemakmuran tidak merata, kekuasaan yang tidak seimbangan yang menimbulkan masalah: diskriminasi, pengangguran, kemiskinan, penindasan, kejahatan. Konflik terjadi dalam skop luas maupun skop kecil seperti dalam keluarga: Siksaan terhadap anak dan kekerasan dalam rumah tangga.

c.       Jika konflik selalu ada, berarti konflik itu memang sebenarnya dibutuhkan. Ada benyak manfaat konflik, antara lain: membuat orang menyadari adanya banyak masalah, mendorong kearah perubahan yang diperlukan, memperbaiki solusi, menumbuhkan semangat, mempercepat perkembangan pribadi, menambah kepedulian diri, mendorong kedewasaan psikologis dan menimbulkan kesenangan.

Jika tidak ada konflik, banyak orang akan menjadi kerdil karena kekurangan stimulasi. Berbaga kelompok atau organisasi akan mendek atau mati, dan masyarakat akan runtuh karena beban merea sendiri yang tidak mampu beradaptasi dengan berbagai keadaan yang berubah dan juga perubahan hubungan kekuasaan yang terjadi.

d.      Mengintensifkan konflik.
Mengintensifkan konflik kadang memang perlu. Misalnya ketika orang-orang hidup makmur dan memiliki kekuatan dan sumber daya cukup untu memenuhi keperluan hidupnya, mereka tida memperhatikan, atau menolak untuk mengaui, bahwa banya orang lain miskin atau tersisih. Dalam hal ini konflik perlu diundang atau dimunculkan sehingga perubahan-perubahan yang memang diperlukan bisa terjadi.

e.       Tipe konflik.
Konflik dibedakan atas 2 sumbu: sasaran dan peri laku. Maka kita mengenal 4 tipe konflik:
1.      Tanpa konflik: Dalam kesan umum adalah lebih baik. Namun setiap kelompok masyarakat yang hidup damai, jika ereka ingin agar keadaan ini terus berlangsung, mereka harus hidup bersemangat dan dinamis, memanfaatan konflik perilaku dan sasaran, serta mengelola konflik secara kreatif.
2.      Konflik laten. Sifatnya tersembunyi dan perlu diangkat ke permuaan sehingga dapat ditangani secara afaktif.
3.      Konflik terbuka: yang berakar dalam dan sangat nyata, dan memperlukan berbagai tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan berbagai efeknya.
4.      Konflik di permukaan memilii akar yang dangkal atau tidak barakar dan muncul hanya karena kesalahan pahaman mengenai sasaran, yang dapt diatasi dengan meningkatkan komunikasi.

f.       Menekan konflik.
Jika suatu konflik ditekan, masalah-masalah baru akan muncul di masa depan. Konflik itu sendiri bisa menjadi bagian dari solusi suatu masalah. Konflik berubah menjadi kekerasan jika:
·         Saluran dialog dan wadah untuk mengungkapkan perbedaan pendapat tidak memadai.
·         Suara-suara ketidakkesepakatan dan keluhan-keluhan yang terpendam tudak didengar dan diatasi.
·         Banyak ketidakstabilan, ketidakadilan dan katakutan dalam masyarakat yang lebih luas.

Trauma dan kepedihan yang dialami di masa lalu, sering diremehkan: seperti pengalaman pribadi dan pengalamankoletif tentang kepedihan, kehilangan, esakitan dan mungkin kekkerasan; ini sering menjadi penghalang dalam menangani konflik “keluarkan balok di matamu dulu, supaya bisa mengeluarkan selumbar di mata orang kata Yesus ….(Mat 7:3; Luk 6:41).


g.      Teori-teori mengenai penyebab koflik.
1.      Teori hubungan masyarakat: konflik disebabkan oleh polaritas yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan yang terjadi antara kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat. Sasaran yang mau dicapai teori ini:
·         Meningkatkan komunikasi dan saling pengertian antara kelompok-kelompok yang mengalami konflik.
·         Mengusahalkan toleransi dan agar masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang ada di dalamnya.

2.      Teori negosiasi prinsip: konflik disebabkan oleh posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konflik. Sasaran yang mau dicapai teori ini:
·         Membantu pihak-pihak yang mengalami konflik untu memisahkan perasaan pribadi dengan berbagai masalah dan isu, dan memampukan mereka untuk melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan-kepentingan mereka daripada posisi tertentu yang sudah tetap.
·         Melancarkan proses pencapaian kesepakatan yang menguntungan kedua belah pihak atau semua pihak.

3.      Teori kebutuhan manusia: beramsumsi bahwa konflik yang berakar dalam disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia-fisik, mental dan sosial yang tidak terpenuhi atau dihalangi. Keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi dan otonomi sering merupakan inti pembicaraan. Sasaran yang mau dicapai tori ini adalah:
·         Membantu pihak-pihak yang mengalami konflik untuk mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi dan menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.
·         Agar pihak-pihak yang mengalami konflik mencapai kesepakatan untuk memenuhi kebutuhan dasar semua pihak.
4.      Teori identitas: konflik disebabkan karena identitas yang teramcam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa lalu yang tidak terselesaikan. Sasaran yang mau dicapai teori ini adalah :
·         Melaui fasilitasi loka karya dan dialog antara pihak-pihak yang mengalami konflik mereka diharapkan dapat mengidentifikasi ancaman-ancaman dan ketautan yang mereka rasakan masing-masing dan untuk membangun simpati dan rekonsialisasi di antara mereka.
·         Meraih kesepakatan bersama yang mengakui kebutuhan identitas pokok semua pihak.

5.      Teori kesalah pahaman anrata budaya: konflik disebaban oleh ketidak cocokan dalam cara-cara kominikasi di antara berbagai budaya yang berbeda. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah:
·         Menambah pengetahuan pihak-pihak yang mengalami konflik mengenai budaya pihak lain.
·         Mengurangi stereotip negatif yang mereka miliki tentang pihak lain.
·         Meningkatkan keefektifan komunikasi antara budaya.
6.      Teori tranformasi konflik: konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah-masalah sosial, budaya dan ekonomi. Sasaran yang ingin dicapai:
·         Mengubah berbagai struktur dan kerangka kerja yang menimbulkan ketidak setaraan dan ketidak adilan, termasuk kesenjangan ekonomi.
·         Meningkatkan jalinan hi\ubungan dan sikap jangka panjang di antara pihak-pihak yang mengalami konflik.
·         Mengembangkan berbagai proses dan sistem untu mempromosikan pemberdayaan, keadilan, perdamaian, pengampunan, rekonsialisasi dan pengakuan.
 Langkah-langkah menangani konflik.
= Langkah pertama dan terpenting ke arah kemampuan menangani konflik dengan baik adalah mencermati aneka reaksi kita sendiri yang bersifat spontan dan seringkali tidak kita sadari terhadap konflik,serta akibat-akibat dari reaksi itu terhadap orang lain.

Mari kita merefleksikan pertanyaan berikut ini:
a.Dalam aneka konflik keluarga yang saya alami
·         Bagaimana biasanya cara saya menanggapinya?
·         Dari mana pola-pola tanggapan itu berasal (keluarga,teman-teman,pengalaman hidup)?
·         Bagaimana akibat tanggapan itu terhadap orang lain/keluargaku?
b.Saat saya menangani konflik dalam keluarga
·         Tanggapan-tanggapan seperti apa dari pihak saya yang justru menghambat anggota keluarga yang bertikai?
·         Tanggapan seperti apa dari pihak saya yang bisa menolong?
 c.Bila saya sebagai juru damai
·         Nilai-nilai hidup apa saja yang memperkuat saya untuk menjadi seorang juru damai?Dari manakah nilai-nilai hidup ini berasal?
·         Bersediakah saya mengubah cara-cara tingkah laku saya bersifat destruktif?
·         Bagaimana statergi saya supaya bisa mengubah tingkah laku saya? (bdk, Ronald S.Kraybil, Panduan Mediator, Kanisius, hlm. 37-38).

= kejujuran dan keinginan bersama untuk bisa keluar dari konflik berkepanjangan Langkah kedua adalah mengambil tindakan. Penting sekali di sini menjaga kenetralan tanpa memihak. Tetapi di dalam konflik orang tua anak, boleh dikatakan tidak ada pihak ketiga yang menjadi mediasi. Yang diharapkan di sana hanyalah dengan saling terbuka, saling mengerti, saling menerima, saling mengalah, saling memaafkan dan saling mengampuni.

Menyikapi konflik dalam keluarga:
1.      Perlu disadari konflik itu tidak bebas dari kehidupan kita/ada di mana-mana.
2.      Konflik itu kebutuhan kita
3.      Konflik itu positif tidak selamanya negatif
4.      Menikah berarti berani masuk dalam konflik
5.      Masuk di dalam dunia peerkawinan dan keluarga berarti siap menerima kritikan
6.      Perlu menumbuh kembangkan budaya saling menerima dan saling memaafkan
7.      Perlu ada keterbukaan. Berdiam atau mendiami konflik merusakkan diri sendiri, orang lain dan keluarga.

8.            Kesimpulan
Konflik itu pasti selalu ada. Dan konflik itu dibutuhkan untuk suatu perubahan. Hal yang sama berlaku di dalam kehidupan keluarga. Pasti kita sering kali berbenturan dengan anak kita. Keluarga Kudus Nazareth saja pernah konflik, apalagi keluarga kita. Kunci dalam setiap konflik adalah cara menyikapinya. Konflik tidak selalu merugikan malah sering bermanfaat. Konflik jangan dipandang sebagai musuh tetapi sahabat perjalanan keluarga. Mari kita meneladani keluarga kudus di dalam menyikapi dan mencari jalan keluarga dalam menghadapi konflik di dalam keluarga kita.

Langkah-langkah menangani konflik.
a.       langkah pertama dan terpenting ke arah kemampuan menangani konflik dengan baik adalah mencermati aneka reaksi kita sendiri yang bersifat spontan dan seringkali tidak kita sadari terhadap konflik,serta akibat-akibat dari reaksi itu terhadap orang lain.

Mari kita merefleksikan pertanyaan berikut ini:
2)      Dalam aneka konflik keluarga yang saya alami
·         Bagaimana biasanya cara saya menanggapinya?
·         Dari mana pola-pola tanggapan itu berasal (keluarga,teman-teman,pengalaman hidup)?
·         Bagaimana akibat tanggapan itu terhadap orang lain/keluargaku?
3)      Saat saya menangani konflik dalam keluarga
·    Tanggapan-tanggapan seperti apa dari pihak saya yang justru menghambat anggota keluarga yang bertikai?
·         Tanggapan seperti apa dari pihak saya yang bisa menolong?
4)      Bila saya sebagai juru damai
·        Nilai-nilai hidup apa saja yang memperkuat saya untuk menjadi seorang juru damai?Dari manakah nilai-nilai hidup ini berasal?
·         Bersediakah saya mengubah cara-cara tingkah laku saya bersifat destruktif?
·   Bagaimana statergi saya supaya bisa mengubah tingkah laku saya? (bdk, Ronald S.Kraybil, Panduan Mediator, Kanisius, hlm. 37-38).

b.      kejujuran dan keinginan bersama untuk bisa keluar dari konflik berkepanjangan Langkah kedua adalah mengambil tindakan. Penting sekali di sini menjaga kenetralan tanpa memihak. Tetapi di dalam konflik orang tua anak, boleh dikatakan tidak ada pihak ketiga yang menjadi mediasi. Yang diharapkan di sana hanyalah dengan saling terbuka, saling mengerti, saling menerima, saling mengalah, saling memaafkan dan saling mengampuni.

9.            Kesimpulan
Konflik itu pasti selalu ada. Dan konflik itu dibutuhkan untuk suatu perubahan. Hal yang sama berlaku di dalam kehidupan keluarga. Pasti kita sering kali berbenturan dengan anak kita. Keluarga Kudus Nazareth saja pernah konflik, apalagi keluarga kita. Kunci dalam setiap konflik adalah cara menyikapinya. Konflik tidak selalu merugikan malah sering bermanfaat. Konflik jangan dipandang sebagai musuh tetapi sahabat perjalanan keluarga. Mari kita meneladani keluarga kudus di dalam menyikapi dan mencari jalan keluarga dalam menghadapi konflik di dalam keluarga kita.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar